sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 20 Okt 2020 20:35 WIB

Pulisic Orang Amerika, Wajar Chelsea Kurang Menghargainya

Mohammad Resha Pratama - detikSport
LONDON, ENGLAND - OCTOBER 17: Christian Pulisic of Chelsea warms up prior to the Premier League match between Chelsea and Southampton at Stamford Bridge on October 17, 2020 in London, England. Sporting stadiums around the UK remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Mike Hewitt/Getty Images) Christian Pulisic kurang dihargai di Chelsea karena pemain Amerika Serika (Getty Images/Mike Hewitt)
Salzburg -

Kritik untuk Frank Lampard yang tidak juga mempercayai Christian Pulisic sebagai starter di Chelsea. Disebut ini karena sentimen Inggris dengan orang Amerika Serikat.

Pulisic sudah memasuki musim keduanya berseragam Chelsea. Tapi, karier Pulisic boleh dibilang naik-turun, tak cuma soal cedera tapi juga performa.

Pulisic sedari musim lalu diganggu cedera paha dan otot sehingga membuatnya sempat absen 23 pertandingan. Salah satu yang terpanjang saat dia menepi 75 hari, dari Januari hingga Maret.

Di musim ini Pulisic pun sempat absen dua bulan karena masalah hamstring yang didapat di final Piala FA lalu sehingga membuatnya baru tampil dua kali. Padahal musim lalu, mantan pemain Borussia Dortmund itu masih bisa main 25 kali dengan torehan sembilan gol serta enam assist.

Bukan statistik yang buruk bagi pemain yang baru melakoni debutnya di Chelsea. Tapi publik Inggris menilai manajer Chelsea, Frank Lampard, seperti tidak percaya sepenuhnya dengan Pulisic.

Yang ada Lampard malah memboyong pemain baru yang posisinya mirip-mirip dengan Pulisic, seperti Kai Havertz dan Hakim Ziyech. Hal ini dikatakan bos RB Salzburg, Jesse March, dikarenakan Pulisic adalah orang Amerika Serikat.

Frank Lampard dianggap tak percaya penuh dengan kemampuan Christian Pulisic untuk bersaing di Liga Inggris. Apalagi sepakbola AS memang terbilang biasa-biasa saja di Benua Eropa.

"Persepsi di Eropa kebanyakan adalah pemain Amerika itu ngotot, mau berlari, mentalnya bagus, tapi mereka tidak punya teknik bagus dan tidak paham soal taktik. Pengalaman mereka pun tidak banyak," ujar March yang juga berasal dari Amerika Serikat seperti dikutip xi

"Tapi kita lihat saat ini semuanya sudah berubah. Kita bisa melihat para pemain ini sudah berkembang pesat," sambungnya.

"Bahkan Frank Lampard, ketika saya bicara dengannya di pramusim tahun lalu, saya bicara kepadanya soal Christian Pulisic dan dia cuma bilang: 'Ya, kita lihat sajalah, dia memang potensial tapi masih harus banyak belajar'. Saya bilang kepada: 'Dengarkan, dia sudah main di Dortmund, dan mereka punya level taktik yang begitu tinggi soal cara bermain dan dia sangat sukses."

"Dia termasuk salah satu pemain muda terbaik di Jerman dan dia sejajar dengan pemain seperti Timo Werner, Kai Havertz, Joshua Kimmich. Dia ada dalam kumpulan pemain itu, bukan hanya karena talentanya, tapi juga karena dia paham taktik serta mengerti bagaimana cara beradaptasi dalam pertandingan. Cara bermainnya juga berkembang."

"Saya lihat Frank Lampard bisa seperti ini karena faktor Christian Pulisic adalah orang Amerika dan bukan soal ilmu sepakbola yang didapatnya di Jerman. Sejak itu, saya rasa Lampard mulai bisa memahami soal Pulisic," tutup March.



Simak Video "Jelang Semifinal Piala FA, Lampard Tuding MU Diuntungkan VAR"
[Gambas:Video 20detik]
(mrp/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com