Sebagai pemain, Roberto Di Matteo pernah terbilang cukup sukses untuk Chelsea. Sejak akhir musim lalu ia telah kembali, tapi kali ini duduk kursi manajer. Apa lagi yang akan ia berikan untuk The Blues?
Waktu mundur ke tahun 1997, di mana Di Matteo yang ketika itu masih berusia 26 tahun tampil memperkuat Chelsea di final Piala FA. Lawannya adalah Middlesbrough, yang waktu itu diperkuat eks penyerang Juventus, Fabrizio Ravanelli, dan bintang asal Brasil, Juninho Paulista. Beberapa malam sebelum final, Di Matteo menyempatkan diri makan malam bersama adiknya, Concetta.
Concetta, yang buta sejak kecil, kemudian mengatakan kepada Di Matteo bahwa ia yakin Chelsea bakal menjadi juara. Kelak, dalam sebuah wawancara dengan Four Four Two, Di Matteo mengatakan bahwa jika ia bisa mendapatkan satu permintaan, maka permintaan itu adalah memberikan penglihatan kepada sang adik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertandingan berlanjut dan Chelsea menang 2-0 berkat gol tambahan dari Eddie Newton. Concetta hadir bersama orang tua mereka di stadion dan Di Matteo pun mempersembahkan kemenangan itu untuknya.
"Ketika bolanya masuk ke dalam gawang, rasanya sangat luar biasa. Seberapa sering Anda melakukan tendangan seperti itu? Tidak terlalu sering!" ucap Di Matteo setelah pertandingan mengenai gol tendangan jarak jauhnya.
Waktu berlalu, dan tiga tahun setelahnya ia sukses memberikan trofi Piala FA lagi untuk Chelsea. Kali ini gol tunggalnya membuat 'Si Biru' menang 1-0 atas Aston Villa. Sampai pada masa tersebut, Di Matteo sudah mempersembahkan beberapa gelar lainnya buat Chelsea, termasuk Piala Carling 1998, Piala Winners 1998, dan Piala Super Eropa 1998. Namun, tak ada Premier League di antara trofi-trofi yang pernah diraihnya.
Musim kemarin, Di Matteo kembali ke Chelsea. Kali ini dengan status caretaker, setelah sebelumnya Andre Villas-Boas dipecat. Di Matteo sukses mempersembahkan Piala FA lagi dan sebagai puncaknya mempersembahkan trofi Liga Champions, trofi yang sudah lama diidam-idamkan pemilik Chelsea, Roman Abramovich.
"Jika musim lalu Anda bertanya kepada saya, apakah Di Matteo bisa memenangi Piala FA dan Liga Champions dengan skuat seperti itu? Saya akan mengatakan tidak," ujar mantan winger Chelsea yang kini jadi pundit di BBC, Pat Nevin. "Dia telah melakukan sesuatu lebih dari yang diekspektasikan."
Kini, kembali dengan status sebagai manajer, Di Matteo dihadapkan pada tantangan. Bisakah dia mempertahankan trofi-trofi yang diraih di musim sebelumnya? Sejak AC Milan pada 1989 dan 1990 belum pernah ada lagi tim berhasil mempertahankan trofi Liga Champions. Sementara di liga domestik, klub-klub seperti Manchester City, Manchester United, hingga Arsenal jelas tak mau kalah begitu saja dalam perburuan trofi.
Nevin kemudian mengatakan bahwa Chelsea bakal bermain dengan gaya yang berbeda musim ini. Musim kemarin, mereka tampil dengan 4-3-3, dengan gaya main power and play, anti-tesis dari Barcelona. Masalahnya, gaya main itu hanya bisa dilakukan dengan penyerang sekuat Didier Drogba di lini depan. Berikan bola banyak-banyak padanya, maka Drogba akan berkerja dengan sendirinya. Sedangkan Fernando Torres adalah tipe yang berbeda. Nevin menyebut, Torres butuh banyak pemain kreatif di sekelilingnya.
Wajar kalau kemudian nama-nama seperti Eden Hazard, Marko Marin, dan Oscar didatangkan. "Hampir semuanya bakal bergantung pada bagaimana Oscar, Marin, Hazard, dan Juan Mata berkembang," tukas Nevin.
Kini tinggal bagaimana Di Matteo meracik kemampuan-kemampuan para pemain tersebut menjadi hasil yang luar biasa di lapangan. Bisakah? Kita nantikan saja.
(roz/krs)











































