Lazio, sang tamu, mampu mencuri dua gol pada babak pertama lewat dua gol yang dilesakkan Felipe Anderson. Namun, pada babak kedua, Inter berhasil menyamakan kedudukan lewat gol Mateo Kovacic dan Rodrigo Palacio. Skor pun berkesudahan 2-2.
Pada laga ini, La Beneamata sangat kesulitan menembus pertahanan yang digalang Lazio. Skema skuat asuhan Mancini ini selalu berhasil digagalkan barisan pertahanan Biancocelesti. Tak seperti dua gol Lazio yang tercipta lewat open play, dua gol Inter pada laga ini berawal dari servis bola mati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketangguhan Stefan De Vrij dan Lorik Cana
Inter sejatinya sangat mendominasi jalannya pertandingan hingga 90 menit laga berjalan. Setelah gol pertama Felipe Anderson tercipta, pada menit kedua, bola lebih sering berada di kaki pera pemain Inter Milan. Penguasaan bola Inter pada laga ini tak pernah kurang dari 60%.
Meskipun begitu, Inter sangat kesulitan menembus pertahanan Lazio. Pada babak pertama, Mauro Icardi cs hanya empat kali melepaskan tembakan ke gawang. Itu pun tiga dari empat tembakan tersebut tak mengarah ke gawang Lazio yang dikawal Federico Marchetti.
Tiga gelandang tengah Lazio berhasil membuat Inter tak bisa memaksimalkan Mateo Kovacic yang menjadi pengatur serangan Inter. Bermain sebagai pemain no. 10 ketika Mancini mengubah formasinya dari 4-3-3 menjadi 4-3-1-2 sejak pertengahan babak pertama, Kovacic lebih sering mengembalikan bola ke belakang atau mengalirkan bola ke sisi kiri ketimbang mengirimkan umpan langsung ke jantung pertahanan Lazio.

Grafis umpan sepertiga akhir Kovacic selama 90 menit
Kovacic yang selalu gagal ketika mengirimkan umpan langsung ke kotak penalti akhirnya lebih memilih sisi kiri sebagai upaya menembus pertahanan Lazio. Sialnya, Pires Ribeiro atau yang akrab disapa Dodo, bermain cukup buruk pada laga ini. Bermain sebagai fullback yang diintruksikan untuk membantu Yuto Nagatomo menyerang lewat sisi kiri, umpan silangnya tak sekalipun mengenai sasaran.

Grafis umpan silang dan heatmap Dodo (Squawka.com)
Tak hanya Dodo sebenarnya yang buruk dalam pendistribusian umpan silang, umpan silang pemain lain pun selalu bisa digagalkan para pemain bertahan Lazio. Dari total 40 umpan silang yang dilepaskan Inter, hanya enam yang mengenai sasaran. Statistik yang memperlihatkan akurasi yang menyedihkan.
Ini dikarenakan dua tembok tengah Lazio, Stefan De Vrij dan Lorik Cana, sangat tangguh dalam mengantisipasi bola yang datang ke area kotak penalti. Total keduanya mencatatkan 20 clearance pada laga ini meski hanya menorehkan tiga intersep pada laga ini.
Menutup Lubang di Lini Tengah
Lazio sendiri berhasil memanfaatkan kelengahan lini tengah Inter pada babak pertama. Serangan yang dilancarkan lewat tengah cukup bisa merepotkan Zdravko Kuzmanovic, Fredy Guarin dan Yuto Nagatomo.
Kuzmanovic yang bermain sebagai holding midfielder, tak bisa melindungi depan area kotak penalti. Pada babak pertama, ia hanya mencatatkan satu intersep, dengan tanpa sekalipun melakukan sukses tekel atau pun duel udara.
Gol pertama Lazio yang menjadi momentum kepercaya dirian Lazio pada laga ini terjadi akibat lini tengah yang terlalu fokus melihat pergerakan bola, hingga mereka tak menyadari jika di area kotak penalti, Inter kalah jumlah.

Sebelum terjadinya gol pertama Lazio
Pada grafis di atas bisa kita lihat bahwa Felipe Anderson lepas dari pengawasan. Guarin-Kuzmanovic-Kovacic berada di area luar kotak penalti sehingga di dalam kotak penalti, terjadi situasi di mana tiga lawan empat.
Ketidakwaspadaan lini tengah ini terjadi karena Nagatomo yang seharusnya berdiri sejajar dengan Guarin dan Kuzmanovic berada jauh dari kotak penalti. Ini imbas dari seringnya Nagatomo beroperasi ke sisi kiri. Ketika bertahan, Kovacic mundur menggantikan posisinya. Namun karena Kovacic berposisi sebagai no. 10, Kovacic pun sering telat mundur sehingga terjadilah lubang di lini tengah ini.
Gol kedua yang ciptakan Lazio pun bisa dibilang karena kegagalan lini tengah Inter dalam membendung serangan balik yang dilancarkan Lazio, selain karena fullback yang terlambat turun tentunya. Gol ini bisa digagalkan jika seandainya Kuzmanovic-lah yang berduel untuk merebut bola, bukan Ranocchia. (lihat grafis 1 di bawah)

Proses gol kedua Lazio
Ranocchia yang kalah duel (gambar 1) mebuat Felipe berada pada posisi bebas untuk menggiring bola. Jika saja Kuzmanovic yang berduel dan kalah, setidaknya Ranocchia masih berada di posnya untuk menghambat pergerakan Felipe sehingga tak terjadi situasi tiga lawan tiga (gambar 3). Pada gambar 4, Kuzmanovic yang kurang tangguh dalam merebut bola pun membuat Felipe melepaskan tembakan yang mengecoh Samir Handanovic.
Mancini menyadari adanya lubang di lini tengah ini. Maka pada babak kedua, ia memasukkan gelandang yang lebih defensif yaitu, Gary Medel, untuk menggantikan Dodo. Keluarnya Dodo membuat Nagatomo diposisikan sebagai bek kiri pada babak kedua, posisi idealnya. Dan Medel bermain sebagai holding midfielder sementara Kuzmanovic dioperasikan sebagai gelandang kiri.
Perubahan skema ini membuat Inter bermain tanpa celah pada babak kedua. Hanya dua tembakan yang berhasil dilepaskan Lazio pada 45 menit terakhir ini. Dua tembakan yang masing-masing dilepaskan oleh Stefano Mauri dan Marco Parolo ini pun tak menemui sasaran.
Medel memang cukup konsisten menjaga lini tengah Inter, tak seperti ketika Kuzmanovic yang diposisikan sebagai holding midfielder. Kehadirannya di lini tengah Inter membuat Lazio menghindari area tengah ketika hendak menembus pertahanan Inter.

Grafis umpan Lazio babak satu (kiri) dan babak dua (kanan) (Squawka.com)
Inter Memaksimalkan Tembakan Luar Kotak Penalti
Skema penyerangan Inter memang tak terlalu berubah pada babak pertama maupun babak kedua. Bola terus digulirkan ke sisi sayap, lalu umpan silang dikirimkan secara melambung untuk menggapai Mauro Icardi atau pun Rodrigo Palacio.
Yang berbeda pada babak kedua, Inter mulai lebih sering melepaskan tendingan-tendangan spekulasi dari luar kotak penalti. Dan karena lubang di lini tengah Inter berhasil tertutupi dengan hadirnya Medel, Inter pun cukup menguasai lini tengah.
Lini tengah menjadi senjata Inter untuk menggedor pertahanan kokoh Lazio yang dengan 45 menit waktu tersisa mulai merapatkan lini pertahanan dengan menumpukkan tujuh hingga delapan pemainnya. Mereka pun mulai melakukan tekel agresif untuk menghentikan alur serangan Inter.

Tujuh pemain Lazio melawan dua pemain Inter pada babak kedua
Dengan semakin banyaknya pemain Lazio yang memenuhi kotak penalti, Inter pun semakin kesulitan memasuki area kotak penalti. Maka jalan yang mereka pilih adalah melepaskan tembakan dari luar kotak penalti sekecil apapun celah untuk menembus barisan pertahanan Lazio.
Maka tak heran, 12 tembakan dengan tujuh di antaranya dilepaskan dari luar kotak penalti. Jumlah ini lebih banyak dibanding pada babak pertama yang hanya empat tembakan.

Grafis tembakan Inter pada babak pertama (kiri) dan babak kedua (kanan) (Squawka.com)
Karena menumpuknya para pemain Lazio, maka sepak pojok pun kerap terjadi pada babak kedua. Dan dari sinilah gol spektakuler Kovacic tercipta. Kuzmanovic mengirimkan bola ke kotak penalti, namun berhasil digagalkan oleh Parolo. Hanya saja bola clearance Parolo tersebut mengarah pada Kovacic yang berada di luar kotak penalti. Lantas dengan tendangan voli, Kovacic menyambar bola yang kemudian tak mampu dibendung Federico Marchetti.
Kesimpulan
Dengan gol kedua yang juga terjadi lewat bola mati, yaitu melalui tendangan bebas yang kemudian terjadi kemelut di depan gawang, dapat disimpulkan bahwa Inter cukup beruntung meraih satu poin pada laga ini.
Lazio sendiri sebenarnya tak terlalu bermain spesial pada laga ini. Jumlah lima tembakan yang mereka lepaskan sepanjang 90 menit menjadi bukti bahwa mereka pun kesulitan menembus pertahanan Inter. Namun karena mereka berhasil memanfaatkan kelengahan lini tengah Inter, mereka bisa mencuri dua gol pada babak pertama.
Untungnya, Mancini menyadari kelemahan di lini tengah ini dan segera memperbaikinya pada babak kedua dengan memasukkan Medel. Lini pertahanan semakin aman dari serangan Lazio, sehingga mereka berhasil terhindar dari lebih banyak kebobolan. Karena jka saja lubang di lini tengah ini tak disadari Mancini, bukan tak mungkin Felipe Anderson atau pemain lain akan menghukum Inter lebih dari dua kali.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/a2s)











































