'Vaksin' Thaksin Shinawatra
Rabu, 15 Agu 2007 12:54 WIB
Jakarta - Sebagian orang menilai Thaksin Shinawatra penjahat, ada juga yang menganggapnya pahlawan. Namun bagi sepakbola, Thaksin seperti vaksin yang bisa membuat kuat.Sepakbola sebagaimana olahraga lain seharusnya tidak mengenal politik. Justru perang bisa berhenti karena sepakbola.Namun netralitas sepakbola kembali diusik saat Thaksin memasuki sepakbola Inggris. Ada yang berpendapat, tidak pantas orang yang tidak memahami hak asasi manusia, memimpin klub sepakbola sebesar Manchester City.Gelombang protes terjadi. Kelompok HAM mengkritik keterlibatan mantan perdana menteri Thailand itu dalam kasus tewasnya 2.275 orang dalam waktu tiga bulan dalam kampanye 'perang terhadap narkotika' tahun 2003.Tidak itu saja, mantan polisi juga presenter serial televisi itu juga dituduh menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan keluarganya. Kini asetnya yang bernilai hampir satu miliar pounds (sekitar Rp 18,7 triliun), dibekukan di Thailand.Statusnya sebagai buronan pemerintah Thailand saat ini memang baru diperoleh dalam hitungan jam. Namun 'dosa-dosa' Thaksin sudah diungkap berbagai media internasional sejak sebelum lengser akhir tahun lalu. Kini setidaknya 12 kasus korupsi juga resmi ditujukan padanya.Thaksin sekarang tinggal nyaman bersama istri dan tiga anaknya di rumah mewah di Inggris, tepatnya Weybridge, Surrey. Ia juga memiliki apartemen mewah di London. Setelah tampil di hadapan wartawan saat resmi membeli Manchester City, kali kedua ia muncul di laga perdana timnya akhir pekan lalu.Semua tuduhan yang diarahkan padanya, disebutnya sebagai 'kepentingan politik'. Kenyataannya memang tidak sedikit warga Thailand yang masih mendukung pemimpin terpilih secara demokrasi itu. Baru-baru ini, lebih dari 200 ribu pendukungnya hadir dalam demonstrasi menentang pemerintahan hasil kudeta militer sekarang.Sekitar 100 juta pounds yang dihabiskannya untuk Manchester City, terbukti mampu mendongkrak The Citizens. Keputusannya menunjuk Sven Goran Eriksson sebagai pelatih, dipuji fans Manchester City. Apalagi laga perdananya juga berbuah kemenangan.Dalam waktu singkat, Thaksin mendapat nama panggilan "Frank" Shinawatra -mengingatkan Frank Sinatra-. Thaksin diharapkan mampu menghapus dahaga gelar selama 32 tahun. Bagi fans Manchester City, Thaksin adalah obat ajaib yang bisa mengembalikan status The Citizens ke atas rival sekotanya Manchester United.Thaksin bukanlah orang kaya pertama yang membeli klub Inggris. Bukan pula orang Asia pertama, bahkan bukan 'orang jahat' pertama.Mohamed al Fayed membeli Fulham pada 1997. Namun invasi asing ke Liga Inggris mulai gencar sejak masuknya Roman Abramovich ke Chelsea. Selanjutnya menyusul Malcolm Glazer ke MU, hingga kini ada sembilan dari 20 klub Premiership yang dikuasai pemodal asing.Presiden UEFA Michel Platini bahkan sempat menyentil Asosiasi Sepakbola Inggris (FA). Platini mengatakan, 'Seandainya saya menjadi presiden FA, saya akan menghentikan orang-orang asing untuk menguasai klub Inggris'.Namun industrialisasi sepakbola tidak bisa dihentikan. Saat ini semuanya tergantung bagaimana kebijakan klub. Saat klub butuh uang, investor datang. Meski seharusnya manajemen klub bisa menentukan syarat-syarat yang lebih detil untuk seseorang dinyatakan lulus fit and proper test sebelum menjadi pemilik.Dalam kasus Thaksin, English Premier League memiliki sikap tegas. Thaksin adalah pemilik Manchester City. Jika sebagai ada yang salah dengan Thaksin sebagai investor, yang berhak menentukannya adalah pemerintah."Jika pemerintah Inggris mengatakan tidak masalah, maka tidak ada alasan bagi kami untuk membicarakannya lagi. Jika pemerintah mengatakan ada yang tidak sesuai dengan Thaksin untuk berinvestasi di negara ini, maka mereka harus menghentikan aliran dananya. Kami akan bekerjasama dengan mereka berdasarkan kebijakan itu," ujar Chief Executive Premier League Richard Scudamore. (lom/mar)











































