City Juara Setelah Dobrak Solidnya Lini Tengah dan Belakang Sunderland

Final Piala Liga Inggris: Man City 3-1 Sunderland

City Juara Setelah Dobrak Solidnya Lini Tengah dan Belakang Sunderland

- Sepakbola
Senin, 03 Mar 2014 14:53 WIB
City Juara Setelah Dobrak Solidnya Lini Tengah dan Belakang Sunderland
AFP/Glyn Kirk
Jakarta -

Manuel Pellegrini berhasil mendatangkan trofi pertamanya untuk Manchester City. Ia sukses mengalahkan sesama tim Premier League, Sunderland, 3-1, di pertandingan final Piala Liga Inggris di Wembley.

Sunderland sempat unggul 1-0 pada jeda babak pertama setelah striker pinjaman dari Liverpool, Fabio Borini, mencetak gol pembuka. Para pendukung City pun seolah dibayang-bayangi kegagalan mereka di Wembley Bulan Mei tahun lalu setelah dikalahkan Wigan Athletic di final Piala FA.

Namun City berhasil bangkit pada babak kedua dan berhasil mencetak 3 gol melalui sepakan fantastis Yaya Toure, tendangan first time Samir Nasri, dan gol Jesus Navas di pengujung pertandingan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Susunan Pemain

Pellegrini menurunkan skuat yang kuat di depan namun terlihat agak rapuh di belakang. Pemilihan Costel Pantilimon sebagai penjaga gawang menimbulkan sedikit tanda tanya. Namun, mengingat ia kiper yang selalu bermain di Piala Capital One, tampil di final tentu menjadi bonus tersendiri baginya.

Sementara itu, Sergio Aguero sudah kembali seutuhnya dan diturunkan untuk mendongkrak lini depan.

Di pihak Sunderland, Gus Poyet yang diharapkan menurunkan skuat terbaiknya, kali ini malah menurunkan skuat tipikal tim kecil menghadapi tim besar, yaitu skuat yang lebih defensive. Tiga mantan pemain Manchester united diturunkan di belakang, yaitu kapten John O'Shea, Wes Brown, dan Phil Bardsley, sementara gelandang sayap kiri diisi oleh Jack Colback yang biasa bermain sebagai bek kiri.

Mantan pemain sayap Manchester City yang sedang on fire, Adam Johnson, juga diturunkan untuk mengobrak-abrik pertahanan mantan timnya tersebut.


[Susunan pemain Manchester City dan Sunderland. Sumber: WhoScored.com]

Jalannya Pertandingan

Manchester City berhasil menguasai pertandingan sepenuhnya atas Sunderland. Mulai dari menit awal-awal pertandingan mereka bahkan sudah mengontrol tempo permainan.

Namun Sunderland bermain sabar dan disiplin. Dengan mengandalkan pressing, serangan balik, dan bola-bola panjang, pasukan Gus Poyet berhasil mengakali lawannya pada babak pertama.


[Statistik kedua tim. Sumber: WhoScored.com]

Untungnya, di babak kedua City tidak tenggelam dan berhasil menunjukkan karakter dan kualitas untuk menang mereka yang membuat mereka berhasil berbalik unggul dengan mencetak tiga gol.

Kedua Sayap Sunderland Kidal

Sunderland bermain dengan dua flank yang sama-sama berkaki kidal. Namun, lemahnya sisi kiri pertahanan City yang diisi oleh Aleksandar Kolarov dan Demichelis berhasil diekspos oleh Johnson dan Borini.

Johnson kembali mencoba membuktikan diri. Selain untuk menarik perhatian Roy Hodgson di timnas Inggris, ia juga ingin unjuk gigi di depan City yang telah menyia-nyiakan kemampuannya.

Pemain sayap binaan Middlesborough ini mengawali pertandingan dengan luar biasa. Salah satu perannya adalah umpan matangnya kepada Borini yang berbuah gol pertama Sunderland.

Sementara Jack Colback bermain bak kereta api. Ia tidak pernah berhenti berlari dan gemar mencari ruang terutama pada saat serangan balik. Satu hal yang juga jangan dilupakan adalah dia pemain berkebangsaan Inggris. Ia bisa saja menjadi pilihan alternatif Hodgson untuk timnas nanti.

Demichelis Menjadi Titik Lemah Pertahanan City

Demichelis terlihat menjadi titik lemah pertahanan The Citizens. Selain karena faktor kemampuan individu, kombinasinya dengan Vincent Kompany juga terlihat tidak padu, dengan Kompany yang beberapa kali terlihat tidak mempercayai Demichelis. Tak heran Sunderland menyadari akan hal ini.

Kombinasi Demichelis dan Kompany yang buruk terlihat jelas pada gol pertama Sunderland. Demichelis yang seharusnya bertugas menjaga dan menutup ruang gerak Borini malah ketinggalan, sehingga Kompany yang belum siap untuk meng-cover malah melakukan blunder dengan gagal membuang bola.




Demichelis yang sudah terlambat untuk mundur tidak bisa berbuat apa-apa ketika sepakan Borini berhasil menggetarkan jala Pantilimon.

Berkebalikan dengan duet bek City, duet bek Sunderland, Brown dan O'Shea, justru menunjukkan kombinasi yang penuh pengertian. Sayang mereka memang tidak bisa berbuat apa-apa pada gol-gol spektakuler yang Manchester City cetak.

Cattermole Sangat Efektif Menjaga Keseimbangan Lini Tengah Sunderland

Duel lini tengah sangat menarik untuk dilihat pada pertandingan ini. Pada babak pertama, peran Lee Cattermole terlihat jelas sebagai gelandang pekerja keras bertipikal lead by example melalui tekel-tekelnya dan kemampuannya mengatur tempo pressing Sunderland.

Pemain yang terkenal kasar ini pada pertandingan semalam menunjukkan karakternya yang lebih dewasa dengan tidak melakukan hal-hal bodoh yang biasa ia lakukan. Rasa tanggung jawab dan disiplin berhasil ia tunjukkan sehingga mampu mempengaruhi lini tengah The Black Cats.

Oleh Poyet, Cattermole ditempatkan di posisi gelandang jangkar di depan bek dan di belakang Sebastian Larsson dan Sung-Yong Ki.

Kombinasinya dengan dua gelandang di depannya juga menunjukkan performa yang mengesankan dengan pembagian-pembagian tugas yang efektif. Sung-Yong Ki yang bisa membaca permainan melakukan pergerakan-pergerakan perebutan bola sambil melakukan operan-operan simpel.

Sementara Larsson bertugas mengirimkan umpan-umpan panjang dan mengeksekusi bola-bola mati.

Peran yang melelahkan ini sayangnya tidak bisa bertahan selama 90 menit. Selain itu Sunderland juga telah ketinggalan di awal babak kedua, sehingga tugas Cattermole dan Larsson mesti digantikan oleh pemain pengganti, Emanuele Giaccherini dan Craig Gardner. Ini dilakukan Poyet sambil mencoba menambah daya gebrak penyerangan dengan memasukkan Steven Fletcher.

Yaya Toure Selalu Jadi Pembeda

Kombinasi Yaya Toure dan Fernandinho kembali berbicara banyak terutama pada pertandingan sekelas final Piala Capital One ini.

Meskipun Fernandinho sempat menjadi kambing hitam atas gol Borini, karena pertama kehilangan bola, ia berhasil bangkit terutama pada babak ke dua. Performanya yang kuat di depan bek-bek City yang kurang baik itu menjadi cita rasa tersendiri pada pertahanan timnya.

Kemudian ada Yaya Toure, gelandang idaman semua manajer. Yaya adalah pembeda pada pertandingan ini. Tak heran ia adalah pemain terbaik di final kali ini, ia terlahir untuk pertandingan-pertandingan besar seperti ini.

Pada babak pertama ia memang sering terlihat alfa dengan pergerakan-pergerakannya. Namun persepsi itu berhasil diubahnya pada babak kedua. Dengan jenius ia berhasil mencetak gol penyama kedudukan.

Gol yang dicetak Yaya Toure mengubah seluruh mood pemain City. Kemudian ia juga berhasil mencetak assist untuk gol Navas di pengujung laga. Gol yang berhasil menyegel rapat pertandingan ini untuk menjadi milik Manchester City.

Lepas dari laga ini, Poyet harus kembali berkonsentrasi untuk menghindarkan Sunderland dari zona degradasi, sementara Pellegrini terus bermimpi bersama para pendukung timnya untuk mencetak prestasi quadruple mereka. Bukan tugas yang mudah, karena City sudah ketinggalan 2-0 dari FC Barcelona di Liga Champions, masih harus menghadapi perempatfinal melawan Wigan di ajang Piala FA, serta mengejar ketertinggalan enam poin dari pemuncak Premier League, Chelsea.

Tapi, untuk beberapa hari ini, setidaknya mereka bisa menikmati dulu rasanya mengangkat cawan kemenangan. Selamat!
.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads