Burnley berhasil kembali ke Premier League setelah menjadi juara Championship musim kemarin. Ini merupakan ketiga kalinya mereka berkiprah di level teratas, setelah pada 2009/2010 dan 2014/2015 lalu.
Sebagai tim promosi dan tak punya catatan cukup apik di Premier League, Burnley tentu saja tak akan muluk-muluk. Bertahan di level teratas untuk kali pertama akan jadi target paling realistis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harus bertujuan untuk menjadi tim yang lebih baik daripada sebelumnya, dengan kualitas lebih baik, lebih terorganisir, dan itu akan memberikan sebuah peluang untuk berjuang," ungkap Garlick dikutip Burnley Express beberapa waktu lalu.
Oleh karena itu, Burnley tak lantas agresif di bursa transfer. Dengan sang bos menginginkan klub dijalankan dengan cermat dan seimbang, maka sejauh ini perekrutan pemain juga biasa-biasa saja.
Tiga pemain yang lebih dulu didapatkan adalah Jimmy Dunne (Manchester United-gratis) serta dua eks Charlton Athletic Johann Berg Gudmundsson dan Nick Pope yang nilainya tak diungkap. Belakangan mereka juga meminjam bek Liverpool Jon Flanagan.
Burnley dengan demikian akan lebih mengandalkan nama-nama yang mereka bawa dari Championship musim lalu. Mereka antara lain Tom Heaton, Michael Keane, Ben Mee, George Boyd, Scott Arfield, serta duet penyerang Andre Gray dan Sam Vokes.
Lewat kerja keras pemain-pemain inilah Burnley berhasil mencatatkan laju tak terkalahkan di 23 pertandingan terakhir musim kemarin, memetik 16 kemenangan dan tujuh kali imbang. Sepanjang musim, mereka tercatat meraih 26 kemenangan dan cuma kalah lima kali dari 46 partai.
![]() |
Berbekal rangkaian laju positif itu, Burnley bisa cukup optimistis menatap start musim. Apalagi lawannya juga tak terlalu berat, Swansea City. Rentetan hasil apik di pramusim niscaya juga akan menambah kepercayaan diri Burnley, di mana mereka tak terkalahkan pada lima laga dengan hanya sekali imbang.
Bicara misi bertahan di Premier League, duet penyerang Gray dan Vokes akan jadi harapan besar. Dua penyerang ini musim lalu memegang andil besar di lini serang mereka, mencetak 38 dari 72 gol tim.
Gray total mencetak 23 gol dalam 41 penampilan dan menjadi top skorer liga. Sementara Vokes membukukan 15 gol dari 43 penampilan. Hanya dua pemain ini yang berhasil menyentuh dua digit gol di klub.
Gray, yang baru bergabung musim kemarin, bahkan sudah membangun momentum bagus di pramusim. Penyerang 25 tahun itu sudah selalu mencetak gol di lima partai ujicoba, membukukan total delapan gol.
Gol-gol dari Gray dan Vokes tentu akan krusial bagi Burnley, mengingat untuk lolos dari jeratan degradasi butuh kemenangan, yang artinya harus menjebol gawang lawan.
Apakah Gray dan Vokes bisa menjawab harapan yang dibebankan pada mereka? Ataukah Burnley justru mampu bertahan dengan memunculkan nama lain?
(raw/krs)











































