Pembuktikan Paulo Dybala pada Dirinya Sendiri

Pembuktikan Paulo Dybala pada Dirinya Sendiri

Rossi Finza Noor - Sepakbola
Kamis, 28 Jan 2016 12:11 WIB
Pembuktikan Paulo Dybala pada Dirinya Sendiri
Reuters/Giorgio Perottino
Turin -

Mungkin, tidak selamanya kita harus membuktikan diri kepada orang lain. Cukup membuktikan kepada diri sendiri saja. Tak terkecuali Paulo Dybala, yang sempat menganggap dirinya sendiri 'overhyped'.

'Overhyped' kalau diterjemahkan kira-kira berarti 'Terlalu dilebih-lebihkan'. Pada 2014, ketika dirinya baru berusia 20 tahun, namanya mencuat bersama Palermo ketika berhasil mencetak beberapa gol. Bos Palermo yang terkenal nyentrik, Maurizio Zamparini, langsung menaruh harga 42 juta euro untuknya.

Dalam laporan yang dituliskan The Guardian, Dybala merasa dirinya tidak layak dihargai semahal itu. "Harga itu bohong. Tidak banyak pemain bisa dihargai semahal itu dan jelas saya bukan salah satunya," ucap Dybala ketika itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, pada akhirnya Juventus memilih untuk menuruti Zamparini. Mereka membayar 32 juta euro, sementara 8 juta euro sisanya dibayar secara bertahap berdasarkan klausul yang ada.

Mengingat Dybala "hanya" mencetak 13 gol dalam 34 penampilan terakhirnya di liga bersama Palermo, plus hanya mencetak 1 gol dalam tiga bulan terakhir di klub asal Sisilia itu, mahalnya harga Dybala dianggap sebagai sebuah investasi. Juventus jelas berharap bahwa Dybala, yang masih muda, bakal memenuhi potensinya bersama mereka.

Dybala pun tidak langsung nyetel dengan Juventus. Dia tak selalu dimainkan oleh Massimiliano Allegri. Zamparini, yang juga terkenal pedas itu, sempat menilai bahwa Juventus menghancurkan Dybala. Namun, pada akhirnya waktu berkata lain.

Dengan mandeknya Alvaro Morata, Allegri perlahan-lahan mulai mengubah prioritasnya. Menjelang akhir tahun 2015, pada masa di mana performa Juventus mulai menanjak, Allegri sering memercayakan Dybala untuk berduet dengan Mario Mandzukic di lini depan.

Kini, Dybala sudah mencetak 12 gol dalam 20 penampilannya di Serie A --atau 15 gol dalam 30 penampilannya di semua kompetisi. Jumlah itu jelas lebih baik daripada musim terakhirnya di Palermo, di mana ia menorehkan 13 gol dalam 35 penampilan di semua ajang.

Dalam kolomnya di Guardian, Paolo Bandini menyebut bahwa keputusan Allegri untuk tidak langsung memaksa Dybala bermain tiap pekan sudah berbuah manis. Allegri dinilai tidak mau terburu-buru memberi banyak beban kepada Dybala. Pelan-pelan ia mengembangkan Dybala, sama seperti yang dilakukannya pada Morata musim lalu.

Dybala tidak hanya cepat dan tajam, tetapi juga cukup kreatif. Ia tidak hanya membuat gol-gol di laga penting, seperti ketika menghadapi AC Milan dan AS Roma di Serie A, tetapi juga bisa mengkreasikan peluang. Dalam catatan Squawka, pemain asal Argentina itu sudah mengkreasikan 47 peluang di Serie A musim ini, yang mana menjadikannya kreator peluang terbanyak di Juventus sejauh ini --mengungguli Paul Pogba (37 peluang dikreasikan).

Kamis (28/1/2016) dini hari WIB, Dybala kembali menyumbang gol ketika Juventus menundukkan Inter 3-0 di leg I semifinal Coppa Italia. Padahal, kali itu, ia tidak bermain sebagai starter --seperti laga melawan Roma. Enam menit masuk ke lapangan, ia menerima umpan terobosan dari kiri dan melepaskan sepakan first-time dari luar kotak penalti; gol pun tercipta,



(roz/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads