Pentas Seri A Masih Rawan
Jumat, 22 Jul 2005 13:48 WIB
Jakarta - Seri A boleh saja dinobatkan sebagai kompetisi sepakbola terbaik di dunia. Namun kenyataannya liga paling bergengsi di Italia ini masih rawan masalah.Oleh International Federation of Football History and Statistics (IFFHS), beberapa hari lalu Seri A dinobatkan sebagai liga terbaik dunia. Penilaian ini dibuat dengan melihat persaingan menuju juara, perebutan jatah kompetisi Eropa hingga pertarungan menghindari zona degradasi.Namun di luar kompetisi, Seri A masih berkutat dengan masalah klasik yang cukup serius, yakni keuangan dan keamanan. Kedua hal ini berpotensi mengancam berlangsungnya seri A musim 2005/2006.Bukan cerita baru jika klub Italia diberitakan mengalami masalah keuangan. Fiorentina adalah salah satu korban krisis keuangan sebelum memasuki musim 2002-2003. Juara dua kali Liga Italia Seri A ini terpaksa dikeluarkan dari Seri A ke Seri C2 (divisi empat) karena dinyatakan bangkrut.Pada bulan Desember 2003, AC Parma juga nyaris saja menyamai nasib La Viola. Akibat tumbangnya Parmalat, sponsor utama Parma, Federasi Sepakbola Italia (FIGC) juga hampir mengeluarkan I Gialloblu dari Seri A. Beruntung Parma masih memiliki pemain berbakat seperti Adriano, yang kemudian di jual ke Inter Milan untuk mendapatkan dana topangan.Dua mantan juara Seri A, AS Roma dan Lazio juga mengalami nasib yang tidak jauh beda. Kali ini solusinya agak lain, karena Perdana Menteri Italia yang juga Bos AC Milan turun tangan mencarikan dana bantuan.Akhir pekan lalu FIGC akhirnya kembali mengulangi mimpi buruk Fiorentina kepada dua klub sekaligus yakni Mesina dan Torino. Bagi Messina kenyataan ini terasa sangat pahit, karena musim lalu prestasinya cukup mengejutkan dengan menempati peringkat tujuh klasemen akhir Seri A. Sementara Torino harus melupakan mimpinya kembali ke Seri A, meski seharusnya berhak promosi karena menempati peringkat empat Seri B.FIGC memang terkesan tidak memberikan toleransi untuk menjamin kondisi keuangan klub di Seri A benar-benar sehat. Kebijakan ini mengacu pada salah satu persyaratan yang ditetapkan oleh UEFA bagi klub yang akan turun di Liga Champions dan Piala UEFA.Selain masalah keuangan, isu keamanan juga menjadi agenda penting yang terus dibahas FIGC. Kerusuhan yang kerap terjadi musim lalu seperti oleh suporter AS Roma, Lazio dan Inter Milan merupakan bukti bahwa budaya kekerasan yang masih dianut suporter klub Italia. Bahkan untuk masalah ini UEFA telah mengeluarkan peringatan keras.Meski belum memasuki musim kompetisi, risiko akan munculnya aksi anarkis oleh suporter di Italia tetap ada. Ini dipicu oleh keputusan FIGC yang secara resmi mengumumkan akan melakukan penyelidikan soal dugaan match fixing oleh Genoa dan Venezia.Suporter Genoa belum genap sebulan merayakan kembalinya klub kesayangannya ke Seri A setelah menanti selama 10 tahun. Kontan pernyataan FIGC memancing kemarahan mereka. Sebab jika terbukti melakukan match fixing, maka Genoa batal ke Seri A. Tidak hanya itu, kedua klub bahkan terancam diturunkan ke divisi yang lebih rendah dan didenda.Situasinya menjadi lebih rumit jika Bologna yang memiliki kepentingan mengajukan tuntutan ke FIGC. Bologna baru saja terdegradasi setelah kalah dalam pertandingan play off degradasi dari Parma. Bologna mengklaim paling berhak menggantikan Messina karena memiliki posisi tertinggi di antara tim yang terdegradasi dari Seri A.Hingga saat ini Messina masih berusaha melakukan banding atas putusan FIGC. Sementara proses banding berlangsung, jalan-jalan di Messina dipenuhi para demonstran yang mengancam akan melakukan protes besar-besaran ke kantor FIGC di Roma jika keinginan mereka agar Messina tetap di Seri A tidak dikabulkan. Kondisi di Genoa tidak kalah menegangkan. Selain aksi demo, dua spanduk besar dipasang di kota tempat stadion Luigi Ferrari berdiri. "Seri A atau akan ada kekerasan," isi salah satu spanduk. Sementara yang lainnya berbunyi,"Siap untuk apapun, bahkan sampai dipenjara." (lom/)











































