Selama ini Drogba rupanya kerap jadi bahan tertawaan para rekannya di tempat latihan. Penyerang Pantai Gading itu diejek karena penjualan replika kaosnya yang seret.
Dengan kaos yang laku keras, seorang pemain artinya populer di mata pendukung. Kalau sebaliknya berarti sosok pemain tersebut kurang mendapat tempat di hati fans, sehingga mereka merasa tak perlu memborong pernak-pernik pemain kesayangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang sumber dalam The Blues mengaku kalau Drogba mengunjungi kios klub Chelsea sepuluh kali dalam sepekan dan pada suatu ketika bahkan sempat memborong 40 kaos, yang harganya 45 poundsterling (sekitar Rp 830 ribu) sepotong.
"Dids (panggilan Drogba) tak pernah absen ke toko. Dia banyak membelanjakan uang. Dia adalah pelanggan teratas staf dan dengan mudah jadi pelanggan terbaik mereka. Kompetisi untuk jadi yang terpopuler sangat sengit dan Didier tak suka kalah," ungkap sumber tersebut seperti dikabarkan Goal, Selasa (11/3/2008).
"Dia sudah membeli banyak replika kaos nomor 11-nya dan (penjualan kostumnya) sekarang pasti sudah ada di atas bersama dengan penjualan terbanyak. Dids telah mengirimkan semua kaos replikanya ke kampung halaman," demikian sumber yang sama.
Sebagai seorang pemain Chelsea sebenarnya Drogba berhak dapat kaos seragam cuma-cuma. Tapi karena memang dasarnya tak mau kalah dalam persaingan sengit untuk mendongkrak popularitas, kucuran "uang kecil" dari gajinya yang 70 ribu pound (Rp 1,29 miliar) per pekan pun tak jadi masalah.
Ada-ada saja, Drogba.
(krs/arp)











































