sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 01 Mar 2019 15:15 WIB

Laporan dari Spanyol

Rayo Vallecano, Memilih Jadi Liliput di Tengah Dua Raksasa Madrid

Mohammad Resha Pratama - detikSport
Rayo Vallecano, liliput di antara dua klub raksasa Kota Madrid (M Resha Pratama/detikSport)
Jakarta - Kota Madrid terlanjur identik dengan Real Madrid dan Atletico Madrid. Di balik ingar bingar duo raksasa itu, ada Rayo Vallecano sudah puas sekadar bisa eksis.

Tak ada yang perlu dibahas lagi soal Real Madrid. Mereka adalah salah satu ikon kota. El Real juga sudah sejak lama menjadi klub favorit Raja Spanyol. Tak cuma itu, mereka adalah raksasa sepakbola dengan predikat klub terkaya sekaligus tersukses di dunia.

Sementara Atletico Madrid belakangan muncul sebagai pengusik. Bukan cuma di Kota Madrid, tapi pengusik persaingan juara Liga Spanyol yang selama ini dimonopoli Madrid dan Barcelona. Sejak Diego Simeone datang di 2011, mereka jadi tetangga yang cukup menyebalkan, dan berhasil juga berbicara di level Eropa dengan dua kali menjuarai Liga Europa dan dua kali runner-up Liga Champions.

Di balik ingar bingar prestasi kedua raksasa ibukota itu, Kota Madrid sebenarnya juga punya beberapa klub lokal lainnya yang berlaga di berbagai level kompetisi. Sebut saja Getafe, Leganes, Rayo Vallecano, Alcorcon, Fuenlbrada, dan lainnya.

Rayo Vallecano, Memilih Jadi Liliput di Tengah Dua Raksasa MadridFoto: M Resha Pratama/detikSport




Di antara klub-klub tersebut, Rayo Vallecano punya cerita menarik untuk disimak. Secara geografis klub tersebut berada di regional yang sama dengan Madrid dan Atletico. Campo de Fútbol de Vallecas, kandang Rayo, hanya berjarak sekitar 20 menit menggunakan mobil menuju Santiago Bernabeu. Sementara dengan Wanda Metropolitano jaraknya malah hanya 15 menit berkendara.

Tapi tak seperti Madrid dan Atletico, tak banyak sejarah yang sudah diukir klub yang didirikan pada 29 Mei 1924 itu. Itu terkait erat dengan ambisi dan nilai yang diusung klub ini.

Tak seperti dua tetangga dekatnya, Rayo relatif kurang punya ambisi untuk bisa bertarung di Spanyol atau Eropa. Mereka cukup puas untuk bisa sekadar bisa membahagiakan suporter setianya. Puas untuk sekadar bisa eksis.

"Kami hanya ingin jadi klub kecil saja untuk wilayah kami, kelas pekerja. Para fans pun tak menuntut trofi atau apapun, karena bagi mereka yang penting adalah bisa mempertahankan harga diri serta nilai-nilai klub yang ada di jersey klub ini (simbol garis merah menyilang)," ujar Head of Press and External Relations Rayo, Fernando Lopez, kepada detiksport dan sejumlah wartawan dalam acara media trip LaLiga, Rabu (27/2/2019).



Berada di distrik Vallecas, Rayo cuma jadi klub kecil untuk penduduk di sekitarnya. Tak ada yang bisa ditonjolkan dari perjalanan klub itu selama 94 tahun, selain pernah tampil sekali di Piala UEFA 2000/2001.

Mereka bahkan lebih sering lalu lalang di divisi dua dan tiga sebelum promosi ke kasta teratas pada 1977/1978 dan degradasi tiga musim setelahnya. Rayo lantas naik ke LaLiga pada 2000/2001 sebelum terdegradasi di akhir musim 2002/2003.

Rayo sempat mengalami kemunduran akibat masalah keuangan ketika mereka terjun lagi ke divisi tiga pada tahun 2004 dan berada di sana hingga 2008. Lalu Rayo promosi lagi ke LaLiga pada 2011/2012 untuk bertahan di sana selama lima musim, sebelum main lagi di Segunda Division pada 2017 dan 2018.

Musim ini sebenarnya menandai bangkitnya lagi Rayo setelah mereka promosi ke LaLiga sebagai juara Segunda Division. Tapi, lagi-lagi, karena minimnya dana transfer dan kualitas pemain, Rayo pun calon kuat terdegradasi karena kini duduk si posisi ke-19 dengan 23 poin, selisih dua angka dari zona aman.

Tak ada cerita manis yang bisa dituliskan oleh Rayo yang dari segi apapun, mereka kalah kelas ketimbang Madrid dan Atletico. Rayo sebenarnya bisa mengikuti jejak klub-klub LaLiga yang mencari investor dari luar Spanyol, khususnya Asia, untuk bisa memperkuat pendanaan.

Rayo Vallecano, Memilih Jadi Liliput di Tengah Dua Raksasa MadridFoto: M Resha Pratama/detikSport


Tapi, Rayo tak mau melakukan itu karena bagi mereka trofi atau nama besar bukanlah yang terpenting. Sebab Rayo hanya ingin tampil sebaik mungkin di mana pun kompetisinya untuk bisa membahagiakan fans lokal mereka.

"Kami memang bekerja keras untuk bisa mempromosikan klub ke luar tapi lagi-lagi terkendala dana terbatas tim ini. Tapi itu tidak masalah, karena yang penting fans Rayo senang dan bisa dekat dengan pemain," sambung Lopez.

"Usai pertandingan mereka bisa dengan mudah foto bareng pemain dan sebagainya saat sesi latihan pun. Trofi tidak penting untuk fans Rayo."

Hal senada pun disampaikan sang pelatih, Michel, yang merupakan warga asli Rayo. Dia mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk Rayo setelah lulus dari akademi klub itu. Karier melatihnya sejak 2016 cuma di tim muda Rayo dan kini tim senior.

Bagi Michel, pengabdian besar untuk Rayo saat ini adalah sebagai balas jasa kepada klub yang telah membuatnya sampai di titik seperti sekarang. Meski tidak jadi pemain besar, Michel minimal bisa dianggap sebagai salah satu pemain besar klub tersebut.

"Persaingan di LaLiga memang sulit dan tidak mudah untuk bisa bertahan di sana. Apalagi dengan pembagian kue hak siar seperti sekarang. Saya hanya ingin mempertahankan Rayo selama mungkin di LaLiga dan tak tahu seperti apa masa depan saya sebagai pelatih nantinya," tutur Michel dalam kesempatan yang sama.

"Yang penting saya ingin membantu agar Rayo bisa bertahan di LaLiga. Saya senang bisa mengabdikan diri di klub ini," sambungnya.


Rayo Vallecano, Memilih Jadi Liliput di Tengah Dua Raksasa Madrid
(mrp/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com