Cicit Diktator Fasis Italia Kini Main Bola di Lazio

Adhi Prasetya - Sepakbola
Rabu, 03 Feb 2021 10:10 WIB
Romano Floriani Mussolini
Mussolini bermain untuk Lazio junior. Foto: ilgazzettino
Jakarta -

Benito Mussolini dikenal sebagai diktator fasis Italia di awal abad 20. Kini, cicitnya ada yang menjadi pemain sepakbola di Lazio.

Romano Floriani Mussolini namanya. Pemuda 18 tahun itu baru saja menembus tim Lazio U-19. Ia bermain sebagai bek kanan.

Romano adalah anak Alessandra Mussolini, politisi ternama di Italia sekaligus cucu Mussolini. Meski marga Mussolini berasal dari garis sang ibu, namun Romano menjalani hidupnya dengan menggunakan nama tersebut.

Keberadaan keturunan Mussolini di Lazio turut menjadi perbincangan. Bukan apa-apa, Lazio sendiri dikenal sebagai klub yang memiliki basis suporter beraliran sayap kanan.

Suporter Lazio tak jarang mengumandangkan chant rasis dan menunjukkan salam fasis, yang merupakan paham yang dianut Mussolini dulu. Kelompok ultras mereka, Irriducibili, bahkan dikenal sebagai pendukung paham ini sebelum akhirnya dibubarkan Februari tahun lalu.

Meski begitu, Alessandra tak ingin anaknya disangkutpautkan dengan politik, apalagi paham fasisme sang kakek.

Romano Floriani MussoliniPenampilan Romano Floriani Mussolini dalam kehidupan sehari-hari. Foto: ilgazzettino

"Saya tak mau komentar soal itu. Saya lebih suka tak ikut campur urusan ini. Anak saya juga tak ingin ada yang ikut campur soal kehidupan pribadinya atau keputusan yang ia ambil," kata Alessandra kepada Adnkronos, dikutip The Guardian.

Manajer akademi Lazio, Mauro Bianchessi, juga tak ambil pusing. Ia lebih fokus pada permainan Romano, alih-alih nama besar keluarganya.

"Saya menyukainya. Dia belum berpengalaman, tapi bakatnya menjanjikan. Soal beban nama keluarga, saya belum pernah bicara dengan orang tuanya. Tapi satu hal yang penting adalah seberapa pantas dia mendapat kesempatan tampil, yang lain tak penting," ujar Bianchessi.

Semasa hidup, Benito Mussolini juga dikenal sebagai penggemar sepakbola. Ia menggunakan olahraga ini untuk kepentingan politiknya. Salah satu cerita yang terkenal, ia mengancam para pemain Timnas Italia, bahwa mereka akan dihukum mati jika kalah di final Piala Dunia 1938.

Giuseppe Meazza dkk pada akhirnya menang 4-2 atas Hungaria, dan meraih gelar juara dunia kedua saat itu.

(adp/pur)