sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 20 Feb 2014 14:13 WIB

Liga Champions: Arsenal 0-2 Bayern

Serangan Bayern yang Variatif dan Dua Peran Lahm

- detikSport
AFP/Ian Kington
Jakarta - Sejarah berulang. Bayern Munich berhasil mengulang raihan putaran 16 besar Liga Champions musim lalu dengan kemenangan atas Arsenal di Stadion Emirates. Namun, jika pada musim lalu pertandingan berakhir dengan skor 3-1, maka kali ini cukup dengan 2-0 saja.

Uniknya, Toni Kroos dan Thomas Mueller, pencetak gol pertama dan kedua Bayern pada laga tahun lalu, kembali mengulang prestasi yang sama. Semalam mereka kembali mencatatkan diri sebagai pembobol gawang Arsenal. Kroos melakukannya pada menit ke-54, sementara Mueller pada menit ke-88.

Meski banyak momen yang kembali terulang, nyatanya Bayern Muenchen datang dengan kekuatan yang berbeda dengan musim lalu. Terlebih setelah Pep Guardiola menukangi Bayern. Kini Bayern mengandalkan formasi 4-1-4-1, dengan poros serangan yang berada pada posisi gelandang bertahan, sebagai senjata andalan. Dan perubahan skema permainan FC Hollywood ini yang memaksa Arsenal untuk memberi perlakuan berbeda.

Jebakan Offside yang Kerap Gagal

Sebenarnya Arsenal sendiri mampu menggempur pertahanan lawan, meski Bayern tampil dengan skema yang berbeda. Setidaknya itu yang terjadi pada 10 menit awal pertandingan. Ini terutama karena Arsenal mampu menembus strategi jebakan offside Bayern.

Dengan menerapkan garis pertahanan yang tinggi, Bayern sendiri mau tidak mau harus menggunakan skema jebakan offside. Selain karena jarak antar pemain yang rapat, skema ini pun dilakukan guna menahan gempuran serangan Arsenal yang sering mengandalkan umpan-umpan through pass.

Namun, buruknya skema jebakan offside yang diterapkan membuat lini pertahanan Bayern menjadi rentan. Tidak padunya keempat bek sejajar untuk maju, membuat barisan penyerangan Arsenal mampu mendapatkan beberapa kali peluang matang. Terlebih lagi pada sisi kiri pertahanan Bayern. Pos yang dihuni David Alaba ini sering dijadikan area serang Arsenal.

Terlambat naiknya lini pertahanan, dan penempatan posisi para bek yang kurang baik, membuat Arsenal seolah diizinkan untuk melakukan kreasi serangan. Bahkan, baik Mesut Oezil ataupun Santi Cazorla, yang notabene bukan berada di posisi sayap kanan, sempat melakukan penetrasi dari sisi tersebut.
 
Skema jebakan offside yang kerap gagal pun akhirnya mampu dimanfaatkan Arsenal. Oezil, yang menerima umpan terobosan dari Jack Wilshere, langsung berhadapan dengan gawang sehingga Jerome Boateng terpaksa melakukan pelanggaran berbuah penalti. Namun eksekusi penalti yang dilakukan oleh Oezil gagal menjadi gol karena berhasil ditepis Neuer.

Bertahan dengan 4-2-3-1, Menyerang dengan 4-1-4-1

Salah satu alasan cukup sulitnya Arsenal menembus pertahanan Bayern adalah transisi dari menyerang ke bertahan yang padu. Jarak antar lini yang rapat memang menyaratkan agar seluruh pemain Bayern bermain secara serempak, baik pada saat menyerang maupun bertahan. Atas dasar kondisi ini, guna menahan serangan, maka Pep pun menerapkan dua formasi dalam pertandingan ini.

Kala menyerang, Bayern akan mengandalkan formasi 4-1-4-1 dengan peran pembagi bola dibebankan pada posisi gelandang bertahan yang diisi Thiago Alcantara.

Formasi 4-1-4-1 ini mampu membuat Bayern lebih mudah dalam melakukan serangan secara serempak. Ini karena Bayern tidak perlu kesulitan karena akanada 5 pemain yang setidaknya berada pada sepertiga area serang.

Sedangkan ketika bertahan, guna mengimbangi barisan serang Arsenal, Bayern turun dengan formasi 4-2-3-1. Poros tunggal yang awalnya hanya dihuni Thiago Alcantara berubah menjadi poros ganda. Dalam hal ini, Javi Martinez yang bertugas untuk menemani Thiago Alcantara pada poros ganda.

Dengan taktik Bayern tersebut, skema Arsenal, yang kerap mengandalkan umpan pendek sembari memanfaatkan celah guna mengirimkan umpan through pass, gagal diterapkan dengan baik.

Peran Ganda Philipp Lahm

Kredit khusus patut disematkan kepada Philipp Lahm. Ini karena peran ganda Lahm sebagai penghalau serangan dan inisiator serangan mampu dijalankannya dengan baik.
 
Ketika bertahan, ia mampu menjaga keseimbangan dengan tetap berada pada posisinya dan tidak banyak melakukan overlapping. Terlebih pada interval waktu babak pertama pertandingan, peran Lahm dalam membantu pertahanan sangatlah terlihat.

Lahm, yang berada pada posisi bek kanan, sengaja ditempatkan Pep guna menahan serangan Arsenal pada sisi ini. Triangular yang kerap dibangun oleh Jack Wilshere, Santi Cazorla, dan Mesut Oezil pun mampu digagalkan Lahm. Akibatnya, serangan Arsenal dari sisi kiri pun mati. Hal inilah yang menyebabkan Arsenal lebih fokus menyerang dari sisi kanan.


*Serangan Arsenal (Dominan Berasal dari Sisi Kanan)

Peran Lahm berubah pada babak kedua. Ini karena Szczesny mendapatkan kartu merah, akibat melanggar Arjen Robben, sehingga alur pertandingan berubah. Masuknya Lukasz Fabianski untuk menggantikan Cazorla membuat Lahm digeser untuk bermain pada posisi gelandang bertahan.

Ditariknya Cazorla tentu akan membuat Arsenal kehilangan salah satu tumpuan serangannya. Selain itu, dalam bertahan pun Arsenal akan cukup kesulitan karena hanya menempatkan Macho Monreal yang masuk menggantikan Kieran Gibbs.

Hal inilah yang mendorong Pep untuk melepas sisi kanan pertahanannya dan menggeser Lahm menuju posisi poros tunggal. Hasilnya, Lahm pun mampu menjalankan peran sebagai inisiator serangan dengan baik.

Kombinasi antara Lahm, Kroos, Thiago, dan Arjen Robben mampu mengobrak-abrik sisi kiri pertahanan Arsenal. Bahkan, kedua gol Bayern pun bermula dari kombinasi passing pada sisi kiri pertahanan Arsenal.


*Combinasi Passing Bayern

Serangan Bayern yang Bervariasi

Faktor lainnya yang menyebabkan Bayern mampu unggul atas Arsenal adalah pola serangan yang variatif. Pep menyiapkan dua cara bagi Bayern untuk untuk masuk ke area penalti. Pertama, Bayern mengirimkan bola lob ke depan, sementara cara kedua adalah crossing dari sayap kanan.

Striker Bayern yang kerap bergerak turun berhasil memancing pergerakan dua centre-back Arsenal. Ketika centre-back terpancing, maka pemain dari lini kedua Bayern-lah yang akanb masuk ke ruang kosong yang sebelumnya telah ditinggalkan.

Hasilnya, melalui skema tersebut, Thomas Mueller mampu menghasilkan gol penutup pada laga ini.

Menariknya, meski Arsenal memiliki Per Mertesacker yang notabene lebih unggul dalam duel udara, Pep tidak terpancing untuk bermain dengan umpan through pass, dan lebih mengandalkan umpan lambung. Ini karena Mertesacker sendiri kerap terpancing untuk meninggalkan posisinya.

Tidak ada pemain Arsenal lainnya yang menutup lubang pun membuat kelemahan Mertesacker tersebut mampu dimanfaatkan dengan baik oleh barisan serangan Bayern dengan mengirimkan bola lob.

Selain bola lob ke depan, taktik umpan silang juga kerap diperagakan pemain Bayern. Dan, percobaan berkali-kali Bayern lewat crossing dari sisi kanan justru membuat Arsenal terbawa arus permainannya. Tanpa sadar, Arsenal melupakan pola permainan yang lainnya yaitu serangan Bayern juga dibangun melalui bola lambung.

Kesimpulan

Tidak terbantahkan, dikartumerahnya Wojciech Szczesny membuat laga ini tampak timpang. Meskipun Arsenal cukup sulit untuk mengembangkan permainan, namun bermain dengan 10 orang tentu akan membuat pertandingan menjadi bertambah timpang.

Satu pekerjaan rumah bagi Arsene Wenger adalah bagaimana dengan skema yang diterapkan, mereka mampu meminimalisir kesalahan yang tentunya akan merugikan Arsenal sendiri.

Bagi Bayern, kemenangan ini akan mengamankan kans mereka menuju babak perdelapan final. Di samping itu, Pep Guardiola pun patut berbangga atas kinerja timnya. Apalagi ia sukses dengan eksperimennya untuk memaksimalkan peran Lahm. Skor akhir 2-0 untuk kemenangan Bayern sendiri dapat dikatakan sebagai hal yang pantas.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com