Gilardinho dan Mimpinya

Gilardinho dan Mimpinya

- Sepakbola
Selasa, 18 Mei 2004 12:56 WIB
Gilardinho dan Mimpinya
Jakarta - Usianya belum genap 22 tahun, tapi ketajaman Alberto Gilardino musim ini melebihi bomber-bomber Italia lainnya. Dalam daftar topskor ia menempati peringkat kedua di bawah Andriy Shevcenko, namun merupakan pemain Italia paling subur.Pemain kelahiran 5 Juli 1982 itu mengemas 23 gol, satu gol di bawah Shevchenko, striker internasional Ukraina dari klub AC Milan. Dalam persaingan dengan sesama pemain lokal, ia lebih baik ketimbang Francesco Totti (Roma/20 gol), Antonio Cassano (Roma/14), dan topskor musim lalu Christian Vieri (Inter/13).Ironisnya, ketiga pemain itulah yang kemungkinan bakal mengalahkan dirinya dalam persaingan di timnas Italia buat Piala Eropa 2004. Pada beberapa kesempatan pelatih Giovani Trapattoni mengatakan Gilardino masih punya banyak waktu untuk tampil di level internasional. Ia disarankan untuk berfokus di tim Italia U-21, terutama buat menghadapi Olimpiade tahun ini.Mr. Trap sendiri berencana mengumumkan skuad Euro-nya hari Selasa (18/5/2004) ini. Entah apakah dia berubah pikiran setelah menyaksikan Gilardino mencetak empat gol ke gawang Udinese dalam pertandingan terakhir Ser A hari Ahad lalu. Yang jelas, eks penyerang Piacenza and Verona itu tetap mengidamkan tampil di Portugal. Ia memang kalah pengalaman dibanding Totti cs, tapi ia merasa punya sesuatu yang dibutuhkan Mr. Trap: “spirit”.“Tanggal lahirku sama dengan hari ketika Paolo Rossi mencetak hat-trick melawan Brasil di Piala Dunia 1982. Ini bisa jadi pertanda buat Mr. Trap,” ungkap Gilardino, menyebut salah satu penyerang legendaris Azzurri itu.Pemain tampan setinggi 184 centimeter ini sudah membela Piacenza sejak umur 15 tahun. Tapi ia baru menjalani debutnya di Seri A pada musim 1997/1998, dan di akhir kompetisi berhasil mengukir tiga gol dari 17 partai. Di musim selanjutnya, karena Piacenza terdegradasi ke Seri B, Gilardino dioper ke Hellas Verona dan bermain selama dua musim. Pada tahun 2002 ia ditarik ke Ennio Tardini, guna melapis duet Adrian Mutu-Adriano sepeninggal Marco di Vaio ke Juventus. Di musim perdananya bersama Gialloblu itu ia bermain 24 kali dengan hasil empat gol. Pengagum Gianluca Vialli, Vieri, dan Raul Gonzalez itu baru menemukan kebintangannya musim ini, setelah bertandem dengan Adriano. Sedang asik-asiknya melakoni kolaborasi itu, Gilardino harus kehilangan duetnya yang dijual ke Inter pada bulan Januari. Maka jadilah ia menjadi tumpuan harapan Parma di lini depan. Tugas itu diperankan dengan baik, bahkan ia berhasil mematahkan rekor Di Vaio yang pernah mencetak 20 gol buat tim ini di Seri A.Kalaupun Gilardino tidak terpilih mengikuti Piala Eropa 2004, tampaknya ia tetap akan menjadi headline media-media massa setempat di musim panas mendatang, terutama menyangkut kepastian karirnya, karena mulai diisukan bakal hijrah ke Juve atau AS Roma.“Aku ingin tetap di Parma kalau pelatih dan skuad menghendaki demikian,” tukas pemuda yang mengaku sejak kecil mengidolakan Bianconeri itu. “Jika empat atau lima rekan setimku dijual, aku mungkin akan pergi juga. Harapanku di masa depan? Memenangkan Liga Champions.” (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads