Begini Cara Bianconeri Menundukkan Rossoneri di San Siro

Liga Italia: AC Milan 0-2 Juventus

Begini Cara Bianconeri Menundukkan Rossoneri di San Siro

- Sepakbola
Senin, 03 Mar 2014 15:38 WIB
Begini Cara Bianconeri Menundukkan Rossoneri di San Siro
AFP/Giuseppe Cacace
Jakarta -

Meraih scudetto tinggal di pelupuk mata "Si Nyonya Tua". Kemenangan 2-0 atas AC Milan di San Siro jadi modal manis Juventus untuk memuluskan larinya untuk mempertahankan gelar juara di musim ini.

Tiga poin yang didapat Juventus tadi malam membuat jarak dengan AS Roma melebar menjadi 11 poin -- angka yang sangat sulit disalip Il Giallorossi hingga akhir musim nanti.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Datang ke San Siro, Juventus harus kehilangan Giorgio Chiellini akibat cedera. Sebagai pengganti, jika sebelum-belumnya Conte selalu mempercayakan kepada Obgonna, kali ini ia memberikan posisi inti kepada bek Uruguay Martin Caceres.

Pada lini tengah, Juventus juga tampil sedikit pincang akibat tak bisa dimainkannya Arturo Vidal. Namun penggantinya pun tak kalah sigap. Adalah Claudio Marchisio yang diplot bahu membahu di lini tengah bersama Paul Pogba dan Andrea Pirlo.

Marchisio dan Vidal sendiri amatlah berbeda. Pasalnya, saat menurunkan Pogba dan Vidal secara bersamaan, Juve memainkan taktik menggunakan 2 pemain yang bersifat box to box. Lain hal dengan Marchisio yang lebih soft. Hal ini nantinya akan sedikit berpengaruh ke pertandingan.

Sementara itu di kubu tuan rumah, badai cedera tak henti menerpa barisan penyerang-penyerang mereka. Kini giliran ujung tombak andalan mereka, Mario Balotelli, yang harus absen karena cedera. Hal ini otomatis membuat Milan harus memanfaatkan maksimal kekuatan di lini tengah. Dan bisa diamati bahwa Seedorf masih meraba-raba untuk memanfaatkan lini ini, telihat dari seringnya ia merombak dan menggonta-ganti pemain di area tengah.

Menggunakan Garis Pertahanan Dalam

Mengawali babak pertama, Juventus bermain sabar. Mereka membiarkan AC Milan menyerang secara frontal sembari sesekali melancarkan serangan balik. Terlihat dengan jelas sampai gol pertama tercipta pada menit 44, Conte mengintruksikan para pemain belakang untuk membuat garis pertahananan yang amat dalam.

Conte tahu bahwa Milan akan memanfaatkan serangan dari barisan tengah. Begini cara Conte membuat lini tengah Milan sedikit frustasi.



Pada babak pertama Conte mengintruksikan dua wingback, Asamoah dan Lichtsteiner, untuk tak terlalu menyerang. Kedua pemain ini diinstruksikan untuk standby di belakang sejajar dengan 3 bek lainnya. Sementara di lini tengah ia meminta Pirlo dan Marchisio sejajar membentuk poros ganda serta selalu menjaga kerapatan dengan lini belakang.

Mendorong Barzagli Ke Depan

Kehilangan Vidal membuat Conte melakukan eksperimen lain. Sebuah catatan menarik di laga ini adalah, untuk membendung barisan penyerangan Milan, Conte mendorong posisi Andrea Barzagli agak lebih tinggi ke tengah. Sekilas pada babak pertama kita akan meihat Juve cenderung bermain dengan 4-4-2. Kehadiran Barzagli jelas untuk melindungi Pirlo terutama saat bertahan. Pasalnya dari Pirlo inilah serangan balik biasanya dilancarkan.

Lantas ke mana Pogba? Peran Pogba saat bertahan bersifat free role. Conte memberi peran melakukan zonal marking kepada Pogba di sepertiga pertahanan Juventus. Lantas apa taktik ini efektif untuk menghadang Milan? Ah, ternyata tidak juga.


[Grafik attempt AC Milan. Sumber: squawka.com]

Sepanjang babak pertama Milan nyatanya mampu membuat 16 attempt. Naiknya Barzagli memang mau tak mau membawa risiko tersendiri. Barzagli memang memiliki peran ganda untuk menjaga Pazzini, tapi terkadang dia melakukan overlapping.

Sebenarnya peran Barzagli untuk naik ke depan tak hanya diemban oleh dirinya. Sesekali Bonucci dan Caceres pun ditugasi hal yang sama. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh Milan untuk membuat peluang. Tapi penampilan Buffon yang ciamik disertai buruknya penyelesaian akhir penyerang Milan membuat tuan rumah tak bisa mencatak gol satupun.

Trio Milan di Tengah

Saat menyerang ada hal yang menjadi tipikal Seedorf. Ia menempatkan Kaka-Poli-Taarabt bermain merapat di tengah. Dari ketiga pemain ini, dua di antaranya selalu membuat segitiga-segitiga dengan Pazzini sebagai ujung tombaknya, dengan kerapatan yang amat dekat.

Sementara itu, satu pemain dari segitiga Pazzini dan lini tengah Milan ini pasti bermain melebar. Saat melebar inilah Juve terpancing membuka ruang sehingga Nigel De Jong atau Montolivo pasti bisa merangsek ke depan.



Pada babak pertama Kaka-lah yang bermain melebar. Saat bergerak ke arah sayap, sejatinya dia hanya memancing Lichtsteiner untuk mengikutinya. Dan kekosongan di sayap inilah yang biasanya dimanfaatkan Emanuelson untuk berlari dari belakang.

Di laga dinihari tadi, dari 34 crossing yang dilakukan AC Milan, 14 di antaranya pun dilakukan oleh Emanuelson. Sayangnya umpan silang itu dengan mudah dimentahkan bek-bek Juventus yang memang menumpuk pemain di kotak penalti.

Kegagalan dari Lini Sayap

Saat membangun serangan, Conte memang memancing Milan untuk mengeksploitasi sisi sayap. Taktiknya, yang memperkuat barisan di tengah dengan menaikan bek sejajar dengan gelandang, adalah sesuatu yang tepat.

Dari grafik passing di bawah terlihat bahwa Milan selalu gagal menembus area final third Juventus di bagian tengah.



Ada sebuah risiko jika membiarkan Milan mengeksploitasi sisi sayap, yaitu dengan cutting inside yang dilakukan para gelandang mereka. Namun, nyatanya di laga tadi malam hal itu tak dilakukan anak-anak asuh Seedorf.

Mengingat rapatnya barisan Juventus, alhasil saat Milan mendapat bola di sayap, mereka langsung memberikan crossing atau attempt. Dan hasilnya selalu gagal. [Lihat grafik crossing Milan sepanjang pertandingan]



Memancing Milan mengeskploitasi sayap dan bersabar sembari memanfaatkan senjata pamungkas lewat Lichtsteiner, itulah taktik kesuksesan Conte membenamkan Milan. Taktik yang sama juga saat Juventus mengandaskan Roma, Inter Milan, dan Lazio. Gol yang dicetak Llorente pada menit 43 tak lepas dari skema serangan balik cepat yang dilakukan Juventus lewat area sayap kanan.



Gol yang dicetak Juventus tak lepas dari peran Lichtsteiner yang berlari menusuk ke dalam. Saat menyerang, posisi dia tak pernah terlalu naik. Dia lebih cenderung berada di tengah. Lantas, untuk menarik fullback kanan biasanya Conte mendorong pemain tengah sejajar dengan striker. Pada laga tadi pagi peran itu diemban oleh Marchisio. Taktik ini pun dijalankan sukses.

Gol yang dicetak Juventus adalah karena memanfaatkan kekosongan ruang itu. Lichtsteiner dengan bebas berlari ke area kotak penalti sebelum akhirnya memberikan umpan tarik kepada Llorente.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, raihan 3 poin mampu memperkokoh posisi Juventus di puncak klasemen. Apalagi, menjelang 18 Mei 2014, atau hari terakhir Serie A, Juventus hanya bertemu dua lawan kuat lagi: Napoli (30 Maret) dan Roma (11 Mei). Yang perlu dilakukan Conte hingga akhir musim adalah memastikan langkah Bianconeri agar tidak tergelincir, maka niscaya gelar scudetto ketiga beruntun pun sudah bisa dipastikan.


====

* Dianalisis oleh Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @panditfootball

(a2s/mfi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads