Young Gunners Menelan Kegagalan

Young Gunners Menelan Kegagalan

- Sepakbola
Rabu, 09 Apr 2008 10:46 WIB
Young Gunners Menelan Kegagalan
Jakarta - Musim lalu Arsene Wenger boleh berdalih timnya baru transisi ke skuad muda. Tapi ia perlu mencari dalih yang lebih kuat karena musim ini The Young Gunners sudah loyo sebelum garis finish.

Musim lalu suporter Arsenal menerima kenyataan tim kesayangannya bertangan hampa tanpa gelar juara. Bahkan di Premiership mereka hanya finish di batas akhir zona Liga Champions alias di peringkat keempat.

Wenger dimaklumi karena ada output potensial dari tim yang "gagal" itu, yaitu munculnya pemain-pemain muda berbakat. Tersebutlah Cesc Fabregas, Matthieu Flamini, Robin van Persie, Gael Clichy, Abou Diaby, Theo Walcott, Emmanuel Adebayor dan lain-lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keyakinan pada pasukan mudanya itu membuat Wenger rela melepas seorang Thierry Henry (ke Barcelona). Gelandang senior Gilberto Silva pun digeser ke bangku cadangan, digantikan Flamini untuk berduet dengan Fabregas memimpin lapangan tengah. Dari 11 starter reguler, hanya Jens Lehmann/Manuel Almunia, Kolo Toure, dan kapten William Gallas saja yang usianya sudah melewati 27 tahun.

Awalnya The Young Gunners menimbulkan histeria publik Emirates Stadium, bersamaan dengan mulai dioperasikannya stadion "sumbangan" maskapai penerbangan swasta Dubai itu. Jika tak terkalahkan dalam 21 pertandingan pertamanya di awal musim, bahkan memenangi 17 di antaranya, maka itu adalah statistik yang memukau.

Arsenal baru merasakan kekalahan di bulan keempat kompetisi, tepatnya pada 27 November 2007. Saat bertandang ke markas tim juara Piala UEFA, Sevilla, mereka kalah 1-3 di matchday 5 babak grup Liga Champions, ketika mereka sudah hampir dipastikan lolos ke babak 16 besar.

Sampai tiga bulan lalu Arsenal masih menjadi penantang di mana-mana. Tapi setelah itu anak-anak muda itu mulai ngos-ngosan. Pada 22 Januari mereka disingkirkan rival sedaerahnya, Tottenham Hotspur, dengan skor telak 1-5 di Piala Carling. Tiga minggu kemudian mereka dipermalukan sedemikian rupa, ketika dibantai musuh utamanya Manchester United 0-4 di Piala FA.

Kekalahan itu sepertinya menjadi awal penurunan performa Fabregas dkk. Berturut-turut mereka hanya bisa meraih hasil seri di tiga pertandingan. Mereka membuat headline lagi sewaktu mencuri kemenangan 2-0 di San Siro untuk lolos ke perempatfinal Liga Champions.

Tapi itulah kali terakhir Arsenal berada di atas awan. Mereka kembali melempem di liga domestik, berturut-turut ditahan Wigan dan Middlesbrough, serta ditekuk Chelsea. Di situlah kans "Gudang Peluru" mulai mengecil untuk mengejar MU di perburuan titel Liga Inggris.

Pesimisme kian mengental ketika dua kali berturut-turut Arsenal tak bisa mengalahkan Liverpool di kandangnya sendiri minggu lalu. Dan mereka mengakhiri trilogi melawan The Reds sebagai pihak yang kalah (2-4) di Anfield. Tamat pula perjalanan The Gunners di Eropa.

"Apa yang terjadi adalah tim dalam beberapa minggu terakhir mengalami syok karena mereka merasa semuanya berjalan tak sesuai harapan. Kami kehilangan sedikit kepercayaan diri - minggu demi minggu, kekecewaan demi kekecewaan... itu sangat sulit," tutur Wenger tentang kondisi timnya belakangan ini.

Wenger juga meratapi "dunia" yang dirasakan tidak adil, dalam hal ini kepemimpinan wasit yang dianggap merugikan pihaknya. Ia meradang karena Ryan Babel diberi penalti tadi malam, sedangkan Dirk Kuyt tidak dihukum penalti karena menjatuhkan Alexander Hleb minggu lalu.

"Sangat sulit ditelan," tukas manajer asal Prancis itu dikutip AFP. "Ini kekecewaan ganda karena semua keputusan besar menentang kami, dan sampai menit-menit akhir kami hampir lolos atas tim yang di dua leg peluangnya lebih sedikit dari kami.”

"Dalam sepakbola terkadang Anda harus menelan apa yang tidak bisa ditelan. Buat saya, itu bukanlah penalti. Tapi yang minggu lalu adalah penalti," sambung Wenger.

Bagaimanapun dunia belum kiamat sepenuhnya buat Arsenal. Walaupun kecil, tapi harapan di liga masih ada. Tapi jika akhir pekan ini tak bisa mengalahkan MU, maka Wenger, Fabregas, dan The Young Gunners harus menelan lagi apa yang mereka telan dalam dua musim terakhir: tanpa gelar juara.

(a2s/key)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads