Bertandang ke Boleyn Ground, Minggu (6/4/2014) malam WIB, Liverpool kesulitan menembus pertahanan West Ham kendati akhirnya menang 2-1. Bukti paling nyata setidaknya dua gol tersebut tercipta lewat titik putih, bukan open play.
Meski mengendalikan pertandingan dengan penguasaan 64% berbanding 36%, anak asuh Brendan Rodgers dibuat kerepotan masuk ke kotak penalti. Dengan gaya bermain direct, West Ham memang dimungkinkan menumpuk pemain di daerah pertahanan sendiri sebelum kemudian melepaskan umpan-umpan panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap tim memperlakukan kami dengan berbeda. Mereka bermain sangat direct. Ini adalah sebuah laga yang berat, 90 menit yang berat. Tapi ada tekad dan karakter yang luar biasa dari skuat," ujarnya di BBC.
Sementara itu, kontroversi menyertai laga ini di mana gol West Ham tampak didahului pelanggaran oleh Andy Carrol terhadap Simon Mignolet. Hakim garis sejatinya telah mengangkat bendera, tapi tak dianggap oleh wasit Anthony Taylor.
"Manajer berkata saat turun minum bahwa kami tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi (terkait gol tersebut). Anda bisa bisa melihatnya sebagai sebuah pelanggaran jelas. Itulah sebabnya hakim garis mengangkat bendera, tapi wasit mengesampingkannya," lanjut Gerrard.
"Itu adalah kemunduran yang sangat besar untuk kami tapi kami tampil penuh tekad. Kami benar-benar menginginkan kemenangan ini dan menunjukkannya di babak kedua," tandas kapten Liverpool ini.
Sebagai catatan, dua tembakan ke gawang di babak pertama (termasuk penalti) plus satu tendangan membentur mistar. Statistik ini membaik di babak kedua dengan enam tembakan dan satu mentah di mistar.
(raw/din)











































