Wenger pada hari Kamis (22/10/2009) kemarin merayakan hari jadinya yang ke-60. Beberapa refleksi dirinya dituangkan dalam situs Arsenal, klub yang ia tangani dalam 13 tahun terakhir.
"Tidak, belum saatnya aku berhenti. Kalau suatu hari nanti aku tidak melakukannya lagi, maka aku tidak melihat kenapa aku harus punya masalah."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wenger muda adalah mantan pemain berposisi bek tengah. Hanya tiga tim yang pernah ia bela, semuanya di Prancis, yakni Mulhouse, ASPV Strasbourg dan RC Strasbourg. Ia juga tidak pernah lulus ke timnas negaranya, sampai gantung sepatu di tahun 1981, di usia 32 tahun.
Setelah itu ia mulai mengambil diploma kepelatihan dan memulai karirnya sebagai seorang ahli taktik lapangan hijau. Nancy menjadi klub pertama yang ia tangani (1984-1987), lalu berturut-turut melatih AS Monaco (1987-1994) dan Nagoya Grampus Eight (1995-1996).
Monaco adalah awal polesan tangannya dinilai berbakat. Ia satu kali memenangi Ligue 1 (1988) dan runner up Piala Winners (1992). Di klub itu pula ia pernah merekrut pemain-pemain top seperti Glenn Hoddle, George Weah, Juergen Klinsmann, dan Youri Djorkaeff.
Bayern Munich kabarnya sempat mendekati dia untuk bekerja di Bavaria, tapi Monaco tidak rela. Wenger kemudian memilih Jepang sebagai negeri asing pertamanya dan menukangi Grampus Eight selama satu musim, sebelum pada September 1996 dipinang Arsenal, menggantikan Bruce Rioch yang dipecat.
Dan cerita tentang segala kehebatan pria kelahiran 22 Oktober 1949 itu pun dimulai -- dan semua orang di dunia sudah tahu di mana level kapasitasnya.
"Pelajaran terbesar dalam hidupku adalah sikap kaku. Disiplin, disiplin dan disiplin lagi," tutur bapak satu anak yang beristrikan seorang mantan atlet basket bernama Annie BrosterhousΒ itu.
"Aku telah belajar bahwa tak seorang pun punya kemampuan yang cukup untuk hidup sendirian. Takkan berhasil dan hidup tanpa bekerja keras tidaklah sampai ke mana-mana."
Wenger dijuluki "Profesor" karena berbagai alasan. Selain tampangnya identik dengan seorang "pemikir", ia adalah sarjana elektro, master di bidang ekonomi dari Universitas Strasbourg. Dia juga piawai berbahasa Prancis, Jerman, Spanyol dan Inggris, juga cukup bagus ngomong Italia dan Jepang.
"Aku juga belajar soal kerendahan hati. Kadang-kadang Anda berpikir bahwa di umur 40 tahun Anda sudah tahu semuanya. Tapi aku menyadari, semua orang bisa benar dalam sepakbola. Seseorang yang tidak bekerja pun bisa mengatakan sesuatu yang benar-benar bodoh, dan mereka bisa saja benar," tandas Wenger.
Bon anniversaire, Monsieur Arsene. (a2s/arp)











































