sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 26 Jan 2021 19:40 WIB

Frank Lampard Dipecat Gara-gara Werner dan Havertz?

Afif Farhan - detikSport
NEWCASTLE UPON TYNE, ENGLAND - NOVEMBER 21: Frank Lampard, Manager of Chelsea interacts with Timo Werner of Chelsea during the Premier League match between Newcastle United and Chelsea at St. James Park on November 21, 2020 in Newcastle upon Tyne, England. Sporting stadiums around the UK remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Lee Smith - Pool/Getty Images) Frank Lampard Dipecat Gara-gara Werner dan Havertz? (Getty Images/Pool)
FOKUS BERITA Chelsea Pecat Lampard
London -

Frank Lampard dipecat dari kursi manajer Chelsea. Apakah mungkin salah satunya gara-gara Timo Werner dan Kai Havertz yang terus-terusan redup?

Frank Lampard cuma menukangi Chelsea selama 18 bulan. Dari 84 laga yang dilaluinya, Super Frank meraih 44 kemenangan, 23 kali kalah, dan sisanya seri.

Seharusnya, Lampard dikontrak sampai tahun 2022. Apa daya, pihak klub tampak sudah habis kesabarannya sehingga pemecatan datang juga dengan tiba-tiba.

Banner Chelsea Pecat Lampard

LONDON, ENGLAND - DECEMBER 05: Frank Lampard, Manager of Chelsea looks on as his team warms up ahead of the Premier League match between Chelsea and Leeds United at Stamford Bridge on December 05, 2020 in London, England. A limited number of fans are welcomed back to stadiums to watch elite football across England. This was following easing of restrictions on spectators in tiers one and two areas only. (Photo by Matthew Childs - Pool/Getty Images)Frank Lampard dipecat Chelsea (Getty Images/Pool)

Dilansir dari Football London, Frank Lampard sejatinya membawa perubahan baru di Chelsea kala musim pertamanya melatih di musim 2019/2020. Chelsea yang saat itu sedang dihukum larangan belanja pemain di dua bursa jendela transfer (gara-gara pembelian pemain di bawah umur), mau tak mau harus memanfaatkan pemain muda jebolan akademi.

Lampard pun menaruh kepercayaan tinggi pada pemain-pemain jebolan akademi The Blues. Mereka adalah Tammy Abraham, Mason Mount, Reece James, Fikayo Tomori, Billy Gilmour, hingga Tino Anjorin, Ian Maatsen, dan Armando Broja.

Para pemain muda Chelsea membayar impas kepercayaan Lampard. Tammy Abraham mampu mengemas 18 gol di musim pertamanya, Mason Mount jadi pemain tengah yang kuat, dan Reece James cukup matang di pos bek sayap kanan.

Billy Bilmour juga terlihat potensinya sebagai jendral lapangan. Para pemain muda Chelsea, sepertinya memang tidak jelek-jelek amat.

Buktinya, Chelsea mampu finish di peringkat keempat. Plus, mereka mampu melangkah sampai babak final Piala FA.

NORWICH, ENGLAND - AUGUST 24: Mason Mount and Tammy Abraham of Chelsea celebrates after scoring their team's second goal during the Premier League match between Norwich City and Chelsea FC at Carrow Road on August 24, 2019 in Norwich, United Kingdom. (Photo by Catherine Ivill/Getty Images)Mason Mount dan Tammy Abraham, dua jebolan akademi Chelsea yang gemilang (Catherine Ivill/Getty Images)

Menyambut musim 2020/2021, Chelsea terbebas dari hukuman larangan belanja pemain. Klub asal London ini langsung tancap gas membeli banyak pemain berbakat!

Ben Chilwell, Edouard Mendy, Thiago Silva, Timo Werner, dan Kai Havertz didatangkan. Dua nama terakhir adalah yang paling mencuri perhatian karena paling mahal!

Timo Werner dibeli dari RB Leipzig seharga 53 juta euro atau setara Rp 900 miliar. Kai Havertz dibeli dari Bayer Leverkusen seharga 80 juta euro atau setara Rp 1,3 triliun.

Mereka berdua masih muda dan begitu bersinar di Bundesliga. Werner begitu mematikan di lini serang dengan 28 gol dari 34 laga di musim lalu, serta Havertz bikin 12 gol dari 30 laga.

Sayang hingga kini keduanya melempem, seperti sulit berkembang di Chelsea.

Chelsea's Timo Werner, second right, celebrates with Chelsea's Kai Havertz after scoring his side's second goal during the English FA Cup third round soccer match between Chelsea and Morecambe at Stamford Bridge Stadium in London, Sunday, Jan. 10, 2021. (AP Photo/Matt Dunham)Timo Werner dan Kai Havertz (AP/Matt Dunham)

Timo Werner baru empat gol dari 19 laga di Liga Inggris. Havertz baru satu gol dari 16 laga.

Malah kehadiran mereka berdua harus mengobarkan para pemain akademi yang sudah bersinar seperti Tammy Abraham dan Callum Hudson-Odoi.

Sesi pramusim yang minim membuat keduanya tak punya waktu untuk cepat beradaptasi. Belum lagi, jadwal begitu padat sehingga mau tak mau mereka berdua harus bisa terus tampil fit.

Lain sisi, para petinggi Chelsea tentu sang bos, Roman Abramovich tak mau merugi melihat pemain-pemain mahalnya malah berakhir sia-sia. Khusus Roman Abramovich, disebut-sebut memang begitu kesengsem sama Werner dan Havertz.

Berkaca dari pengalaman, hal serupa pernah terjadi di Chelsea. Tentu contoh yang paling mencolok adalah kala Roman Abramovich memboyong Andriy Shevchenko di tahun 2006.

Kala itu, Chelsea sudah punya Didier Drogba sang striker tangguh. Namun karena bos suka Shevchenko, maka mau tak mau manajer saat itu Jose Mourinho tetap memainkannya.

LONDON, ENGLAND - MAY 15:  Chelsea owner Roman Abramovich is seen prior to the Barclays Premier League match between Chelsea and Leicester City at Stamford Bridge on May 15, 2016 in London, England.  (Photo by Paul Gilham/Getty Images)Roman Abramovich (Getty Images/Paul Gilham)

Maka apakah kini hal serupa sungguh seperti itu adannya, Chelsea pecat Frank Lampard karena Timo Werner dan Kai Havertz tidak bersinar terang?

(aff/krs)
FOKUS BERITA Chelsea Pecat Lampard
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com