sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 22 Mei 2020 02:45 WIB

Pengakuan Roberto Mancini, Jadi Pelatih Italia Karena Tak Ada yang Mau

Adhi Prasetya - detikSport
PALERMO, ITALY - NOVEMBER 18:  Head coach of Italy Roberto Mancini salutes after the UEFA Euro 2020 Qualifier between Italy and Armenia on November 18, 2019 in Palermo, Italy.  (Photo by Maurizio Lagana/Getty Images) Mancini berhasil mengangkat mentalitas Italia yang terpuruk usai gagal lolos Piala Dunia 2018. Foto: Maurizio Lagana/Getty Images
Roma -

Roberto Mancini ditunjuk menjadi pelatih Timnas Italia setelah Gli Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Ia mengaku menerima tawaran itu karena tak seorang pun mau mengambilnya.

Di tangan Gian Piero Ventura, Italia berada di titik terendah prestasi. Untuk kali pertama sejak 1958, mereka harus absen dari ajang terakbar di dunia sepakbola tersebut usai kalah agregat 0-1 dari Swedia di babak play-off pada November 2017.

Ventura dipecat karena hasil tersebut. Federasi Sepakbola Italia (FIGC) lalu mencari penggantinya, namun hal itu bukan perkara mudah.

Butuh waktu enam bulan untuk mendapatkan suksesornya, yakni Mancini. Sebelumnya, selama Februari-Mei 2018, Luigi Di Biagio yang sedang menjabat sebagai pelatih Italia U-21 sempat didapuk sebagai caretaker.

Lamanya waktu penunjukan ini disinyalir karena saat itu FIGC tengah mencari pemimpin baru. Namun selain itu, rupanya tak ada yang mau mengemban status sebagai pelatih tetap, sebelum Mancini maju.

Dalam kondisi tengah porak poranda, siapapun yang menggantikan Ventura akan mendapat sorotan besar. Membawa Italia kembali disegani jelas menjadi tantangan tersendiri.

"Saat saya tiba, tak ada yang mau menjadi pelatih timnas. Mereka lalu meminta saya, dan saya menyetujuinya," cerita Mancini kepada Roma TV, dikutip Football Italia.

Namun Mancini tak gentar dengan tekanan yang ada. Berbekal filosofi permainan menyerang, ia melakukan penyegaran skuad dengan memberikan tempat untuk para pemain yang sebelumnya minim caps macam Jorginho, Federico Chiesa, hingga Nicolo Zaniolo.

Hasilnya amat baik, Italia lolos ke Piala Eropa tahun depan sebagai juara grup dan meraih nilai sempurna selama kualifikasi, yakni 30 poin dari 10 laga.

"Banyak yang takut untuk masuk ke dalam situasi sulit, namun sepakbola juga terbentuk dari momen-momen seperti ini. Kamu hanya perlu sedikit rasa percaya diri dan keyakinan akan kualitas pemain-pemain muda yang ada," jelasnya.



Simak Video "Telan Pil Pahit, Garuda Select Kalah 1-2 dari Juventus U-17"
[Gambas:Video 20detik]
(adp/ran)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com