DetikSepakbola
Selasa 24 April 2018, 13:43 WIB

Arsenal Anjlok Setelah Era Invincible, Ini Penilaian Henry

Rifqi Ardita Widianto - detikSport
Arsenal Anjlok Setelah Era Invincible, Ini Penilaian Henry Arsene Wenger akan meninggalkan Arsenal di akhir musim ini. (Foto: Shaun Botterill/Getty Images)
London - Arsenal mengukir sejarah di Inggris lewat skuat The Invincible mereka di 2003/2004. Tapi setelah itu performa The Gunners menurun dan tak mampu juara liga lagi.

Di Premier League musim 2003/2004, Arsenal tampil sebagai juara dengan laju perkasa. Mereka tak terkalahkan di 38 pertandingan, memenangi 26 laga dan berimbang di 12 lainnya.


Itu adalah gelar ketiga Arsenal dalam tujuh musim terakhir, di mana dalam empat musim lainnya mereka finis sebagai runner-up. Ironisnya, titel yang diraih di musim 2003/2004 tersebut juga menandai yang terakhir sejauh ini.

Di musim berikutnya, Arsenal finis sebagai runner-up dan kemudian menurun levelnya. Dalam 10 musim selanjutnya, skuat arahan Arsene Wenger itu empat kali finis ketiga dan enam kali finis keempat.

Arsenal kembali ke persaingan gelar di musim 2015/2016, tapi penurunan performa di tengah musim membuat mereka harus puas jadi runner-up di belakang Leicester City. Anak-anak London utara ini lantas finis kelima di musim lalu, sementara musim ini masih tertahan di urutan enam.


Setelah beberapa musim dihujani kritik dan sorotan, Arsenal akhirnya memastikan ada perubahan untuk musim depan. Arsene Wenger akan meninggalkan klub yang berarti dimulailah era baru.

Eks pemain Arsenal Thierry Henry menyesalkan kegagalan Arsenal memaksimalkan momentum saat tengah mendominasi. Terlepas dari faktor pindah stadion --dari Highbury ke Emirates-- dia menilai manajemen gagal memanfaatkan daya tarik klub saat itu untuk menjaga skuat tetap mumpuni.

"Saya selalu punya, bukan sebuah penyesalan ya karena Anda tak bisa menyesali apa yang terjadi dalam hidup mengingat itu terjadi karena sebuah alasan, yakni sedikit kekecewaan. Kami tak pernah mengambil keuntungan dari dominasi kami," kata Henry kepada Sky Sports.

"Misalnya, kami dulu adalah klub yang atraktif tapi karena kami pindah ke stadion baru dan meninggalkan Highbury, yang mana tampaknya penting dan itu harus terjadi. Kami semua paham itu tapi kami tak memaksimalkan dominasi kami."

"Kita semua bisa berspekulasi sekarang (kalau bertahan di Highbury) dan bilang 'Ya, kita akan mendominasi' tpai yang saya tahu, dan ini kenyataan, bahwa kami tak memaksimalkan dominasi saat itu. Bukan hanya itu, kami tak menambah skuat untuk menambal kehilangan,"

Sebagai perbandingan, Sky Sports mencatat Arsenal tak melakukan belanja besar di musim panas 2004 setelah juara tanpa terkalahkan. Mereka cuma menghabiskan 4,4 juta pound sterling untuk merekrut Robin van Persie, Manuel Almunia, dan Mathieu Flamini.

Sementara Manchester United saat itu mengeluarkan 40,9 juta pound untuk Wayne Rooney, Alan Smith, dan Gabriel Heinze. Chelsea yang ambisius dengan pemilik baru bahkan menghabiskan hingga 89,6 juta pound, di antaranya untuk merekrut Didier Drogba, Ricardo Carvalho, Arjen Robben, Tiago Mendes, dan Petr Cech.


Bahkan dari Juni 2004 sampai Mei 2013, Arsenal jadi satu-satunya yang untung dari bursa transfer sebesar 20 juta pound. Sementara rival-rivalnya mengukir angka fantastis: Manchester City mengukir belanja bersih sebesar 410 juta pound, Chelsea sebanyak 390 juta pound, MU mencatatkan 170 juta pound, Liverpool hingga 169 juta pound, bahkan Totteham Hotspur sebesar 92 juta pound.

"Anda kehilangan Patrick Vieira dan Robert Pires. Saya takkan menyebutkan semuanya, tapi Anda kehilangan kualitas, para pemenang, dan suara-suara pemimpin di ruang ganti," kata Henry.

"Saya paham ke mana tujuan klub saat itu dan Arsene serta klub melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk tetap menjadi klub yang saat itu. Namun kami tak memaksimalkannya dan sisanya adalah sejarah," tandasnya.
(raw/rin)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed