Sebagai manajer baru Liverpool, Klopp sudah mulai menangani tim barunya itu selama sekitar 2 pekan. Mantan pelatih Mainz dan Borussia Dortmund itu pun telah menjalani partai debut dengan Liverpool dalam hasil akhir 0-0 akhir pekan lalu.
"Ia benar-benar berbeda daripada pelatih-pelatih lainnya. Ia lebih emosional dan ia akan merangkul Anda," kata Can di laman web situs resmi Liverpool.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ia senantiasa siap mengulurkan tangan dan saya menilai hal itu amatlah positif. Saya suka cara kerjanya dan itu amat pas buat saya," tuturnya.
Untuk Can, Klopp bukan sosok yang asing-asing amat. Sama-sama orang Jerman, keduanya juga pernah saling berhadapan di Bundesliga. Dari situlah Can kenal dengan racikan Klopp.
"Timnya dapat penilaian amat tinggi dan masih tetap begitu. Tidak pernah mudah melawan Dortmund karena mereka menerapkan permainan high pressing dan kompak sebagai tim. Itu jadi tak mudah," sebut Can.
"Saya gembira pelatih sehebat dirinya datang ke Liverpool dan saya berkesempatan kerja bareng dengan dirinya. Ia sudah memperlihatkan kemampuan di Dortmund dan Mainz selama bertahun-tahun," imbuhnya.
Klopp menjulang di Dortmund berkat gaya gegenpressing (counter presssing). Dalam strategi tersebut, para pemain Klopp memeragakan permainan pressing penuh sebagai satu-kesatuan segera ketika kehilangan bola. Di sini seluruh pemain akan langsung memburu bola dan secara ideal bisa merebut kembali si kulit bundar dari lawan. Tujuannya adalah demi mencegah potensi serangan balik lawan dan agar bisa langsung menguasai bola lagi. Strategi itu pun membutuhkan kesediaan para pemain untuk terus bergerak dan berlari.
"Ketika bermain sepakbola, Anda harus banyak berlari. Anda harus melakukan lebih banyak sprint dan statistik memperlihatkan kami sudah berlari lebih lama dan membuat sprint lebih banyak," ujar Can.
"Kami harus belajar bagaimana mengaturnya dalam pertandingan. Kami akan mulai melakukan hal tersebut sedari saat ini dan kami tidak punya masalah karena seluruh pemain punya tingkat kebugaran yang diperlukan. Saya pikir kami ingin terus bermain seperti ini. Kami ingin bisa terus memberikan tekanan di setiap pertandingan dan bukan cuma di satu laga saja karena ada pelatih baru."
"Tentu saja kami semua mungkin jadi lebih bersemangat karena adanya pelatih baru dan ingin unjuk kemampuan. Tetapi tujuan dari tim adalah senantiasa 100% di setiap laga dan menjalani instruksi pelatih. Kami tahu punya kualitas lebih besar dan tergantung diri kami sendiri untuk membuat peluang agar bisa sampai ke posisi untuk mencetak lebih banyak gol," tuturnya.
Dalam catatan Opta, pada pertandingannya di akhir pekan lalu Liverpool sudah membuat 614 sprint. Jumlah itu lebih banyak dari lawannya, Spurs, yang membuat total 564 sprint. Liverpool pun menjadi tim pertama yang berlari lebih banyak daripada Spurs di sebuah partai Premier League.
(krs/din)











































