Ke mana mereka pergi?
Senin, 26 Sep 2005 07:01 WIB
London - Liga utama Inggris sedang dirundung duka. Stadion-stadion tiba-tiba saja melompong ditinggal penonton?Padahal sejak 13 tahun dibentuknya, menggantikan divisi satu tahun 1992, penonton selalu melimpah ruah. Klub-klub anggota divisi satu berlomba-lomba menambah tempat duduk, memperbesar stadion ataupun pindah membangun stadion yang lebih besar.Klub-klub pada pusing dan terjadilah saling tuding. Pertanyaannya apanya yang salah?Kompetisi sepakbola Inggris dengan gaya kick and rushnya sejak lama dianggap sebagai salah satu kompetisi yang paling atraktif. Orang Eropa mengakui hal ini, bahkan juga mereka yang dari Amerika Latin.Tetapi musim kompetisi ini menurut pelatih Arsenal, Arsene Wenger, gaya khas Inggris itu semakin hilang.Semua tim sekarang mencoba untuk asal tidak kemasukan, dengan memainkan formasi 4-5-1, tambah Wenger.Dengan memadati lapangan tengah dan belakang memang sulit kemasukan dan risiko berkurang, tetapi daya serang juga menjadi tumpul.Formasi ini menjadikan permainan menjemukan, begitu kira-kira kecam Wenger.Walau tidak menuding ke Jose Mourinho dan Chelseanya, namun semua orang tentunya kemudian menengok ke Jose Mourinho dan Chelsea yang memperkenalkan formasi ini. Kesuksesannya Chelsea untuk menjadi juara untuk pertamakalinya dalam 50 tahun terakhir tak pelak kemudian ditiru oleh klub-klub lain.Liverpool yang ditahun 70an dan 80an begitu berhasil memadukan gaya Eropa daratan dengan bola mengalir dari kaki ke kaki dan kick and rush gaya Inggris dan merajai Eropa, pun sekarang memakai formasi yang sama.Hasilnya? Pada lima pertandingan awal, Liverpool memasukkan sekali, dan belum pernah kemasukan hingga terakhir imbang 2-2 dengan Birmingham City.Manchester United pun sering memakai formasi yang sama. Padahal di tahun 90an banyak pemain Italia yang mengeluh kalau bermain melawan MU.Seperti diserang lebah, kata klub-klub Italia. Serangan datang dari semua lini tak ada habisnya selama 90 menit pertandingan. Kecuali dua pemain, bek Gary Neville dan penjaga gawang Peter Schemeichel, semua bisa mencetak gol. Hasilnya? Treble musim 1998/1999.Kalau yang besar saja meniru apalagi klub-klub kecil. Dan melihat statistik mungkin ada benarnya juga. Karena hingga sejauh ini, rasio gol per pertandingan sedikit menyentuh dua. Padahal sebelum-sebelumnya rata-rata 2,5 gol per pertandingan dan itu minimal.Tetapi kalangan pengamat bisnis melihat faktor lain: harga tiket yang terlalu mahal.Tiket pertandingan bola di Inggris ini kalau menonton klub besar bertanding minimal 25 poundsterling. Untuk bisa membeli tiket sesuai harga bukan di pasar gelap, setidaknya harus mempunyai apa yang disebut anggota tiket tahunan dan untuk itu harus membayar 500 poundsterling per tahun. Biasanya semakin besar klub yang didukung, semakin besar pula harga tiket tahunan itu. MU, Arsenal, Liverpool, Chelsea menarik iuran tahun antara 600 hingga 700 poundsterling per tahun.Ini belum termasuk biaya perjalanan, makan, minum dan tetek bengek lainnya. Pukul rata penonton membelanjakan 100 Poundsterling untuk setiap pertandingan. Seperempat gaji rata-rata seminggu penduduk Inggris.Kalau kedua factor tadi digabung. Nah.100 Pound untuk menonton pertandingan yang membosankan? Pantaslah kalau stadion menjadi melompong. (lom/)











































