Relatif tak punya pemain bintang, kecuali Carlos Vela yang pernah "dilahirkan" Arsenal, Sociedad menyelesaikan musim ini di peringkat keempat, dan itu berarti mereka akan mengikuti Liga Champions musim depan dari jalur playoff.
Klub Basque itu mengalahkan sejumlah tim lain yang punya tradisi bersaing di papan atas Liga Spanyol seperti Valencia (posisi kelima), Malaga (6), Sevilla (9), dan Athletic Bilbao (12). Mereka hanya kalah dari duo raksasa Barcelona dan Real Madrid, plus Atletico Madrid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim yang sejak 2011 dibesut pelatih asal Prancis, Philippe Montanier, itu membuat lompatan yang cepat karena di musim lalu hanya finis di urutan ke-12, dan di musim sebelumnya ada di peringkat 15, di kala mereka comeback ke La Liga setelah tiga musim berturut-turut (2007-2010) berkutat di divisi dua (Segunda Division).
Sociedad sesungguhnya memiliki reputasi yang cukup mentereng di Spanyol. Mereka pernah 40 musim berturut-turut berada di La Liga, dari 1967 sampai 2007, sebelum turun kasta di akhir musim 2006/2007, ketika mereka terdampar di urutan 19 klasemen.
Klub berjulukan Txuri-urdin alias si "Putih-Biru" itu juga pernah merasakan kemegahan menjadi juara Spanyol, yaitu di tahun 1980 dan 1982. Catatan terbaik terakhir mereka adalah runner-up musim 2002/2003.
Di musim itu mereka memiliki pemain-pemain top seperti Nihat Kahcevi (Turki) dan Darko Kovacevic (Serbia). Kedua penyerang itu menjadi pemain tersubur nomor tiga dan empat liga, masing-masing dengan 23 dan 20 gol. [Top skorer kala itu adalah Roy Makaay dari Deportivo La Coruna dengan 29 gol].
Di era itu pula ada kiper Belanda Sander Westerveld, yang direkrut dari Liverpool, serta pemain asli Basque yang kelak menjadi salah satu gelandang bertahan terbaik di Negeri Matador: Xabi Alonso. Di tahun 2003, Alonso didaulat sebagai pemain Spanyol terbaik La Liga, Nihat pemain asing terbaik, dan pelatih mereka, Raynald Denoueix (Prancis), sebagai entrenador terbaik.
Keberhasilan Sociedad melejit ke papan atas La Liga di musim ini bolehlah pula disebut sebagai kesuksesan tersendiri buat klub asal Basque, sekaligus penanda kebangkitan mereka -- walaupun itu perlu dibuktikan di musim berikutnya. Paling tidak, setelah Bilbao musim ini menurun [finis di peringkat 12], asal wakil Basque lain, yaitu mereka, yang bisa unjuk gigi.
"Kami telah mendapatkan musim yang luar biasa, dan sepanjang minggu kemarin kami telah menikmati semua yang telah kami bina bersama," ucap Montanier, menjelang pertandingan terakhir Sociedad hari Sabtu (1/6) lalu -- menang 1-0.
Sociedad akan berutang banyak pada Montanier, karena pelatih Prancis berusia 48 tahun itulah yang membuat mereka bisa tampil gemilang di musim ini, dan musim depan berpeluang masuk jajaran klub-klub top Eropa jika mampu memenangi playoff-nya dan lolos ke fase grup utama Liga Champions.
Sayangnya, Montanier telah memutuskan pergi dari Estadio Anoeta, markas Sociedad. Ia tak memperpanjang kontraknya di klub kota San Sebastian itu dan memilih kembali ke negaranya untuk melatih Stade Rennes mulai musim depan. Hingga kini belum ditentukan siapa yang akan menggantikan dia.
Salah satu momen paling membanggakan publik Sociedad adalah di jornada 17, pada 20 Desember 2012. Saat menghadapi Sevilla di kandang, setiap pemain Sociedad mengenakan kaus yang mencantumkan nama-nama anggota (member) klub tersebut di bagian depan.

Cara itu dilakukan sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada fans mereka. Nama-nama itu terpilih secara acak dari sekitar 25 ribu anggota suporter klub tersebut.
"Waktu kami terdegradasi, kami bisa melewati masa-masa sulit itu karena 20 ribu anggota suporter kami tetap berada di belakang kami. Mereka adalah bagian penting dari klub ini," cetus presiden Sociedad, Jokin Aperribay, kala itu.
Sociedad adalah salah satu klub La Liga yang tak punya sponsor utama di bagian depan jersey-nya di musim ini, kecuali hanya di beberapa pertandingan. Mereka tahu, fans tidak mendatangkan secara langsung uang dalam jumlah besar. Namun, memiliki suporter yang loyal tetap merupakan sebuah investasi besar tersendiri. Dan musim ini, fans mendapatkan apa yang mereka harapkan: klubnya berhasil bertengger ke papan atas.
(a2s/roz)











































