Menunggu Sentuhan 'Malaikat Pirang'
Selasa, 10 Jul 2007 07:22 WIB
Jakarta - Real Madrid memutuskan tak mau lagi merasakan sentuhan emas si Raja Midas bernama Don Fabio Capello. Kini yang dinantikan adalah sentuhan "Malaikat Pirang" dalam wujud Bernd Schuster. Ramon Calderon mungkin terlalu gengsi untuk mempertahankan Capello, yang faktanya berhasil menyudahi puasa gelar juara dalam tiga musim terakhir berturut-turut. Barangkali satu titel tetap tidak cukup untuk tim sekaliber Los Blancos.Menurut presiden klub raksasa Spanyol itu, sepakbola a la Capello tidak menghibur dan cenderung defensif. Unsur entertainment itulah yang membuat Calderon memilih Schuster."Di mata saya timnya (Getafe) bermain bagus, menampilkan sepakbola yang menghibur. Dia mengenal klub ini dan tahu bagaimana menangani sebuah klub yang bertabur bintang," demikian penilaian Calderon tentang Schuster.Untuk menciptakan sebuah hiburan -- hiburan yang indah -- Schuster mengisyaratkan Real akan memainkan sebuah gaya yang lebih rileks. Dalam filosofisnya, taktik dan teori tidak lebih penting ketimbang menempatkan pemain yang tepat pada posisi yang tepat."Buat saya inilah yang paling penting, melebihi segala sistem bermain," ungkap pria berusia 47 tahun itu.Semasa menjadi pemain Schuster adalah sosok kontroversial. Ia mundur dari timnas Jerman dalam usia muda, 24 tahun, karena merasa tak pernah menemukan kecocokan dengan federasi maupun pelatih.Banyak pelatihnya di klub juga kesulitan menjalin hubungan personel yang kuat dengan laki-laki yang oleh fansnya dijuluki Blond Angel alias "Malaikat Pirang" itu. Tapi di luar kontroversinya, Schuster adalah pemain yang sangat hebat di era 80-an. Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid pernah merasakan kekuatan permainan dan kepemimpinannya di tengah lapangan. Selama 13 tahun berkarir di Negeri Matador ia menghasilkan sembilan tropi domestik, selain satu gelar Piala Winners bersama Barca (1992). Ia juga tiga kali masuk nominasi tiga besar pemain terbaik Eropa. Sayang, ia hanya meraih Silver Ball (1980) dan Bronze Ball (1981 dan 1985). Dalam daftar pemain terhebat sepanjang masa versi polling UEFA di tahun 2004, ia berada di urutan ke-40.Dalam karirnya sebagai pelatih Schuster belum pernah menukangi klub besar, bahkan kebanyakan tim level rendah seperti Fortuna Koln, FC Koln, Xerez, dan Levante. Shakhtar Donetsk (Ukraina) adalah klub divisi satu pertama yang ia tangani, itupun berakhir dengan pemecatan di akhir musim pertamanya.Baru setelah didepak Levante di musim panas 2005, Schuster memperoleh titik balik dalam karirnya. Hasil kerjanya di Getafe mulai memperlihatkan kualitasnya. Musim lalu ia mengantarkan klub kota Madrid itu ke jenjang terbaik dalam sejarah mereka, finis di peringkat ketujuh La Liga dan jadi runner up Copa del Rey.Kini, setelah ditunjuk untuk melatih Real Madrid, reputasi Schuster tentu menanjak. Di sisi lain ia menduduki kursi yang dipastikan bisa cepat panas. Kalau bukan dia sendiri yang mendinginkan tempat duduknya itu, vonis pemecatan akan mudah diketok petinggi Real, sebagaimana dialami banyak pendahulunya termasuk Capello."Saya tahu klub ini menuntut hasil maksimum, yang berarti juga memenangi hati semua fans. Tapi saya tidak takut. Sejak hari pertama, saya bisa memiliki kepercayaan penuh pada skuad yang akan kami miliki tahun ini. Kita semua tahu ini takkan mudah. Tapi buat saya tidak ada yang sulit," papar Schuster. Madridista tentu akan senang mendengarkan optimisme seperti itu. Dan berikutnya waktu yang akan membuktikan apakah sentuhan "Malaikat Pirang" ini dapat mengembalikan Real Madrid ke masa keemasan mereka. (a2s/din)











































