Ambisi Sir Alex Ferguson ketika ditunjuk menjadi manajer United adalah memukul jatuh Liverpool dari singgasananya. Pria asal Skotlandia itu akhirnya berhasli melakukannya setelah bertahun-tahun, melalui berbagai pergantian skuad, pesaing, hingga pemilik klub.
Liverpool sendiri tak bisa berbuat banyak. Musim lalu, mereka masih bisa bernafas lega rekor mereka tak terlampaui setelah Chelsea tampil sebagai juara. Tapi, musim ini, The Reds lebih banyak berkutat dengan performa sendiri yang jeblok hingga pertengahan musim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Setan Merah' tak meraih gelar juara dengan mudah. Performa tandang yang kerap turun-naik ditambah banyaknya hasil seri yang ditelan. Namun demikian, performa rival juga sama turun-naiknya. Tengok catatan imbang-kalah yang dimiliki Chelsea dan City: delapan kali imbang dan sembilan kali kalah.
Di sisi lain, Arsenal juga kehilangan cengkraman ketika musim memasuki masa krusial. Usai mengalahkan United 1-0 pada awal Mei, The Gunners tak pernah lagi meraih kemenangan. Arsene Wenger punya pekerjaan rumah untuk membenahi skuad, terutama di lini belakang yang dinilai rapuh--Arsenal adalah yang paling banyak kebobolan (43 gol) dari empat klub penghuni zona Liga Champions musim ini.
Apa pun, para pendukung United kini punya sesuatu untuk diteriakkan kepada pendukung Liverpool. "Au revoir (Eric) Cantona and Man. United.. Come back when you've won 18," bunyi spanduk di Anfield suatu ketika. Pendukung The Red Devils kini tahu harus membalas spanduk itu dengan ucapan apa.
City Bersiap Bangkit
Berbicara soal spanduk, di Old Trafford juga ada spanduk yang mengolok-olok City dengan menyinggung kapan terakhir kali The Citizens memenangi sebuah trofi. Di spantuk tersebut, terpampang jelas angka 34--menuju 35--yang menandakan sebagai tahun puasa gelar City. Terakhir kali City memenangi trofi adalah pada 1976 ketika mereka memenangi Piala Liga.
Kini pendukung City sah-sah saja jika ingin menurunkan spanduk tersebut. Puasa gelar tersebut berakhir dengan kemenangan di final Piala FA dengan menundukkan Stoke City 1-0. Ironis bagi United, jalan City untuk mengakhiri puasa gelar itu dilakukan dengan menggebuk 'Setan Merah' di babak semifinal.
Catatan City makin lengkap dengan lolosnya mereka ke Liga Champions musim depan. Sebagai informasi, ini adalah pertama kalinya mereka berhasil melaju ke kompetisi tertinggi antarklub Eropa tersebut.
City boleh berterimakasih kepada Roberto Mancini atau Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, sang pemilik dengan kekuatan finansial seperti tak berbatas. Dengan suntikan dana yang melimpah, mereka bisa membeli pemain mana pun dengan harga mahal. Sebuah sukses dengan jalan pintas, tapi hasilnya untuk saat ini setidaknya sepadan.
Dengan bertambahnya agenda untuk musim depan, City disinyalir bakal kembali mendatangkan pemain baru. Bagusnya untuk mereka, keberhasilan menjuarai Piala FA musim ini plus tampil di Liga Champions menjadikan klub yang bermarkas di City of Manchester Stadium ini punya posisi tawar bagus.
Pemain kini tak hanya diiming-imingi gaji besar, tetapi juga ditawarkan kesempatan untuk bermain di kompetisi antarklub paling top di Eropa. Bukan tak mungkin mereka bisa mendapatkan tangkapan besar pada musim panas ini.
(roz/a2s)











































