Steve Bruce, Solskjaer, dan Medsos yang Membunuh Mereka

Yanu Arifin - Sepakbola
Rabu, 27 Okt 2021 12:00 WIB
Manchester Uniteds manager Ole Gunnar Solskjaer leaves the field at the end of the English Premier League soccer match between Manchester United and Liverpool at Old Trafford in Manchester, England, Sunday, Oct. 24, 2021. Liverpool won 5-0. (AP Photo/Rui Vieira)
Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer. (Foto: AP/Rui Vieira)
Miami -

Media sosial menjadi alat bagi para suporter melontarkan kritik kepada klubnya, khususnya manajer. Steve Bruce dan Ole Gunnar Solskjer menjadi korbannya.

Kekalahan Manchester United dari Liverpool 0-5 di Liga Inggris akhir pekan lalu membuat Solskjaer tersudut. Suporter menggaungkan tagar #OleOut agar sang manajer mundur atau klub segera memecatnya.

Berbagai unggahan, dari kalimat sindiran, cacian, hingga meme, ditujukan kepada Solskjaer usai kekalahan Liverpool.

Hal sama juga dialami Steve Bruce, yang baru dipecat Newcastle United beberapa waktu lalu. Manajer berusia 60 tahun itu mengaku tak mendapat dukungan dari penggemar, bahkan selalu diejek di media sosial.

Phil Neville, eks pemain MU yang kini melatih klub MLS Inter Miami, menyayangkan sikap suporter yang demikian. Ia menyebut apa yang dilakukan suporter sudah kelewat batas.

"Saya bermain di United saat kalah 0-5. Hal seperti ini terjadi di sepakbola. Saya pikir hal sensasional yang ada saat ini sudah di luar kontrol," kata Neville kepada Miami Herald.

"United kalah 0-5 dari Liverpool. Ya, itu memang menyakitkan. Mungkin menjadi pukulan telak buat semua yang bermain, suporter, atau yang berada di klub. Tapi, itu bukan seolah-olah MU tak pernah kalah 0-5 sebelumnya."

"Ini terjadi dan United bangkit kembali dan memenangkan banyak hal. Saya kalah di St. James' Park 5-0. Philippe Albert menjebol gawang Peter Schmeichel dan rasanya tidak berbeda. Satu-satunya perbedaan adalah tidak ada satu miliar orang di Twitter yang berpikir mereka paling tahu tentang ini, itu, dan lainnya."

"Kasus Steve Bruce melampaui kritik. Itu bentuk intimidasi, perilaku menjijikkan, trolling, beberapa hal paling menjijikkan yang pernah saya baca atau lihat sepanjang hidup saya," jelasnya.

Lebih lanjut, Neville, yang juga mantan rekan stim Solskjaer di MU pada tahun 1996-2005, menyebut aksi suporter di medsos cukup berbahaya.

"Kita hidup di era di mana dianggap normal untuk meminta orang dipecat, yang menurut saya benar-benar luar biasa. Jika Anda berada di tempat kerja lain dan Anda masuk ke toko kemudian berkata, 'Saya ingin Anda dipecat, saya ingin Anda dipecat,' saya pikir Anda akan dilaporkan ke polisi," kata Neville.

"Media sosial adalah tempat pembuangan mutlak bagi orang-orang yang paling rendah dari yang terendah."

"Saya pikir itu di luar kendali. Orang mungkin tidak menyadari hal-hal yang mereka tulis menyakiti keluarga, menyakiti manusia, orang-orang yang memiliki masalah dalam hidup mereka, dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk itu," kata Neville.

(yna/aff)