Berharap pada Utak-Atik Taktik Roy Hodgson

Berharap pada Utak-Atik Taktik Roy Hodgson

- Sepakbola
Kamis, 12 Jun 2014 17:21 WIB
Berharap pada Utak-Atik Taktik Roy Hodgson
Getty Images/Richard Heathcote
Jakarta -

Miris memang jika melihat prestasi Inggris. Mengaku sebagai negara yang melahirkan sepakbola, toh mereka sangat sulit berbicara banyak di kancah internasional. Hanya sekali mereka menjadi juara dunia pada 1966. 48 tahun lalu. Artinya prestasi itu sudah berlalu nyaris setengah abad. Dengan catatan tambahan: Itu pun saat mereka menjadi tuan rumah.

Sementara di kancah Eropa mereka bahkan tak pernah sekali pun jadi jawara. Saat menjadi tuan rumah Piala Eropa 1996, dengan jargon turnamen yang terasa arogan yaitu "football comes home", mereka mentok hanya sampai semifinal. Sejak itu, mereka tak pernah lagi mencapai babak semifinal turnamen antar negara, baik Piala Eropa apalagi Piala Dunia.

Bahkan untuk Piala Dunia 2014 ini, publik Inggris bahkan sudah tak menaruh ekspektasi yang tinggi pada tim nasionalnya sendiri. Capaian yang didapat pada turnamen-turnamen sebelumnya memberi pelajaran pada publik Inggris untuk berhati-hati memberi ekspektasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Piala Dunia 2010, misalnya, mereka begitu impresif di babak kualifikasi di bawah asuhan Fabio Capello. Inggris bahkan menjadi negara Eropa pertama yang memastikan lolos ke Piala Dunia 2010. Optimisme membuncah. Lalu apa yang terjadi di Afrika Selatan? Mereka berakhir di babak 16 Besar setelah dikalahkan Jerman dengan skor sangat telak: 1-4.

Ekspektasi yang biasa-biasa saja inilah yang mengiringi kepergian Gerrard, dkk., ke Brazil. Mereka bergabung di Grup D yang dihuni oleh Italia, Uruguay dan Kosta Rika. Bergabung dengan Italia dan Uruguay ternyata sudah membuat publik Inggris untuk tidak berharap yang kelewatan. Bahkan sekadar lolos dari babak grup pun Inggris masih dalam pertanyaan besar.

Polemik Persoalan Klasik



Tapi ada hal yang segar dari Inggris di Piala Dunia kali ini. Mereka membawa banyak nama-nama muda. Jika Adam Lallana tak bisa dibilang muda, maka Raheem Sterling, Ross Barkley, Jack Wilshere, Luke Shaw, Danny Welbeck, Leighton Baines adalah nama-nama muda yang menghiasi skuat Tiga Singa pada gelaran Piala Dunia kali ini.

Banyaknya pemain muda yang mengisi skuat Inggris bisa menggambarkan regenerasi Inggris tak buruk-buruk amat. Setidaknya, Roy Hodgson mencoba membuktikan bahwa Inggris punya alternatif yang cukup banyak dalam menyusun komposisi pemain. Menariknya, ini yang sedikit ironis, Hodgson justru terlihat masih kebingungan memilih starting line-up.

Meski sudah menentukan pilihan untuk bermain dengan pola 4-2-3-1, tapi sampai detik-detik akhir menjelang dibukanya Piala Dunia, Hodgson masih belum bisa memastikan nama-nama pemain yang mengisi starting XI-nya. Dan persoalan ini mengulang persoalan klasik yang sudah menghantui Inggris dalam satu dekade terakhir: komposisi lini tengah.

Hodgson masih dipusingkan memilih duet poros ganda. Apakah menempatkan duet campuran pemain berpengalaman dan pemain muda, Steven Gerrard-Jack Wilshere, ataukahmemilih duet poros ganda dengan mengedepankan kekompakan, Steven Gerrard- Jordan Henderson, yang berasal dari klub yang sama. Gerrard memang hampir pasti mengisi salah satu pos di lini tengah. Walaupun tak diturunkan dalam partai ujicoba melawan Ekuador, sudah dapat dipastikan satu pos di posisi poros ganda adalah milik Stevie G. Maklum, meski tak bagus-bagus amat kala melakoni peran sebagai poros ganda, tapi Gerrard adalah kapten timnas Inggris saat ini.

Memang bukan hal mudah membangkucadangkan pemain sekaliber Lampard. Namun apa boleh buat, Hodgson juga harus bersikap realistis. Mengingat usia Gerrard yang tak lagi muda, duet Gerrard-Wilshere adalah duet poros ganda yang paling ideal untuk Tiga Singa. Mereka berdua bisa saling menutupi kekurangan satu sama lain.

Meski sering terlalu lama saat memegang bola dan kurang disiplin turun saat timnya diserang, namun Wilshere punya mobilitas yang baik. Ia bisa difokuskan untuk membantu penyerangan dan membuka ruang di sepertiga lapangan akhir. Tentu, kehadiran Wilshere di lapangan akan sangat membantu peran Gerrard. Pasalnya, dengan kehadiran Wilshere, Gerarrd akan lebih fokus untuk menjaga kedalaman, dan tak terlalu bersusah payah naik membantu penyerangan.

Sedangkan untuk menghadapi Italia di partai perdana mereka di Grup D, melawan Italia, Hodgson bisa memanfaatkan chemistryduet Gerrard-Henderson. Memang, pergerakan Henderson tak secair Wilshere, namun ia jelas punya kebugaran yang lebih baik ketimbang pemain Arsenal itu. Hendo bisa diplot sebagai suffaco,pemain yang mengunci pergerakan Andrea Pirlo, layaknya yang dilakukan Park Ji Sung saat MU bertemu AC Milan di fase 16 besar Liga Champions 2009-2010.

Saat bertemu Italia di perempatfinal Piala Eropa 2012, Rooney dipilih Hodgson untuk diberi tugas tambahan mengunci pergerakan Pirlo. Saat itu Rooney dianggap gagal mematikan Pirlo. Persoalan sama akan dihadapi oleh setiap tim yang akan menghadapi Italia. Hendo bisa saja dipilih Hodgson untuk mengemban tugas taktikal yang tidak mudah namun vital ini. Karenanya kebugaranΒ Hendobisa jadi kunci kesuksesan Inggris untuk mengalahkan Gli Azzurri. Kebugarannya dibutuhkan untuk mengikuti kemanapun Pirlo pergi, persis seperti yang dilakukan Park Ji-Sung.

Dan Gerrard? Gerrard bisa lebih leluasa memainkan peran sebagai deep-lying playmaker dengan mengandalkan umpan-umpang panjangyang menjadi salah satu kekuatannya.

Jika Hodgson tak sampai hati mencadangkan pemain sekelas Lampard, ia juga bisa menurutkan duet poros ganda Gerrard-Lampard. Namun, pilihan dua gelandang sarat pengalaman ini tentu sangtat beresiko.

Kedua pemain tersebut adalah salah dua gelandang terbaik yang dimiliki Inggris dalam satu dekade terakhir. Keduanya memenangkan berbagi penghargaan bersama klubnya masing-masing. Tapi, ironisnya, manakala Gerard dan Lampard diturunkan bersamaan, keduanya justru sering tampil mengecewakan. Sebab, keduanya tak pernah bisa menutupi kekurangan satu sama lain. Baik Lampard maupun Gerrard selalu mengedepankan ego masing-masing. Mereka ingin terlihat menonjol di tengah gemerlap nama-nama besar yang menyesaki skuat Tiga Singa. Wajar bila Stevie dan Lampssering dijadikan kambing hitam atas redupnya prestasi timnas Inggris satu dekade kebelakang.

Pun ketika keduanya coba diduetkan sebagai poros ganda. Ketika Gerrard diplotsebagai jangkar, agak berat mengharapkan Lampard bisa bermain sebagai box to box yang rajin membantu penyerangan. Begitu juga sebaliknya. Keduanya sama-sama terkendala faktor fisik mengingat usianya yang tidak muda lagi.

Siapa yang Pantas di Belakang Striker?

Sama halnya dengan pemilihan duet poros ganda, Hodgson juga dipusingkan memilih pemain yang berada di belakang striker tunggal guna bermain sebagai the classic number 10. Wayne Rooney? Ross Barkle? Atau justru Raheem Sterling?

Sebenarnya, sedari awal, Rooneyyang diproyeksikan untuk berdiri di belakang striker, sesuai dengan nomor punggungnya. Pengalamannya melayani Robin van Persie, saat di klub, memang menjadi alasan utama Hodgson menempatkan mantan pemian Everton ini di belakang Daniel Sturridge. Rooney juga sudah terbiasa bermain lebih ke dalam, kadang bahkan di era Fergie masih melatih United dia sering berperan sebagai gelandang serang. Bukan sekali dua muncul ulasan tentang kualitas Rooney sebagai pemain yang paling mampu menggantikan peran Paul Scholes di Old Trafford.

Tapi Hodgson juga tak bisa mengacuhkan saran media Inggris untuk memberikan lebih banyak menit bermain kepada punggawa muda Tiga Singa. Karenanya, pada partai ujicoba melawan Ekuador (4/6) kemarin, Hodgson memberi kesempatan Ross Barkley untuk tampil sebagai starter dan memerankan the classic no 10, dan menggeser Rooney ke kiri. Hasilnya tak buruk, Barkley juga sama piawainya memainkan peran tersebut. Meski pertandingan itu berakhir dengan skor imbang, 2-2, namun penampilan apik dan satu assist-nya membuat puja-puji untuk Barkley terus mengalir.

Sedangkan di sisi lain, banyak publik Inggris yang menginginkan Hodgson untuk bermain layaknya Liverpool musim ini. Meninggalkan kick n rush yang usang, dan memilih untuk memainkan bola-bola pendek dan mengandalkan cairnya pergerakan pemain. Dan, apabila Hodgson ingin menuruti kemauan publiknya ini, sang pelatih kepala bisa memanfaatkan kecepatan dan kelincahan Raheem Sterling. Mengingat setengah musim ke belakang Rodgers, Sterling ditempatkan di belakang duet Suarez-Sturridge.

Problemnya: amat tidak mudah untuk bisa bermain seperti Liverpool di musim 2013/2014. Jangan lupa, Liverpool harus "mengorbankan" satu musim bermain fluktuatif di musim 2012/2013 sebelum akhirnya bisa bermain seperti yang kita lihat di musim kemarin. Ada prakondisi yang panjang dan lama sebelum Brendan Rodgers bisa menampilkan skema seperti yang diinginkannya.

Gerrard sebagai Katalisator

Semua harapan yang tinggi-tinggi dari publik Inggris memang diemban oleh Wayne Rooney. Tapi bagaimana pun juga Steven Gerrard adalah pemain kunci dalam skuat Hodgson kali ini. Kualitas, pengalaman, dan kepemimpinannya sangat dibutuhkan pada gelaran kali ini.

Di luar dan di dalam lapangan, Gerrard diharapkan bisa menjadi pemimpin yang sanggup menyatukan para pemain yang berasal dari klub-klub yang saling bersaing di kompetisi. Dia diharapkan bisa mengendalikan persoalan tingginya ego para pemain Inggris yang terbiasa diperlakukan sebagai superstar oleh media.

Di tengah lapangan, Stevie G juga harus bisa menjadi deep-lying playmaker, mengatur permainan timnas Inggris dari posisinya dan sesekali menjadi penentu yang mengubah permainan lewat eksekusi-eksekusi bola mati.

Ini yang terjadi di Piala Eropa 2012 lalu. Inggris saat itu berada dalam situasi yang jauh dari nyaman menyusul pengunduran diri Fabio Capello karena faktor non-teknis. Hodgson datang mengambil alih peran Capello menjelang turnamen. Gerrard kemudian membuktikan dirinya sebagai pemain kunci yang sanggup menjadi katalis permainan tim.

Saat itu dia tak hanya menjadi kapten tapi juga menjadi pembuat assist terbanyak di timnya. Empat kali Inggris bertanding di Piala Eropa 2012 (3 kali babak grup, 1 kali di perempatfinal), Inggris menciptakan 20 peluang dan tujuh di antaranya peluang itu dilahirkan oleh Gerrard. Dia juga mencatatkan namanya sebagai pembuat umpan terbanyak, pembuat shot on terget terbanyak, sampai intersep terbanyak.

Tapi, jelas sangat berisiko memasrahkan katalisator tim hanya pada Gerrard seorang. Performa gemilang Gerrard di Piala Eropa 2012 lalu terjadi saat ia berusia 32 tahun, usia yang tidak muda lagi. Artinya, di Piala Dunia 2014 ini, usianya sudah dua tahun lebih tua, 34 tahun. Jika sebuah tim bergantung hanya pada seorang pemain dengan usia yang sudah setua itu, mereka harus siap untuk berlibur lebih cepat.

====

*dianalisis oleh @prasetypo dari @panditfootball

(roz/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads