Mourinho dikenal sebagai peracik taktik bertangan dingin. Tetapi di sisi lain sudah beberapa kali pula ia terlibat kontroversi mulai dari mengkritik wasit sampai mencolok mata kubu lawan.
Pria Portugal yang kini menangani Chelsea tersebut juga terkenal dengan permainan kata-katanya, entah itu dalam sebuah psy war dengan kubu lawan, atau pernyataan lain nan menggelitik mengenai pelbagai hal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jamie Redknapp: Paranoid. Jenius. Pemenang.
Di atas segalanya, Jose adalah seorang pemenang. Hal itu mengalir dalam darahnya, ia tak peduli bagaimana cara meraihnya.
Ia bukan sosok yang disukai semua orang tapi Anda tak bisa membantah rekornya yang luar biasa. Ia adalah figur di balik kesuksesan dan telah memoles Chelsea dengan memeras tiap titik kemampuan para pemainnya.
Sepakola merupakan usaha tim dan semua pihak berperan, terutama para akuntan yang menjual David Luiz untuk merekrut Diego Costa, sedangkan Cesc Fabregas merupakan rekrutan terbaik.
Tetapi Jose adalah orang yang merangkai kesemuanya. Ia sudah membawa Chelsea kembali ke posisi yang mereka inginkan.
Martin Keown: Pemacu. Obsesif. Pemenang.
Dengan Jose, tiba-tiba seperti ada sebuah perang dan tidak boleh kalah.
Ia menciptakan sebuah intensitas tak tertandingi di skuatnya dan ia amat perhatian pada rincian.
Ia terobsesi dengan kemenangan dan itu terlihat dari sikapnya--ia punya cara tersendiri menghadapi tim-tim besar dan senang bermain-main dengan benak lawan-lawannya.
Ia punya misi meraih trofi sebanyak mungkin, itulah yang membuat Mourinho senang.
Ia sudah memberikan peluang timnya tumbuh di awal musim tapi kini ia sudah membawa mereka ke posisi siaga. Ada masa-masa menyenangkan di masa depan asalkan para pemain terus menerima caranya.
Jamie Carragher: Bengis. Efisien. Pemenang.
Mourinho punya tantangan berat ketika memutuskan kembali ke Chelsea.
Jika ia melewati dua musim tanpa menjuarai Premier League, Roman Abramovich bisa mulai berpikir kembali membuat perubahan. Tapi tak ada keraguan mereka akan melakukan tugas itu musim ini.
Ia lapar gelar, timnya tahu bagaimana cara menghadapi laga-laga besar, dan kombinasi itu membuat mereka tak teredam.
(krs/mfi)











































