Di Old Trafford, Minggu (23/3/2008), Liverpool takluk dengan skor telak 0-3 atas MU. Hasil ini membuat rentetan tujuh kemenangan yang dicatat oleh The Reds terhenti. Di sisi lain, MU makin kokoh bercokol sebagai pemuncak Premiership.
Reina menjadi sorotan utama dalam pertandingan ini. Dua dari tiga gol MU yang bersarang di gawangnya dapat dikatakan murni akibat kesalahan penjaga gawang asal Spanyol itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski membuat gawangnya dua kali robek dengan proses yang cukup mudah, bukan berarti Reina tampil tanpa kontribusi. Beberapa penyelamatannya justru mencegah tim racikan Rafa Benitez itu kalah dengan skor lebih besar lagi.
Dari catatan Eurosport, Reina menggagalkan enam shot on goal dari total 10 tendangan MU yang mengarah ke gawang Liverpool.
Reina seperti sedang menampilkan pertunjukan oxymoron, yakni suatu keadaan yang mengandung dua unsur yang kontradiktif. Dan uniknya, ini bukanlah penampilan oxymoron pertama kiper berusia 25 tahun tersebut.
Pada 13 Mei 2006, alias hampir dua tahun lalu, Reina menampilkan hal serupa dalam final Piala FA menghadapi West Ham United.
Dalam pertandingan itu, eks kiper Villareal tersebut membuat beberapa kesalahan fatal yang membuat Liverpool tertinggal 2-3. Beruntung The Reds mampu menyamakan kedudukan dan menjadikan laga harus diakhiri dengan adu penalti.
Di sinilah peruntungan Reina berbalik. From zero to hero. Dari seorang penjaga gawang yang nyaris membuat timnya kalah, Reina kemudian jadi pahlawan. Di babak tos-tosan, pemuda bertinggi 188 cm itu menepis tiga dari empat penalti pemain-pemain West Ham.
Keadaan dua warsa lalu sungguh berbeda dengan malam ini. Bila saat itu Liverpool masih sanggup tersenyum karena merengkuh Piala FA, maka tidak dengan keadaan Steven Gerrard dkk pasca laga di Old Trafford ini.
Kekalahan ini membuat peluang Liverpool untuk menjadi jawara Premiership sudah 90% lenyap. Secara teori, perolehan angka The Kop masih bisa melewati MU, namun itu baru akan tercipta bila The Red Devils meraih hasil-hasil buruk dan Liverpool sendiri bisa memforsir kemenangan terus menerus.
Sembari merenungi kegagalannya membawa Liverpool bersaing di Liga Inggris, Reina barangkali harus mendengarkan apa kata Carlos Queiroz, asisten manajer MU Sir Alex Ferguson.
"Ya, dia harusnya bisa berbuat lebih baik dengan dua bola silang itu. Tapi dia membuat beberapa penyelamatan saat situasi satu lawan satu. Itu bukan semata tanggungjawab satu pemain,".
"Saya harus bilang Reina tampil fantastis. Jika bukan karena dia, pertandingan tadi bisa menghasilkan skor yang bersejarah," simpul Queiroz di Goal.
Sementara manajer Liverpool Rafa Benitez antara menyesalkan tapi juga tidak menyalahkan. "Kami kebobolan dua gol dari dua kesalahan," cetusnya. "Pepe Reina sudah lebih baik ketimbang pemain-pemain lainnya. Kadang-kadang Anda berpikir bisa bergerak lebih cepat, tapi ternyata terlambat. Hal-hal seperti ini biasa terjadi."
(arp/key)











































