Proses Penjualan Chelsea Masih Mandek di Pemerintah Inggris, Kenapa?

Mohammad Resha Pratama - Sepakbola
Kamis, 19 Mei 2022 21:20 WIB
A logo is pictured on a sign ahead of the English Premier League football match between Chelsea and Wolverhampton Wanderers at Stamford Bridge in London on May 7, 2022. - Chelsea confirmed on Saturday that a consortium led by LA Dodgers co-owner Todd Boehly has won the battle to buy the Premier League club in a £4.25 billion ($5.2 billion) deal. (Photo by JUSTIN TALLIS / AFP) (Photo by JUSTIN TALLIS/AFP via Getty Images)
Proses takeover Chelsea masih terhambat di Pemerintah Inggris (AFP via Getty Images/JUSTIN TALLIS)
London -

Proses penjualan Chelsea segera mendapat lampu hijau dari Premier League. Sayangnya, hal tersebut malah mandek di tangan pemerintah Inggris.

Awal bulan ini, Chelsea sudah mencapai kata sepakat dengan pengusaha Amerika Serikat, Todd Boehly, terkait proses penjualan klub tersebut.

Boehly bakal memiliki Chelsea bersama konsorsium yang berisikan Hansjorg Wyss, Barbara Charone, Jonathan Goldstein, dan Daniel Finkelstein. Untuk mengakuisisi Chelsea, Boehly mengeluarkan 2,5 miliar paun.

Setelah itu, Todd Boehly akan menginvestasikan 1,75 miliar paun lagi untuk pengembangan klub. Sayangnya, setelah Chelsea mengumuman akuisisi tersebut, perkembangannya malah jalan di tempat.

Sebab, penjualan Chelsea harus melalui proses verifikasi oleh Premier League dan Pemerintah Inggris. Nah, untuk Premie League, Todd Boehly sudah menjalani proses di OADT (Tes Direktur dan Pemilik Klub Liga Inggris).

Lampu hijau sepertinya akan diberikan oleh Premier League karena mereka tak memusingkan soal uang penjualan klub bakal ke mana. Fokus mereka adalah melihat seberapa kuat owner baru Chelsea, Todd Boehly, dalam mengelola klub nantinya.

Sementara itu hambatan justru terjadi d sisi pemerintah Inggris, yang masih ragu soal kesepakatan jual-beli tersebut. Inggris mencurigai uang penjualan klub tetap akan masuk ke kantong Roman Abramovich.

Padahal Abramovich saat ini tengah disanksi berupa pembekuan seluruh asetnya di Inggris. Dengan kondisi saat ini, jelas Abramovic tidak bisa menerima uang penjualan tersebut.

Ditambah lagi Abramovich juga sudah mengikhlaskan utang 1,6 miliar paun yang sejatinya harus dibayarkan Chelsea kepadanya. Nantinya uang 2,5 miliar hasil penjualan Chelsea kabarnya akan disumbangkan untuk korban perang di Ukraina.

Pemerintah Inggris tentu harus segera memberikan keputusan akhir, mengingat lisensi klub Chelsea saat ini akan berakhir 31 Mei. Jika belum ada keputusan, ada kemungkinan proses takeover gagal dan Chelsea masuk pengadilan administrasi.

(mrp/aff)