Pertahanan Fiorentina Rapat
Tampil dengan formasi 4-3-1-2, pelatih Fiorentina Vincenzo Montella menginstruksikan keempat beknya untuk bermain disiplin pada garis pertahanan yang dalam. Dalam skema empat bek, kedua fullback kerap dituntut untuk maju guna menghidupkan serangan lewat sayap. Namun ini berbeda pada laga semalam. Kedua fullback Fiorentina, Nenad Tomovic dan Manuel Pasqual, malah difungsikan untuk bertahan pada area sepertiga pertahanan Fiorentina.
Hal inilah yang menyulitkan Milan untuk masuk ke area kotak penalti Fiorentina. Sekalipun bola masuk ke area kotak penalti, lini penyerangan Milan tidak mampu melesakkan tembakan terarah ke gawang Neto.
Gangguan dan penjagaan ketat yang dilakukan oleh barisan pertahanan Fiorentina membuat I Rossoneri tidak mampu berbuat banyak. Bahkan, tercatat hanya 1 kali tembakan terarah ke gawang Fiorentina yang mampu dihasilkan sepanjang laga.

Bermain Melebar Guna Menguasai Bola
Dengan rapatnya pertahanan Fiorentina, pelatih Milan Massimiliano Allegri pun menginstruksikan para pemainnya untuk bermain melebar. Hal tersebut tidak semata-mata hanya untuk menguasai ball possession. Membuka ruang agar pemain Fiorentina tidak menumpuk di area pertahanannya jadi tujuan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Posisi Pemain Fiorentina (Merapat)

Posisi Pemain Milan (Melebar)
Memang, melalui skema tersebut, pada akhirnya Milan mampu menguasai bola. Akan tetapi, siasat Milan guna membuka ruang di lini pertahanan tidak berhasil memancing pemain Fiorentina untuk bergerak keluar. Barisan pertahanan Fiorentina tetap keukeuh untuk menjaga areanya.
Pada akhirnya Milan pun hanya melakukan passing di areanya sendiri. Ini terlihat dari kombinasi passing tertinggi Milan.

Pressing Ketat Gelandang Fiorentina
Tidak hanya karena lini pertahanan yang rapat, para pemain Milan sulit bergerak membangun serangan karena adanya pressing ketat dari gelandang Fiorentina. Dihuni oleh Alberto Aquilani, Massimo Ambrosini, dan Juan Vargas, ketiganya mampu berperan dalam menjaga rapatnya pertahanan Fiorentina. Digantinya Ambrosini oleh Matias Vecino pada menit ke-33 pun tidak berdampak apa-apa terhadap performa barisan gelandang.
Tak hanya susah payah melakukan penetrasi ke area kotak penalti lawan, Milan pun sulit melakukan tembakan dari luar area kotak penalti. Hal itu ditunjukkan oleh barisan gelandang Fiorentina dengan mampu memblok tembakan yang dilesakkan dari area luar kotak penalti.
Demikian juga dengan catatan clearance. Meski Milan unggul dalam catatan clearance (37 kali) dari Fiorentina (22 kali), clearance yang dilakukan oleh Milan lebih banyak berada pada area sisi lapangan. Artinya, dengan pressing ketat yang diterapkan Fiorentina, Milan tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Fiorentina mampu menguasai bola.
Apalagi dengan pola permainan Milan yang melebar, tentunya hal tersebut akan membuka lubang pada pertahanan Milan.
Sayap Kiri Pada Poros Serangan Kedua Tim
Meski jarak antarpemain Fiorentina cukup rapat, serangan tidak dibangun lewat tengah. Sisi kiri menjadi area serangan favorit bagi Fiorentina dalam membangun serangan. Hal tersebut tidak lepas dari skema yang diterapkan oleh Milan.
Dengan jarak antar pemain yang cukup melebar, Milan lebih unggul dalam bermain melalui sayap. Inisiasi serangan yang kerap dibangun melalui kombinasi antara Kevin Constant, Sulley Muntari, dan Kaka membuat Fiorentina menekankan pertahanan pada sisi kanan.
Bahkan Giuseppe Rossi kerap turun ke sisi kanan lini tengah guna membantu meredam pergerakan pemain Milan. Praktis, dengan menumpuknya amunisi pemain di sisi kanan pertahanan, Fiorentina pun membangun serangan melalui sisi kiri penyerangannya.
Namun kedua tim tidak bisa menjalankan strategi menyerang dari sisi kiri dengan baik. Kredit khusus pun patut disematkan kepada barisan pertahanan Milan juga dengan Fiorentina.
Milan yang Dirugikan
Walaupun kedua tim mampu meredam serangan lawannya dengan baik, akan tetapi Milan berada pada posisi yang dirugikan. Karena secara kuantitif sebenarnya Milan yang lebih mengandalkan sisi kiri dalam menyerang.
Milan memang menjadikan sisi kiri penyerangannya sebagai pola dalam membangun serangan. Milan telah beberapa kali mengandalkan sisi kiri dalam membangun serangannya, termasuk pada laga Milan menghadapi Barcelona di putaran grup Liga Champions.
Tidak adanya skema alternatif yang dibangun Allegri pun turut memperparah kerugian yang dialami oleh Milan. Memang, sempat ada pergantian pemain, yaitu Valter Birsa digantikan oleh M'baye Niang dan Milan berganti ke formasi 4-3-1-2. Akan tetapi skema yang diterapkan pun tetap sama. Serangan Milan acap dibangun lewat sisi kiri.
Tentunya, hal ini berbeda dengan kondisi Fiorentina. Apalagi Montella sendiri tidak menginstruksikan pola permainan Fiorentina dalam intensitas tinggi. Serangan dibangun tidak lepas dari sekedar melakukan sesekali serangan balik dengan memaksimalkan peran pemain yang ada di sisi kiri. Karena sebagaimana yang telah diketahui, amunisi pemain Fiorentina sebagian besar dimaksimalkan pada sisi kanan pertahanannya.
Sehingga, praktis sisi kiri yang notabene tidak begitu banyak menerima tekanan dari pemain Milan menjadi poros serangan Fiorentina.
Lini Pertahanan Milan yang Rapuh
Meskipun barisan pertahanan Milan mampu tampil baik dengan berhasil meredam serangan sayap kiri Fiorentina. Akan tetapi, secara umum, keempat bek sejajar Milan kurang baik dalam menjaga lini pertahanan. Setidaknya itu lah yang menyebabkan gol-gol yang lahir dari pemain Fiorentina.
Cukup banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh barisan pertahanan Milan di luar kotak penalti seolah memberikan kesempatan bagi Fiorentina dalam melakukan serangan. Hal ini tentunya cukup menguntungkan bagi Fiorentina ditengah tidak banyaknya kesempatan dalam melakukan serangan.

Pelanggaran Milan (Arah Gawang Fiorentina di Kanan)
Gol yang dicetak oleh Juan Vargas pun tak lepas dari tendangan bebas yang berawal dari pelanggaran oleh pemain Milan di luar kotak penalti.
Kesalahan intersepsi yang dilakukan pun acap menjadi titik lemah bagi lini pertahanan Milan, selain kurang baik dalam duel udara. Kesalahan intersepsi yang dilakukan oleh Gabriel pun tidak lepas menjadi penyebab gol yang berhasil dicetak oleh Borja Valero.
Kesimpulan
Jika melihat pada produktifitas gol, dapat dikatakan laga ini merupakan laga terburuk Milan. Sebelumnya, sepanjang gelaran kompetisi Serie A musim ini, Milan selalu berhasil mencetak gol di setiap laganya.
Selain itu, Allegri sendiri masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam membenahi skuatnya. Masalah seperti rapuhnya lini pertahanan, minimnya variasi serangan tentunya harus dibenahi agar setidaknya. Ia mampu membuktikan kapasitasnya dan tetap berada pada posisi aman di kursi kepelatihan I Diavolo Rosso.
Sedangkan bagi Fiorentina, tentunya Montella dapat sedikit berbangga setelah mampu meraih kemenangan pasca mengalami kekalahan ketika menghadapi Napoli. Variasi formasi dan skema yang diterapkan oleh Montella di beberapa laga Serie A menunjukkan bahwa Fiorentina mampu beradaptasi dengan baik.
(mfi/mfi)











































