sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Rabu, 22 Apr 2020 04:30 WIB

Newcastle, Pangeran Arab, dan Dugaan Pelanggaran HAM

Yanu Arifin - detikSport
Pangeran Mohammed bin Salman (SPA/arabnews.com) Pangeran Mohammed bin Salman. (Foto: SPA/arabnews.com)
London -

Newcastle United bakal dibeli konsorsium Arab Saudi. Pihak Premier League langsung diingatkan soal dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Arab.

Newcastle dikabarkan bakal diakuisisi konsorsium Arab, Dana Investasi Publik (PIF), yang juga dimiliki Pangeran Mohammed bin Salman. Akuisisi itu disebut bernilai 300 juta paun, atau setara Rp 5,7 triliun.

Dikabarkan, uang panjar sebesar 17 juta paun sudah dibayarkan. Kubu Mohammed bin Salman, yang juga Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, nantinya akan menguasai 80% saham The Magpies, dengan 20 persen sisanya digenggam oleh rekanan Amanda Staveley (10%) dan David dan Simon Reuben (10%).

Pembelian klub Newcastle yang bakal dilakukan pihak Arab Saudi, membuat organisasi pembela hak asasi manusia, Amnesty International, menyorotinya. Pasalnya, banyak dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan Arab.

Amnesty International menduga, banyak terjadi pelanggaran HAM di Arab. Mulai dari pemenjaraan para aktivis yang mengkritik Arab, hingga eksekusi hukuman yang kurang adil.

Dilansir Guardian, Direktur Kampanye Amnesty Internasional Inggris, Kate Allen, sudah menyurati Kepala Eksekutif Premier League, Richard Masters. Dalam kesempatan itu, Allen memperingatkan citra Liga Inggris bisa terdampak akibat dugaan pelanggaran HAM Arab.

"Selama pertanyaan-pertanyaan ini [dugaan pelanggaran HAM] tetap tidak tersentuh, Liga Premier menempatkan dirinya pada risiko menjadi pihak yang tertipu oleh mereka yang ingin menggunakan glamor dan prestise Premier League untuk menutupi tindakan yang sangat tidak bermoral, melanggar hukum internasional, dan bertentangan dengan nilai-nilai dari Premier League dan komunitas sepakbola global," tulis Allen.

"Semua bisnis perlu melindungi dari kemungkinan hubungan ke pelanggaran HAM, dan sepakbola Inggris juga demikian. Ini lebih dari sekedar transaksi finansial, ini adalah latihan membangun citra yang mengacu pada prestise Premier League dan hasrat penggemar Newcastle United."

"Apakah kesepakatan ini berjalan atau tidak, kami menyerukan staf dan penggemar Newcastle United untuk membiasakan diri dengan situasi hak asasi manusia yang mengerikan di Arab Saudi, dan bersiap untuk berbicara tentang hal itu," tulis Allen.

Newcastle atau Premier League tidak akan mengomentari pengambilalihan tersebut. Namun, Masters sempat ditanya kemungkinan pembelian tersebut pada Februari.

"Tes calon pemilik dan direktur adalah tes pribadi dan rahasia, jadi tidak mungkin saya menjelaskan apa kesimpulan dewan Premier League dalam skenario seperti itu," kata Masters.



Simak Video "Gol-gol Terbaik Liga Inggris 2019/2020, Mana Favoritmu?"
[Gambas:Video 20detik]
(yna/pur)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com