DetikSepakbola
Selasa 14 Agustus 2018, 16:22 WIB

Jelang Liga Italia 2018/2019

Momentum Kebangkitan Si Ular Besar

Mohammad Resha Pratama - detikSport
Momentum Kebangkitan Si Ular Besar Inter Milan dianggap jadi pesaing serius Juventus di musim 2018/2019 (Paolo Bruno/Getty Images)
Jakarta - Sudah terlalu lama Inter Milan "tertidur" di Serie A dan hilang dari persaingan gelar juara. Musim 2018/2019 jadi momen pas untuk Nerazzurri bangkit lagi.

Puncak kejayaan Inter di era modern boleh dibilang adalah di musim 2009/2010 saat mereka meraih treble winners. Setelah itu, Inter terjun bebas seiring kesulitan keuangan yang dialami Massimo Moratti selaku pemilik saat itu.

Gelar terakhir Inter adalah Coppa Italia di musim 2010/2011 dan setelahnya Inter kesulitan lagi bersaing di papan atas. Keuangan memang jadi masalah utama setelah UEFA menerapkan aturan Financial Fair Play yang membuat pemilik klub tak bisa seenaknya menyuntikkan dana pribadinya.



Baca juga: 'Cepat atau Lambat Modric Gabung Inter'



Perpindahan tangan pemilik klub dari Moratti lalu ke Erick Thohir dan kini berakhir di tangan Suning Group sudah menjelaskan bagaimana kondisi tim selama tujuh tahun terakhir. Imbasnya Inter pun tak kompetitif dan harus absen dari Liga Champions sejak musim 2011/2012.

Bahkan dalam kurun waktu tujuh musim terakhir, Inter tidak pernah lolos ke Liga Champions termasuk tiga kali gagal tampil di kompetisi Eropa termasuk musim lalu saat pertama kali ditangani Luciano Spalletti. Tapi di musim perdana Spalletti itulah Inter memanfaatkan benar momentum berbenah.

Tak tampil di Eropa dan melepas Coppa Italia, Inter lantas fokus total di Serie A sebelum lolos dramatis di pekan terakhir menghadapi Lazio. Kelolosan ke Liga Champions membuat Inter juga membenahi skuatnya habis-habisan di bursa transfer kali ini.

Jumlah pemainnya pun nyaris sama banyaknya dengan Juventus yang mendatangkan Cristiano Ronaldo, tapi Inter mampu menekan jumlah pengeluaran mereka dengan aksi pinjam lalu permanen di akhir musim. Hanya Radja Nainggolan, Lautaro Martinez, dan Federico Dimarco yang dibeli lunas.

Sementara Sime Vrsaljko, Matteo Politano, dan Keita Balde dipinjam dengan total dana 16,5 juta euro. Stefan de Vrij dan Kwadwo Asamoah bahkan didatangkan dengan gratis. Ditambah keberhasilan Inter mempertahankan Mauro Icardi dan Ivan Perisic dari kejaran klub besar lainnya, skuat Spalletti pun terbilang lengkap.



Baca juga: Bersama Ronaldo, Juventus Tanpa Lawan di Serie A?


Ini yang bakal jadi modal Inter untuk bisa kembali bersaing di papan atas termasuk mengadang misi Juve merebut scudetto kedelapan beruntun. Dengan tambahan Ronaldo, Juve bisa dikatakan tanpa tandingan dan Inter mungkin bisa jadi kompetitor utamanya.

Bukannya mengesampingkan Napoli dan AS Roma, tapi keduanya malah kehilangan beberapa figur penting di musim panas ini. Il Partenopei sebagai runner-up musim lalu ditinggal Maurizio Sarri, Jorginho, dan Pepe Reina. Sementara Roma ditinggal Alisson Becker dan Radja Nainggolan.

Wajar jika Inter kini disebut-sebut sebagai persaing terkuat Juve meraih Scudetto musim depan. Belum lagi jika mereka berhasil mendatangkan Luka Modric, maka lini tengah mereka pun bakal makin tangguh.

Tapi pertanyaannya apakah Inter siap tampil kompetitif di tiga kompetisi yang diikuti? Selain Coppa Italia, Inter juga akan berlaga di Liga Champions. Kompetisi terakhir memang berat untuk dimenangi saat ini, tapi godaan uang besar jika semakin lama bertahan tentu tak mau dilewatkan begitu saja.

Kini semua ada di tangan Inter, apakah mau bersaing dengan Juve di kompetisi lokal atau memprioritaskan trofi di ajang lain? Waktu yang bakal menjawabnya ketika Inter menghadapi Sassuolo di Reggio Emilia 19 Agustus.



Baca juga: Inter Klub Impian Keita Balde


Kalahkan Lazio, Inter Kantongi Tiket Liga Champions, Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]


(mrp/raw)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed