Laga tersebut terjadi pada 26 September 2015. Di depan pendukungnya sendiri Leicester tunduk dengan skor telak 2-5. Itu menjadi satu-satunya kekalahan The Foxes di kandang sampai hari ini untuk ajang Liga Inggris.
The Gunners turun dengan kekuatan terbaiknya ketika itu berhasil mengeksploitasi lini belakang Leicester, yang sebelumnya gagal dilakukan tim lain. Arsene Wenger menurunkan Theo Walcot sebagai penyerang dalam laga itu, dan didukung oleh Alexis Sanchez, Mesut Oezil, dan Aaron Ramsey.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Baca juga:Β Sanchez Hat-trick, Arsenal Bungkam Leicester 5-2]
Keputusan Wenger memainkan Walcott sejak menit pertama, alih-alih Olivier Giroud yang masuk sebagai pengganti dan ikut menyumbang gol, adalah salah satu kunci keunggulan Arsenal ketika itu. Kecepatan Walcott benar-benar merepotkan bek-bek Leicester. Selain bikin satu gol, pemain depan asal Inggris itu punya akurasi umpan 92%, menciptakan dua peluang dan melakukan dua take on.
Tapi bintang Arsenal sesungguhnya dalam laga itu adalah Alexis Sanchez. Sanchez tiga kali menjebol gawang Kasper Schmeichel: yang pertama dari jarak dekat, gol kedua dengan bantuan kepala dan gol ketiga melalui tendangan jarak jauh. Sepanjang 90 menit dia melepaskan tujuh tembakan, akurasi umpan 76%, plus mengreasikan tiga kesempatan bikin gol.
Sanchez hampir dipastikan akan kembali jadi andalah Wenger di laga itu. Masalahnya, dia seperti belum kembali ke penampilan terbaik setelah absen dua bulan akibat cedera hamstring.
Dari kubu Leicester Vardy tampil impresif dengan dua gol yang dia lesakkan, dari enam percobaan. Kecepatan jadi senjata utama Vardy di laga tersebut, di mana dia tercatat dua kali melakukan take on. Sky Sports menyebut kalau Vardy lebih cepat 6 km/jam dibanding Per Mertesacker di atas lapangan. Atas pertimbangan itu bukan tidak mungkin Wenger lebih memilih Gabriel ketimbang Mertesacker untuk mengisi jantung pertahanan Arsenal bersama Laurent Koscielny. Koscielny disebut Vardy sebagai salah satu bek tertangguh yang pernah dia hadapi.
Juga ikut berperan dalam kekalahan Leicester ketika itu adalah performa buruk Riyad Mahrez. Dia tercatat kehilangan bola 26 kali, lebih banyak dari seluruh pemain yang ada di atas lapangan ketika itu.
"Sulit menghadapi tim yang bermain dengan satu-dua sentuhan. Itu hal yang mustahil, saat Anda menekan mereka mengalirkan bola dengan sangat cepat. Kualitas pemain Arsenal ada di level yang sangat tinggi," sahut Ranieri usai kalah.
Berbicara materi tim, Arsenal tetap lebih baik dibanding Leicester. Itu artinya The Gunners, yang didukung pendukungnya sendiri, punya potensi besar merepotkan tamunya.
Tapi kondisi Arsenal dan Leicester lima bulan lalu dan di akhir pekan ini sudah jauh berbeda. Ranieri sejak pergantian tahun berhasil memperbaiki lini belakangnya. Leicester cuma kemasukan dua gol dalam empat pertandingan terakhir.
Sementara Arsenal kembali ke penyakit lamanya karena gagal menjaga konsistensi. Di tahun 2016 ini Arsenal cuma dapat satu kemenangan dari enam pertandingan Premier League. Mesut Oezil yang diharapkan membantu Arsenal bersaing di perebutan juara trennya justru sedang menurun karena sama sekali belum menciptakan assist, meski sudah bikin satu gol di tahun ini.
Sejak pertemuan tersebut tersebut Arsenal dan Leicester sama-sama sudah main 18 kali di Premier League. Statistik The Gunners adalah W10 D5 L3, sementara The Foxes mencatatkan W12 D5 L1. (din/cas)










































