Impian 28 Tahun 'Kaum Kecil'

Jelang Final Piala Liga

Impian 28 Tahun 'Kaum Kecil'

- Sepakbola
Kamis, 23 Feb 2006 13:01 WIB
Impian 28 Tahun Kaum Kecil
Jakarta - Wigan Athletic akan menghadapi Manchester United di final Piala Liga, Minggu (26/2/2006). Inikah saatnya impian 18 tahun "kaum kecil" kembali terwujud?Jika harus menilai siapa yang paling diunggulkan, mudah bagi kita untuk menunjuk Manchester United. Selain statusnya sebagai klub terbesar dan terkaya di Inggris, tim yang dilatih Sir Alex Ferguson itu memiliki pemain-pemain yang lebih berkelas. Pengalamannya di kompitisi domestik juga sangat meyakinkan dengan 11 gelar Piala FA, 1 Piala Liga dan 15 gelar Liga Premier.Lantas bagaimana dengan Wigan? Klub debutan Liga Premier ini masih belum "pantas" disejajarkan dengan Manchester United. Bahkan di kota Wigan, klub sepakbola bukanlah yang paling dibanggakan penduduknya. Masih kalah dengan klub rugby Wigan Warriors.Wigan awalnya adalah klub lokal amatir yang baru mendapat status di liga tahun 1978. Seorang pengusaha alat-alat olahraga bernama Dave Whelan, kemudian menanamkan investasi jutaan dolar. Dari sinilah Wigan berkembang, hingga musim ini mencapai babak final Piala Liga 2006 yang merupakan prestasi tertingginya saat ini.Whelan yang adalah mantan pemain Blackburn Rovers, memiliki ambisi yang jelas tentang Wigan. Pria yang karirnya terhenti setelah patah tulang kering di final Piala FA 1960 melawan Wolves itu, memulai rencananya dengan membangun stadion JJB Sport berkapasitas 25 ribu penonton.Perlahan-lahan stadion JJB Sport mulai terisi lembaran sejarahnya. Kemenangan 6-1 atas Carlisle musim 1934/1935 menjadi kemenangan terbesar Wigan atas lawannya di liga. Lemari tropi pun mulai terisi tahun 1985 dengan kemenangan 3-1 atas Brentford merebut Freight Rover Trophy di Wembley, dan kemudian Auto Windscreens Shield tahun 1999 dengan mengalahkan Milwall.Meski demikian, tampil di divisi utama masih menjadi mimpi bagi Wigan. Terlalu seringnya pergantian pelatih, disebut-sebut sebagai pemicunya. Sampai akhirnya tahun 2001 Whelan merekrut Paul Jewell. Suatu ketika saat latihan tim, Whelan berjanji di depan para pemainnya, bahwa dirinya tidak akan menggonta-ganti pelatih lagi.Dua tahun bertugas, Jewell berpeluang besar membawa Wigan promosi dengan prestasi tidak terkalahkan di 17 pertandingan. Namun di pertandingan perebutan tempat play-off, langkah Wigan dihentikan West Ham. Wigan kembali mencatat 17 pertandingan berturut-turut tanpa kekalahan musim lalu. Kali ini hasil tersebut cukup untuk membawa tim asuhan Jewell untuk pertama kalinya menembus kompetisi paling bergengsi di Inggris.Debutnya di Liga Premier juga sangat mengesankan, sempat bertahan di tiga besar selama dua bulan. Namun perlahan-lahan tenaga para pemainnya yang mayoritas pemain didikan sendiri, mulai tergerus meski tetap terlihat menjanjikan berada di urutan delapan besar.Sukses menekuk Manchester United di partai puncak Piala Liga akhir pekan ini tidak hanya menjadi harapan Jewel, atau Whelan atau para pemain Wigan. Tetapi lebih besar lagi yakni tim-tim kecil lainnya, yang saat ini masih memimpikan Liga Premier atau gelar di kompetisi bergengsi Inggris. Terakhir kali mimpi ini menjadi kenyataan saat klub non-liga Wimbledon menjuarai Piala FA 1988 dengan mengalahkan Liverpool 1-0.Kini setelah 28 tahun berlalu, tim-tim kecil punya kesempatan melihat impiannya terwakili. Bagi Wigan sendiri, ada makna lebih besar jika mengalahkan Manchester United. Sebab sekali lagi mereka akan menjalani pengalaman baru, bertarung di kompetisi Eropa lewat Piala UEFA.Foto: (kiri-kanan) Paul Jewell, David Whelan dan kapten Matt Jackson merayakan prestasi mereka promosi ke Liga Premier (Permierleague). (lom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads