Barca Komplet-Konsisten, Maka Juara

Review La Liga 2004/2005 (1)

Barca Komplet-Konsisten, Maka Juara

- Sepakbola
Kamis, 02 Jun 2005 09:14 WIB
Jakarta - Musim lalu publik mengenal Ronaldinho sebagai otak di balik kebangkitan Barcelona di pentas Liga Spanyol. Tapi tahun ini tambahan amunisi membuat mereka konsisten ke jalur juara. Barca adalah tim berisi individu berbakat yang berasal dari 10 negara. Sejak musim lalu, aktor utama permainan eksplosif klub ini adalah Ronaldinho. Jangan tanyakan skil sepakbola atau kemampuannya mencetak gol. Kalau tidak mumpuni, tak mungkin dia diganjar gelar pemain terbaik dunia 2004. Namun Barca menyadari bahwa untuk menjadi sukses tak cukup mengandalkan seorang Ronaldinho saja. Supaya Ronaldinho tidak lagi one man show, Barca mendatangkan Deco, Samuel Eto'o, Henrik Larsson, Ludovic Giuly, Juliano Belletti dan Edmilson. Rekrutmen ini terbukti tepat. Ambillah contoh Eto'o, Deco dan Belletti. Eto'o menunjukkan kapasitasnya sebagai penyerang wahid di Spanyol sekarang. Total 24 gol yang disarangkan striker Kamerun ini membuat namanya pantas disebut sebagai ikon lain Barca di samping Ronaldinho.Deco adalah gelandang inspirasional yang sudah dikenal reputasinya sejak membela FC Porto. Teknik dan ball handling-nya sempurna, di atas segalanya pesepakbola bertubuh mungil ini juga mampu membuat gol. Dengan adanya Ronaldinho, Eto'o dan Deco tak heran jika Barca jadi mudah menggedor jala lawan. Total 73 goal membuat Barca menjadi klub paling subur di La Liga. Namun hebatnya mereka juga menjadi klub yang kemasukan gol paling sedikit. Dan itu merupakan hasil dari kontribusi yang tidak sedikit dari Belletti. Bersama kapten Carles Puyol, Rafael Marquez, Silvinho, Giovanni Van Bronckhorst, Barca dibuatnya menjadi tim dengan pertahanan terbaik di Spanyol. Mereka "hanya" kebobolan 29 gol dari 38 laga. Skuad yang istimewa membuat Barca bisa menghadirkan konsistensi sepanjang musim. Tak perlu pusing memikirkan cedera yang mendera Henrik Larsson atau Thiago Motta misalnya, karena para pemain muda seperti Andreas Iniesta sudah semakin baik performanya. Di sepuluh laga pertama, Puyol dkk berhasil meraup 26 angka, hasil 8 kali menang dan hanya 2 kali seri. Rekor kemenangan mereka baru dihentikan oleh Sevilla bulan November 2004.Konsistensi ini terus berlanjut. Setelah kekalahan 1-2 itu, Barca baru merasakan lagi pahitnya kekalahan di kandang Villareal pada bulan Januari. Hanya dua kali kekalahan dalam 19 laga ditorehkan oleh Barca ketika mereka masih bergelut di Liga Champions. Tak heran ketika akhirnya disingkirkan Chelsea di perempat final, Barca semakin mantap. Meski sempat terganggu oleh peningkatan performa Real Madrid, Barca menunjukkan mental juara yang sesungguhnya. Setelah ditekuk Real 2-4 di Santiago Bernabeu, Barca bukannya hancur namun mereka kembali ke trek juara.Dua belas angka mampu dikoleksi dari empat laga berikutnya. Selisih 6 angka dengan sisa tiga pertandingan membuat Raul dkk cuma bisa berharap Barca terpeleset. Namun harapan itu tak pernah terwujud. Real malahan yang tak bisa menghadapipressure dan bermain seri 1-1 melawan Sevilla. Beberapa jam setelah hasil itu Barca memastikan gelar juara pertama sejak 1999 di kandang Levante.Selain skuad yang komplet dan permainan yang konsisten, faktor Frank Rijkaard amat dominan dalam kesuksesan El Barca. Pelatih asal Belanda itu berhasil mendinginkan kursi kepelatihan yang di Nou Camp selalu panas.Bekas pemain AC Milan itu adalah tipikal pelatih yang sedikit bicara banyak bekerja. Di pinggir lapangan ia tampak sebagai lelaki yang tidak cerewet dan pembawaannya lumayan tenang, tapi ia melakoni pekerjaannya dengan sangat disiplin.Curriculum vitae kepelatihan Rijkaard masih terbatas. Dia memulainya langsung di timnas Belanda sebagai pengganti Guus Hiddink pasca Piala Dunia 1998 dan sempat menuai 11 pertandingan tanpa menang sebelum Euro 2000.Di turnamen itu ia cukup berhasil menyuguhkan permainan tim yang menyerang. Tapi saat menghadapi cattenaccio Italia di babak semifinal, Frank de Boer dkk frustasi dan terjungkal lewat adu penalti. Rijkaard kemudian mundur. Kemudian ia memperoleh kesempatan melatih klub ketika direkrut Sparta Rotterdam. Hasilnya? Klub ini malah terdegradasi dan Rijkaard pun ngabur.Itu sebabnya agak mengejutkan juga ketika bos Barcelona Joan Laporta memilihnya sebagai arsitek tim Catalan tersebut untuk musim 2003/2004. Di awal kampanyenya Barca menuai rentetan hasil yang buruk. Namun tidak seperti pendahulunya Louis van Gaal, Rijkaard tidak terpancing dengan goyangan media massa dan tetap konsentrasi.Hasilnya, di penghujung musim Barca dibawanya tampil sebagai runner up di bawah Valencia. Dan di musim keduanya ini, Rijkaard menaikkan Barca satu posisi dari sebelumnya, yakni ke tangga juara. (mel/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads