Pertandingan semalam mengajarkan formula matematika yang baru kepada kita semua, bahwa 90 + 4 = 1 - 1... Bingung? Ya, gol Robin van Persie di menit ke-4 injury time membuat pertandingan antara Manchester United dan Chelsea harus ditutup dengan sebuah drama.
Hampir bosan rasanya sebelum pertandingan yang dibicarakan adalah melulu soal Louis van Gaal dan Jose Mourinho. Kedua pelatih yang pernah bermitra sebagai guru dan murid (pelatih kepala dan asisten) di FC Barcelona ini kembali bertemu di Old Trafford, Manchester.
Tidak heran ketika sebelum kick-off mereka berdua berpelukan akrab pun menjadi buah bibir kicauan banyak orang di Twitter maupun dunia maya lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Susunan pemain Manchester United dan Chelsea (sumber: www.whoscored.com)
Jika kita harus berterimakasih, absennya Diego Costa patut menjadi alasan utama kenapa pertandingan ini begitu serunya. Bukannya mau menyimpulkan bahwa jika Costa bermain, United akan otomatis kalah. Tetapi absennya sang top skorer ini membuat Mourinho melakukan pendekatan lain terhadap gaya bermain The Blues. Dan ini membuat pertandinan menjadi lebih seru untuk ditonton dan lebih menarik secara taktikal β sebagaimana sudah kami singgung di preview pertandingan ini.
Ditambah dengan absennya juga Loic Remy, kita jadi bisa bernostalgia dengan nama klasik macam Didier Drogba di lini depan Chelsea. Van Gaal pun sudah agak lega ketika badai cedera United sudah mulai surut. Ia menurunkan Chris Smalling dan Marouane Fellaini dengan alasan yang sangat masuk akal, yaitu untuk mengimbangi adu fisik dari pemain-pemain Chelsea, tepatnya Didier Drogba dan Nemanja Matic.
Kedua Tim Bermain Sangat Lepas
Meskipun penguasaan bola kedua tim hampir seimbang (51% berbanding 49%), United terlihat lebih gahar di depan sementara pertahanan Chelsea sedikit kendor. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah peluang yang tercipta melalui tembakan ke gawang, yaitu 19 berbanding 9.

Grafik tembakan (sumber: FFT Stats Zone)
Mungkin Anda kecewa dengan skor yang hanya 1-1, tetapi ada dua sosok yang membuat pertandingan ini tidak menjadi hujan gol, mereka adalah David De Gea dan Thiabaut Courtois. Courtois sendiri menjadi man of the match dengan 6 buah penyelamatan gemilang (berbanding 3 yang dilakukan oleh De Gea).
Banyaknya jumlah tembakan dari kedua tim ini sebenarnya juga merupakan andil dari para pemain di depan sosok pemain bersarung tangan tersebut.
Β
Pertama, jika kita menyoroti United akhir-akhir ini, kita selalu sampai pada kesimpulan bahwa pertahanan United adalah pertahanan yang amburadul. Namun, nyatanya banyaknya jumlah tembakan ke gawang De Gea bukanlah selalu merupakan buah dari pertahanan buruk United.
Terutama saat melawan West Bromwich Albion pekan lalu, kekurangan utama pasukan Van Gaal adalah pada kesalahan-kesalahan individual dari pemainnya, bukan kesalahan sistemik dari pertahanan.
Pada pertandingan kali ini saja, ketika pertandingan belum sampai menyerempet angka satu menit, Marcos Rojo sudah melakukan blunder dengan operannya ke lawan. Sementara pada menit ke-12, Rafael da Silva sudah mendapatkan kartu kuning dari pelanggaran yang tidak perlu kepada Eden Hazard.
Rafael, lagi-lagi, menjadi biang kerok pada gol pertama Chelsea yang dicetak oleh Drogba. Entah siapa yang menyuruhnya menjaga Drogba, tetapi dalam empat kesempatan bahkan ia selalu kedapatan mendapat tugas untuk menjaga Drogba. Rafael atau skemanya yang kerok?

Dua kesempatan yang menunjukkan Rafael yang ditugaskan menjaga Drogba
Dari lubuk hati terdalampun kita sudah curiga: Drogba yang sangat kuat dan eksplosif dijaga oleh Rafael dalam duel bola udara?
Lini Tengah Bukan Milik Di Maria Maupun Fabregas, Tetapi Milik Fellaini
Sebelum pertandingan dimulai, kami memprediksi pertarungan utama ada pada duel di lini tengah antara Angel Di Maria dan Francesc Fabregas. Namun, kenyataanya pemain United yang paling rajin bergerak pada pertandingan semalam ada Fellaini.
Sebelum membicarakan Fellaini, mari sejenak mengintip permainan Di Maria semalam. Di Maria sudah menjadi nyawa United musim ini. Ia sudah mencetak 18 key pass (3 di antaranya menjadi assist) sejauh ini.

Grafik operan dan umpan silang Angel Di Maria (sumber: FFT Stats Zone)
Namun, semalam ia bisa dijinakkan oleh Ivanovic (ketika ia berada di kiri) dan Matic (ketika ia berada di kanan). Pemain asal Argentina itu hanya berhasil melepaskan 28 buah operan (23 berhasil) dan 18 umpan silang (6 berhasil) sepanjang pertandingan.
Kemudian untuk Fabregas yang biasanya selalu menyuapi Costa dengan operan-operan ciamiknya, kali ini daya kreativitasnya sangat tersendat akibat dari pergerakan Fellaini. Karena secara gamblang Fabregas pasti sadar, tanpa Costa, berarti ia (dan Hazard) akan sangat diandalkan untuk meluluhlantakkan pertahanan Rojo dkk. Namun, itu tidak sering terjadi semalam.

Perbandingan grafik operan Fabregas saat melawan Manchester United (kiri) dan Arsenal (kanan) (sumber: FFT Stats Zone)
Gelandang asal Spanyol ini tidak dibiarkan terlalu sering menguasai bola oleh Fellaini. Akibatnya, sepanjang 90 menit ia hanya mampu melepaskan 40 buah operan (33 berhasil). Bandingkan dengan saat Chelsea melawan Arsenal misalnya, ia berhasil mencapai angka 70 buah operan (62 berhasil).
Bahkan saat menghadapi Palace, ia berhasil menjadi monster operan degan 123 operan yang ia lepaskan (110 berhasil). Apa yang membuat Fellaini bisa membatasi Fabregas?
Pria kribo jangkung ini terlihat sangat rajin bergerak ke seluruh area lapangan. Dalam bertahan, ia menciptakan kemitraan yang sangat apik bersama Daley Blind, yang membuat United bisa membatasi gerakan dari trio lini tengah Chelsea, yaitu Oscar, Matic, dan terutama Fabregas.
Setiap kali Fabregas meminta bola, Fellaini selalalu menutupnya. Setiap kali ia mendapat bola, Fellaini selalu menekannya. Jika melihat dua grafik di bawah, lalu sambil membandingkannya dengan grafik Fabregas di atas, kita bisa memahami kenapa Fellaini bisa membatasi Fabregas semalam.

Grafik operan dan heat map Fellaini (sumber: Squawka)
Kemudian pada saat menyerang, Fellaini menjadi pendamping di belakang van Persie yang menjadikannya seorang gelandang serang. Permainannya yang melelahkan ini tidak membuat Fellaini terengah-engah, ia tetap saja rajin naik dan turun bekerja sama dengan Blind di belakang dan van Persie di depan.
Semalam gelandang Belgia ini juga berhasil melakukan 3 buah tekel dan 3 kali (dari 4 kali) memenangkan duel bola udara.
Jika kinerja seperti ini bisa ia pertahankan terus, mungkin saja ia bisa menjadi gelandang box-to-box kelas dunia di United sambil membuat United lupa bahwa mereka sempat menginginkan Arturo Vidal pada posisi yang sama di awal musim ini.
Celah pada Pertahanan Chelsea
Pada lini belakang Chelsea, satu-satunya hal asing yang mereka hadapi adalah absennya Cesar Azpilicueta yang mendapatkan kartu merah pekan lalu saat menghadapi Palace.
Perannya digantikan oleh Felipe Luis, yang secara kualitas sebenarnya sangat baik. Namun, entah apa yang terjadi, ia menjadi pemain yang selalu kebingungan semalam. Dari seluruh peluang United, beberapa di antaranya adalah buah dari pergerakannya yang salah.
Salah satu contoh ada pada peluang di bawah ini. Pada gambar pertama, terlihat bahwa tidak ada yang menempel Di Maria, Luis berada terlalu jauh di belakang. Lalu setelah bola berpindah ke kaki Mata, Luis juga tidak melihat pergerakan Di Maria.
Pada titik ini, Mata bisa memilih untuk mengumpan ke arah Di Maria di kanan maupun Fellaini di kiri (dengan Ivanovic yang sebenarnya bertugas menjaganya). Pada akhirnya Mata mengumpan kepada Di Maria, Di Maria yang sudah berdiri bebas untungnya gagal memanfaatkan peluang menjadi gol. Tendangannya masih melambung tinggi.

Pertahanan Chelsea yang tidak menutup Fellaini dan Di Maria
Kemudian contoh berikutnya juga dapat kita lihat saat peluang van Persie yang akhirnya berhasil dimentahkan oleh Courtois pada gambar di bawah ini.
Koordinasi antara keempat bek Chelsea dalam menjaga garis pertahanan sekaligus menjaga pemain lawan patut dipertanyakan. John Terry berada terlalu ke belakang sehingga Mata berada pada posisi on side, sementara Luis (lagi-lagi) tidak berada pada posisi yang tepat untuk mengejar Mata.
Bola memang diluncurkan oleh Adnan Januzaj kepada van Persie, yang juga tidak terkejar oleh Gary Cahill. Beruntung lagi-lagi Courtois menjadi penyelamat gawang Chelsea.

Koordinasi Chelsea dalam menjaga garis offside dan juga menjaga lawan
The Blues memang harus banyak memutar otak dari sudut pandang defensif di babak pertama saat United membuat mereka sibuk di setengah lapangan mereka sendiri untuk jangka waktu yang panjang.
Mereka hanya memiliki kesempatan yang terbatas untuk melakukan serangan balik, sementara Terry dan rekan-rekannya di belakang menyerap cukup banyak tekanan.
Tekanan Konsisten United dan Buyarnya Konsentrasi Chelsea
Konsentrasi adalah hal yang menjadi sorotan pertahanan Chelsea kali ini. Dalam 90 menit, mereka adalah pemenang. Namun, di injury time seolah konsentrasi mereka buyar, apalagi setelah Branislav Ivanovic diusir ketika injury time tersisa satu menit lagi.
Terlepas dari keputusan Phil Dowd untuk mengusir Ivanovic adalah benar atau salah, ternyata begitu sulitnya untuk menjaga konsentrasi di sisa 60 detik pertandingan.
Seperti yang terlihat di bawah ini, Di Maria memang mendapatkan tendangan bebas di posisi yang menguntungkan untuk melakukan umpan silangnya yang berbahaya. Di sini terlihat bahwa seluruh pertahanan Chelsea lebih memilih menjaga zona alih-alih menjaga pemain.

Proses gol: zonal marking Chelsea membuat tidak ada yang menjaga Fellaini dan van Persie
Ini memang bukan keputusan yang salah, tetapi United tampil cerdik dengan mencoba untuk maju menahan sebanyak mungkin pemain Chelsea agar tidak bisa menjaga sasaran utama Di Maria di dalam kotak penalti, yaitu si jangkung Fellaini.
Bahkan sebagai bonus, pertahanan Chelsea menyisakan van Persie juga pada posisi yang tak terjaga. Hal ini berbuah manis bagi United setelah Fellaini benar-benar bisa menanduk bola, dan bola muntahannya pun berhasil dimanfaatkan oleh van Persie tanpa penjagaan yang berarti.

Proses gol: van Persie tidak terjaga kembali untuk menerima bola muntahan
Ternyata ini 60 detik yang sangat krusial. Sungguh dramatis.
Old Trafford meletus dalam perayaan gol dramatis tersebut. Mengingat pertandingan berikutnya United adalah melawan Manchester City di Etihad, satu poin ini sungguh berarti bagi van Gaal.
Mourinho mungkin jengkel pada gol menit akhir tersebut, tetapi dengan City yang sedang cegukan (setelah mereka kalah dari West Ham), lalu dengan Liverpool yang masih berjuang, ditambah United yang masih dalam masa transisi, pria Portugal ini tahu bahwa satu poin ini selain membuat Chelsea tetap tak terkalahkan, juga akan memperkuat peluang timnya tersebut untuk meraih gelar juara di akhir musim nanti.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/mfi)











































