El Real Berhasil Mengatasi Kepanikan Akibat Agresifnya Atletico

Liga Spanyol: Atletico 2-2 Real Madrid

El Real Berhasil Mengatasi Kepanikan Akibat Agresifnya Atletico

- Sepakbola
Senin, 03 Mar 2014 13:07 WIB
El Real Berhasil Mengatasi Kepanikan Akibat Agresifnya Atletico
Gonzalo Arroyo Moreno/Getty Images
Jakarta -

Pertandingan derbi memang selalu mengundang daya tarik tersendiri. Pertandingan panas dan menegangkan pun kerap terjadi pada pertandingan derby di negara manapun, tidak terkecuali pada derby Madrid tadi malam.

Atletico Madrid dan Real Madrid, dua klub raksasa dari ibu kota Spanyol, bertemu di pekan ke 26 Liga Spanyol, dan mereka berbagi skor 2-2.

Vicente Calderon menjadi tempat kejadian perkara derby Madrid keempat musim ini. Sebelumnya, Atletico berhasil membungkan Real Madrid 1-0 di laga pertama di Santiago Bernabeu. Madrid kemudian membayar lunas ketika 2 kali mengalahkan Atletico di kandang maupun tandang saat pertandingan semifinal Copa Del Rey. Tidak tanggung-tanggung, Real Madrid mengalahkan Atletico dengan agregat 5 gol tanpa balas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atletico yang sangat membutuhkan poin penuh, tentu tidak lagi mau dipermalukan tetangganya di kandang sendiri. Namun, keunggulan 2-1 hingga menit ke-82 tak mampu dipertahankan oleh Diego Costa dkk dan Cristiano Ronaldo pun mencetak gol penyeimbang. Hasil ini membuat Atletico tak pernah mengalahkan Real Madrid di Vicente Calderon selama lebih dari satu dekade.

Formasi Kedua Tim

Kedua pelatih menurunkan formasi yang sedikit berbeda dari 2 pertandingan sebelumnya. Diego Simeone menggunakan 4-5-1 dengan hanya menempatkan Diego Costa sendiri di depan. Di tengah, Atletico memainkan 5 gelandang, Raul Garcia, Arda Turan, Koke, Gabi, dan Mario Suarez.

Sedangkan barisan pertahanan tidak ada perubahan dari sebelumnya. Keempat bek utama, Juanfran, Miranda, Godin, dan Felipe Luis membantu Curtois dalam menjaga gawang.

Sementara itu, Real Madrid masih menggunakan trio "BBC"-nya di lini depan (Benzema, Bale, Cristiano), dengan kali ini dibantu oleh Di Maria, Modric, dan Xabi Alonso di tengah. Di belakang, Ancelloti memilih untuk memainkan Arbeloa dan Coentrao pada bek sayap kanan dan kiri, sedangkan duet centerback dipercayakan kepada Sergio Ramos dan Pepe.


[Starting XI kedua tm. Sumber: whoscored.com]

Agresivitas Tinggi Atletico

Pertandingan benar-benar mencerminkan suasana derby dua tim papan atas yang sedang memperebutkan gelar juara. Permainan keras yang tidak jarang menghasilkan pelanggaran, bentrokan antarpemain, drama-drama di lapangan, dan dilengkapi dengan beberapa keputusan kontroversial wasit benar-benar menjadi bumbu yang menarik bagi penonton. Total 37 pelanggaran dan 5 kartu kuning harus dikeluarkan wasit selama 90 menit.

Sang tuan rumah justru lengah pada awal pertandingan. Puluhan ribu pendukung Atletico dibuat terdiam sesaat setelah Karim Benzema berhasil meneruskan crossing Di Maria untuk mencetak gol pada menit kedua.

Filipe Luis, yang ketika itu berada di garis paling belakang, terlambat satu langkah dalam melakukan jebakan offside. Wasit berada dalam posisi yang tepat sehingga dapat melihat bahwa Benzema tidak berada dalam posisi offside. Ia pun mengesahkan gol pertama Real Madrid.

Setelah kecolongan satu gol, Atletico yang tidak mau kembali dipermalukan di depan pendukungnya sendiri mulai menunjukkan permainan sesungguhnya. Simeone membuktikan kelasnya sebagai arsitek lapangan hijau kelas dunia dengan membungkam Real Madrid di babak pertama. Bagaimana tidak, klub berjuluk Los Galacticos ini dibuat sama sekali tidak dapat menguasai bola.

Simeone memerintahkan pemainnya untuk bermain sangat agresif. Ketika pemain Real Madrid menguasai bola, minimal 2 pemain akan langsung menyergap. Seolah-olah tidak peduli dengan skill individu kelas atas yang dimiliki pemain-pemain Madrid, para pemain Atletico terus memburu di manapun pemain lawan memegang bola.

Hasilnya, 38 percobaan tekel dilakukan para pemain Atletico, meski hanya 21 yang berhasil. Hal ini sudah cukup membuat Madrid tidak dapat menguasai pertandingan.

Chalkboard operan Real Madrid di babak pertama di bawah menunjukan bagaimana serangan Madrid harus kandas bahkan sebelum bola mendekati kotak penalti Atletico. (Sumber: Four Four Two)



Permainan agresif Atletico saat bertahan memang berdampak pada serangan mereka yang juga terkesan terburu-buru. Setelah berhasil merebut bola, para pemain Atletico langsung berlari menuju ruang kosong untuk menerima umpan panjang dari belakang. Hal ini membuat serangan Atletico pun menjadi mudah dibaca bek-bek Madrid.

Namun kemudian, serangan sporadis yang tak berpola ini menjadi tidak masalah ketika para pemain Madrid ternyata terpancing untuk memainkan pola yang sama. Permainan cepat dan agresif para pemain Atletico, ditambah atmosfer derby dan stadion Vicente Celderon yang seolah-olah mendukung permainan keras yang diperagakan Atletico, membuat barisan pertahanan Madrid terlihat panik menghadapai serangan tanpa pola ini. Pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu pun kerap terjadi akibat dari kepanikan pemain bertahan Madrid.

Hasilnya, satu gol tercipta setelah barisan pertahanan Madrid memberikan ruang bagi Koke untuk berdiri sendiri di kotak penalti. Terlihat pada gambar bagaimana bek-bek kelas dunia Real Madrid dapat membiarkan seorang pemain lawan berdiri bebas di dalam kotak penalti.


[Proses terjadinya gol pertama Atletico]

Tidak berhenti sampai di situ, sebelum babak pertama berakhir, Atletico menegaskan keunggulannya dengan melesakkan satu gol lagi. Kali ini melalui tendangan spektakuler jarak jauh oleh sang kapten, Gabi.

Babak Kedua: Atletico Menurunkan Tempo

Bermain dengan cara seperti babak pertama memang akan menguras banyak tenaga. Dan tetap mempertahankan cara bermain ini hingga 90 menit sepertinya dianggap sangat berisiko oleh Simeone. Pemain Atletico dapat tumbang lebih dulu sebelum wasit meniupkan peluit akhir pertandingan.

Mengingat skor juga sudah unggul, Simeone langsung mengubah cara bermain anak-anaknya. Agresivitas tinggi para pemain Atletico sudah tidak lagi diperagakan. Kali ini Atletico bertahan dengan membentuk zonal marking rapat di belakang. Dengan membentuk formasi 4-4-1-1 para pemain Atletico menahan serangan Madrid.

Ancelotti yang tidak senang dengan apa yang diperagakan timnya di babak pertama pun mengubah keadaan. Anak-anaknya diperintahkan untuk bermain lebih tenang dan tidak terpancing permainan cepat lawan.

Real Madrid lebih memainkan bola-bola pendek sebeum memasuki pertahanan lawan. Hal ini juga menjadi lebih mudah ketika Atletico tidak lagi melakukan pressing agresif ketika pemain Madrid menguasai bola.

Real Madrid mulai bisa menguasai jalannya pertandingan. Penguasaan mulai menjadi milik tim tamu dengan 63% berbanding 37% bagi Atletico. Chalkboard operan Madrid di babak kedua di bawah ini menunjukkan bagaimana mereka mulai bisa melakukan operan-operan di daerah pertahanan Atletico. (Sumber: Four Four Two)




Namun rapatnya barisan pertahanan Atletico membuat Madrid tetap kesulitan untuk memasukkan bola ke kotak penalti lawan. Tidak adanya penghubung antara duet Xabi Alonso dan Luca Modric di tengah dengan trio 'BBC' juga membuat Madrid kemudian hanya bisa mengalirkan bola ke pinggir lapangan.

Di Maria yang seharusnya bertugas sebagai penguhubung tersebut terlalu sering berada di pinggir karena ia coba keluar dari tekanan para gelandang bertahan Atletico.

Madrid kemudian lebih sering melakukan crossing-crossing dari sayap. Total 18 kali umpan silang dilakukan para pemain Real Madrid pada babak kedua. Rapatnya barisan pertahanan Atletico di kotak penalti membuat hanya 7 umpan silang yang berhasil sampai di kepala para pemain Madrid.

Namun kesabaran para pemain Madrid terbayar pada menit ke 82. Kelengahan sesaat yang dilakukan pertahanan Atletico berujung pada sepakan Ronaldo ke pojok kiri bawah gawang Courtois.

Ketika itu, bola Mario Suarez, yang gagal dikuasai dengan baik, berhasil direbut kembali oleh Carvajal. Crossing yang mengarah ke Gareth Bale kemudian diberikan kepada Ronaldo yang ketika itu tidak terkawal. Satu tendangan keras mendatar tidak dapat dijangkau oleh Courtois dan membuat kedudukan kembali imbang.

Dengan hasil ini Real Madrid tetap berada di puncak klasemen dengan selisih 1 poin dari Barcelona yang berhasil mengalahkan Almeria. Sedangkan Atletico masih harus rela tertinggal 3 poin dari Real Madrid. Namun, persaingan ketiga klub teratas Liga Spanyol ini memang masih sangat ketat. Ketiganya masih berpeluang untuk menjuarai Liga pada akhir musim.

Sangat menarik untuk dinantikan siapa yang akan berhasil berada di puncak dan siapa yang akan tergelincir pada akhir musim.


====

* Dianalisis oleh @panditfootball. Lihat profil di sini.

(a2s/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads