Man United Yakin Mau Rekrut Ancelotti?

Rifqi Ardita Widianto - Sepakbola
Jumat, 04 Mar 2022 14:40 WIB
BARCELONA, SPAIN - OCTOBER 24: Head coach Carlo Ancelotti of Real Madrid CF looks on during the La Liga Santander match between FC Barcelona and Real Madrid CF at Camp Nou on October 24, 2021 in Barcelona, Spain. (Photo by David Ramos/Getty Images)
Carlo Ancelotti dinilai tak pas buat Manchester United. (Foto: Getty Images/David Ramos)
Jakarta -

Manchester United disarankan merekrut Carlo Ancelotti untuk bangkit. Tapi Ancelotti dinilai bukan sosok yang pas buat MU.

Manchester United masih kesulitan bersaing di papan atas Liga Inggris sejak ditinggalkan Sir Alex Ferguson pada 2013 silam. Mereka belum pernah lagi juara, dengan pencapaian terbaik jadi runner-up pada 2017/2018 dan 2020/2021 kendati jauh di belakang Manchester City dalam dua musim tersebut.

Tujuh manajer, baik tetap maupun sementara, menangani MU tapi tak pernah benar-benar ada yang bisa membawa mereka bersaing untuk posisi teratas. Kini mereka mencari manajer tetap untuk musim depan, mengingat Ralf Rangnick cuma berstatus interim.

Nah, Sir Alex Ferguson kabarnya meminta MU merekrut Pelatih Real Madrid Carlo Ancelotti. Ancelotti jelas punya CV mentereng: juara Liga Inggris bareng Chelsea, memenangi tiga trofi Liga Champions bareng AC Milan dan Real Madrid, juga jadi kampiun di Italia (AC Milan), Prancis (Paris Saint-Germain), dan Jerman (Bayern Munich).

Namun Ancelotti dinilai tidak pas dengan kebutuhan MU. MU butuh manajer yang tegas dan bisa membantu tim bermain lebih solid. Selain itu, mereka perlu orang yang juga membangun tim untuk jangka panjang.

"Saya rasa United harus mencari sesuatu yang lebih stabil, lebih ke jangka panjang. Saya tahu itu berlawanan dengan cara Chelsea meraih sukses, tapi kita kan bicara tentang Manchester United, model yang berbeda," ujar mantan gelandang tim nasional Inggris Danny Murphy kepada talksport.

"Juga saya merasa gaya manajerial Ancelotti itu tipe yang masuk ke berbagai klub yang sudah sukses, punya bintang super, paar pemain di puncak permainan, dan melanjutkan itu. Everton jelas berbeda."

"Saya ingat bicara ke sejumlah orang yang bekerja di bawah arahannya di Chelsea. Mereka sangat memujinya. Pada dasarnya, mereka bilang, bahwa gaya manajemennya itu membiarkan para pemain menjaga diri sendiri di tempat latihan."

"Dia tidak intens, sangat santai, relaks, tipe Sven-Gran Eriksson ketika jadi manajer Inggris. Dia mempercayai para pemainnya. Bukan itu yang dibutuhkan United," tambah eks pemain Liverpool tersebut.

(raw/krs)