Jumlah 27 scudetto yang dimiliki Juventus berbanding tujuh yang sudah direngkuh Torino rasanya sudah cukup mewakili pembicaraan soal prestasi kedua tim asal Kota Turin itu. Di tingkat Eropa "Si Nyonya Besar" lebih bertaji lagi dengan dua kali menjuarai Liga Champions plus dua tropi Piala Interkontinental, sementara prestasi terbaik "Si Banteng" di luar Italia cuma satu gelar Piala UEFA.
Meski begitu bukan berarti rekor pertemuan kedua tim sangat timpang. Khusus di Liga Italia, Juve memang masih unggul, tapi bukan berarti mereka dominan. Dari 164 laga di Seri A, Juve menang 64 kali sementara Torino menang 51 kali, sisanya, 49 pertandingan, berakhir tanpa pemenang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertandingan (di pertemuan) pertama (dengan Torino) berakhir bagus dan kami meraih kemenangan (1-0), terimakasih pada gol penentu yang dicetak David Trezeguet. Saya berharap pertandingan serupa besok meskipun Trez tidak bisa bermain," ungkap Claudio Ranieri di Goal.
Tapi menganggap remeh skuad besutan Walter Novellino jelas bukan langkah bijak, dan Ranieri tahu betul itu tak boleh dilakukan. Apalagi dari 12 laga di kandang sendiri Il Toro cuma kalah dua kali, meski tujuh di antaranya berakhir imbang dan cuma meraih tiga kemenangan.
"Saat ini Toro punya pemain berkualitas. Novellino menyetok pemain di jendela transfer Januari dan punya pemain yang sesuai dengan gayanya. Saya akan sangat menikmati derby yang sengit, seperti saat saya masih bermain," lanjut mantan pembesut Chelsea dan Valencia itu.
Juve memang punya kepentingan besar untuk menang dalam laga ini. Selain menghindari kejaran AC Milan dan Fiorentina di posisi empat dan lima, midweek ini menjadi peluang mereka merapatkan jarak dengan AS Roma mengingat Giallorossi akan menghadapi lawan berat saat harus melawat ke Inter Milan.
"Kami tidak boleh meratapi masa lalu. Ini adalah bukan pertandingan liga biasa dan karena itulah mengapa ini menjadi sangat hebat. Rapor penampilan tak berlaku di sini," pungkas Ranieri.
(din/ian)











































