Bertemu dengan Sunderland di kandang sendiri, Liverpool menang 2-1 dan mencatatkan beberapa rekor. Namun, hasil itu harus diraih susah payah karena sistem "parkir bus" The Black Cats.
Pertama adalah tentang kemenangan beruntun ketujuh Si Merah. Jumlah ini hampir menyamai rekor kemenangan beruntun Manchester City musim ini di bulan Desember 2013, yaitu sebanyak 8 kali.
Sementara itu, satu gol yang dicetak oleh Daniel Sturridge semalam berarti duet striker Liverpool, Luis Suarez dan Sturridge, sama-sama telah mencatatkan 20 gol atau lebih musim ini. Suarez dengan 28 gol dan Sturridge 20 gol. Terakhir kalinya ini terjadi pada Liverpool adalah hampir 50 tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi sederet catatan itu bukan berarti Liverpool memenangkan pertandingan dengan mudah. Laga sengit tersaji di Anfield dinihari WIB tadi karena kedua tim memang sama-sama membutuhkan kemenangan. Liverpool harus mendapatkan tiga angka agar tetap berada di jalur perebutan juara, sementara Sunderland membutuhkan poin demi tetap menghindari degradasi.
Formasi Terbaik demi 3 Poin
Bermain di kandang sendiri, Liverpool tidak mau mengecewakan pendukungnya yang sudah sangat rindu akan gelar Liga Inggris. Tak heran Brendan Rodgers menurunkan skuat terbaik yang dimilikinya.
Rodgers memang mempertahankan formasi yang serupa saat menang pada 2 pertandingan terakhirnya melawan Manchester United dan Cardiff City. Perbedaan hanya pada Coutinho yang masuk sebagai menggantikan Raheem Sterling.
Sementara itu di pihak Sunderland, hasil buruk pada enam laga terakhir membuat Gustavo Poyet harus memutar otak untuk meracik strategi menahangempuran Liverpool. Datang ke Anfield, Poyet tidak mau menjadi bulan-bulanan Liverpool yang menjadi tim paling banyak mencetak gol musim ini. Poyet lalu menurunkan formasi bertahan dan lebih memilih pemain-pemain yang cenderung bertipe bertahan.
Poyet memilih formasi 3-5-2 untuk menahan gempuran Liverpool. Santiago Vergini, John OβShea, dan Wes Brown ditempatkan sebagai bek tengah, sementara Phil Bardsley dan Andrea Dossena dipercayakan pada posisi fullback kiri dan kanan.

Β
Susunan Pemain Liverpool (kiri) dan Sunderland (kanan). Sumber: whoscored.com
Frustasinya Liverpool di Babak Pertama
Tampil dengan kepercayaan diri tinggi, Liverpool justru sempat dibuat frustasi oleh tim tamu yang merapatkan barisan pertahanannya. Gus Poyes memang menempatkan delapan pemain Sunderland untuk berdiri di depan daerah kotak penalti, sehingga para pemain Liverpool kesulitan bahkan untuk sekadar berkreasi menciptakan peluang.
Seperti pada pertandingan-pertandingan sebelumnya, Liverpool memegang penguasaan bola. Pada babak pertama, The Reds juga menguasai bola hingga 67% berbanding 33%.
Namun dominannya penguasaan bola Liverpool, tidak sejalan dengan peluang yang berhasil mereka ciptakan. Pada babak pertama, delapan attempts yang diciptakan Liverpool pun hanya berupa tembakan dari luar kotak penalti.
Permasalahan juga tidak hanya mengenai attempts. Liverpool bahkan kesulitan untuk masuk ke kotak penalti Sunderland.
Tidak seperti biasanya, pada babak pertama pertandingan ini tidak terlihat umpan terobosan dari para gelandang Liverpool. Dari 16 kali operan yang dilepaskan pemain Liverpool ke dalam kotak penalti Sunderland, hanya 2 yang berhasil diterima oleh pemain Liverpool. Sementara sisanya dapat dimentahkan oleh pemain Sunderland.
Chalkboard umpan Liverpool pada babak pertama di bawah menggambarkan bagaimana Liverpool kesulitan memasukan bola ke kotak penalti, meski menguasai jalannya pertandingan.

Β Chalkboard operan Liverpool sepanjang babak pertama. Sumber: fourfourtwo.com
Hal ini bukan tanpa alasan. Poyet menurunkan garis pertahanannya hingga sangat rendah. Kedua pemain sayap Sunderland, Bardsley dan Dossena, ditarik ke belakang sehingga membentuk 5 pemain bertahan.
Sementara itu, Liam Bridcutt dan Lee Cattermole menjaga daerah tengah dengan berdiri di depan ketiga bek tengah tanpa memberikan jarak. Ketiga pemain depan β Emanuele Giaccherini, Connor Wickham, dan Jozy Altidoreβpun terkadang ikut turun untuk mengganggu para gelandang Liverpool yang akan melepaskan umpan.
Pemain Sunderland ini berdiri rapat di depan kotak penalti sehingga tidak ada ruang sedikit pun Untuk Suarez maupun Sturridge, sementara serangan dari sayap juga bukan merupakan solusi. Hal inilah yang kemudian menyebabkan Liverpool hanya bisa memainkan bola di depan kotak penalti Sunderland dan kemudian melakukan attempt dari luar kotak penalti.
Beruntung, Liverpool memiliki seorang Steven Gerrard. Kapten Liverpool ini memiliki kemampuan sangat lengkap sebagai seorang gelandang, termasuk dalam melakukan tendangan jarak jauh dan eksekusi bola mati.
Hasilnya, kebuntuan Liverpool dijawab oleh satu tendangan bebas cemerlang Gerrard. Liverpool menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0.
Perubahan pada Babak Kedua
Tertinggal dan tak ingin pulang dengan tangan hampa, Sunderland mulai keluar menyerang. Namun, baru saja memasuki awal babak kedua, mereka harus kebobolan berkat aksi Daniel Sturridge.
Melihat kondisi ini, Poyet lantas memasukkan Adam Johnson dan Ki Sung Yeung menggantikan Wickham dan Giacherini. Hal ini bertujuan untuk memberi tekanan pada barisan pertahanan Liverpool.
Johnson dan Ki diinstruksikan untuk melakukan highpressing pada barisan pertahan Liverpool, sebagai antisipasi agar para pemain Liverpool tak terlalu berlama-lama menguaasi bola. Selain itu, dengan memberi tekanan di sisi kanan dan kiri pertahanan Liverpool, Poyet ingin menghambat agresifitas dua fullback Liverpool, menahan Jon Flanagan dan Glen Johnson agar tak terlalu aktif membantu penyerangan seperti babak pertama.
Kondisi inilah yang kemudian membuat Dossena dan Bardsley berani untuk ikut menyerang. Mereka lebih leluasa memainkan bola, atau sesekali melakukan overlap untuk mengirim umpan ke tengah.

Β
Grafis passing Sunderland di babak kedua
Meskipun Sunderland lebih menyerang pada babak kedua, mereka tetap bertahan dengan garis pertahanan rendah. Mereka masih bertahan dengan formasi yang sama 5-3-2, dengan mengandalkan zonal marking.
Hal inilah yang kemudian coba dimanfaatkan oleh Liverpool. Dengan merenggangnya jarak antar lini Sunderland, mereka lebih leluasa untuk memainkan gaya permainan khas Liverpool, yaitu merangsak ke sepertiga akhir lapangan lawan dengan mengandalkan umpan terobosan.
Terpecahnya konsentrasi poros ganda Sunderland, Cattemole dan Bridcutt, mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Coutinho. Pada babak kedua, Coutinho dapat dengan leluasa melepaskan umpan terobosan ke sepertiga lapangan sakhir.
Jika pada babak pertama Liverpool sulit untuk masuk ke dalam kotak penalti, lain hal di babak kedua. Mereka lebih mudah untuk masuk kotak 16, lalu melakukan shooting.

Β
Grafis attempts dan goal Liverpool babak kedua
Altidore Sebagai Pemantul
Dengan ditariknya Wickham dan Giaccherini pada awal babak kedua, praktis hanya tertinggal Altidore di depan sendirian. Pada babak kedua, ia bertugas sebagai pemantul untuk Ki dan Johnson yang datang dari lini kedua. Taktik ini dimaksudkan untuk mengurai rapatnya barisan pertahan Liverpool yang terus menerus memasang garis pertahanan rendah.
Altidore diinstruksikan untuk mengecoh dua centerback Liverpool, Daniel Agger dan Martin Skrtel. Saat mendapat bola dari sayap, ia cenderung untuk menahan bola, menunggu lini kedua untuk naik. Oleh karenanya, Altidore lebih sering memberikan bola pada lini kedua dari pada melakukan shooting.

Grafis passing Jozy Altidore di babak kedua
Di depan, Altidore didampingi oleh Ki dan Adam Johnson. Dua pemain ini diinstruksikan untuk selalu sigap menerima bola pantulan dari Altidore, dan mengakhirinya dengan tembakan dari luar kotak penalti. Hal ini dimaksudkan untuk mengakali sulitnya masuk ke kotak penalti Liverpool yang juga memasang garis pertahanan yang rendah.
Itulah alasan mengapa pada babak kedua Sunderland lebih sering melakukan attempts dari luar kotak penalti.

Β
Grafis atempts dan gol Sunderland babak kedua
Kesimpulan
Seperti biasa, Liverpool tetap mengandalkan umpan terobosan untuk merangsak ke sepertiga akhir lapangan. Namun, sang lawan Sunderland sudah terlanjur paham dengan gaya permainan The Anfield Gank. Sejak awal, mereka sudah memasang formasi bertahan dengan defensive line rendah, menumpuk pemain di area kotak penalti, dan melakukan zonal marking.
Namun kelengahan poros ganda Sunderland pada penghujung babak pertama dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Coutinho. Pemain asal Brasil itu berhasil mengirimkan umpan terobosan yang diterima dengan baik oleh Suarez, sehingga Vergini terpaksa melanggarnya. Tendangan bebas di depan kotak penalti pun berhasil dieksekusi dengan baik oleh Steven Gerrard.
Tak mau pulang dengan tangan hampa, Gus Poyet oun menginstruksikan anak didiknya untuk tampil lebih menyerang. Masuknya Ki dan Adam Johnson terbukti efektif. Mereka berhasil mengakali rendahnya garis pertahanan Liverpool dengan melakukan shooting dari luar kotak penalti. Namun, hingga akhir pertandingan, hanya sundulan Ki yang memanfaatkan kelengahan Flanagan yang bisa berbuah jadi gol.
===
akun twitter penulis: @panditfootball
(mrp/a2s)










































