Louis Van Gaal berhasil memenangi laga Boxing Day pertama dalam karirnya di Premier League. Taktiknya membawa Manchester United mematahkan taktik Newcastle United yang dirancang Alan Pardew.
Dua gol berhasil diborong Wayne Rooney pada pertandingan di Old Trafford Jumat (26/12/2014) malam. Satu gol susulan disumbangkan Roben van Persie pada babak kedua. Sedangkan satu-satunya gol hiburan The Magpies, dicetak oleh Pappis Cisse melalui titik putih.
Skor yang berakhir 3-1 menegaskan bahwa Manchester United memang tim yang sangat berpengalaman di fase Boxing Day. Hasil ini juga mengokohkan posisinya di peringkat tiga klasemen sementara. Menguntit Manchester City yang memiliki 42 poin, dengan The Red Devils yang bermodal 35 angka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Alan Pardew mengawali pertandingan dengan membangkucadangkan Pappis Cisse. Pardew lebih mempercayakan lini depan ditempati duet Adam Amstrong dan Ayoze Perez. Sementara absennya Cheick Tiote digantikan oleh Vurnon Anita yang menemani Jack Colback dan Yoan Gouffran sebagai gelandang tengah.

Lini Kedua MU Kecoh Pressing Ketat Newcastle
Pertahanan yang digalang Fabricio Collocini dkk, sangat rapat pada awalnya. Strategi pressing ketat sempat menyulitkan lini serang skuat besutan Van Gaal itu. Jarak bek dengan pemain tengah tidak begitu jauh.
Taktik Pardew untuk memberi tekanan pada pemain lawan yang menguasai bola jadi elemen kunci pertahanan Newcastle. Dimana pun lawan menguasai si kulit bundar, maka dua sampai tiga orang mendekati. Selama 20 menit pertama, kecuali Ashley Young, Newcastle berhasil memblokade lini serang United dengan taktik demikian.
Ya, kecuali Young. Pada menit-menit awal, MU mengandalkan serangan melalui sektor kiri. Walau pertahanan Newcastle sangat rapat, namun Ashley Young masih mampu meliuk-liuk lewati lawan. Hingga memasuki menit 20, tiga kali Young berhasil membongkar sisi kanan pertahanan The Magpies. Sebanyak tiga kali juga pemain bernomor punggung 18 itu melancarkan umpan silang ke kotak pinalti lawan. Hasilnya, dua kali gagal dan satu kali menjadi umpan kunci [key pass].
Akhirnya, kinerja bagus Young ini yang mengubah peta permainan. Keberhasilan Young tiga kali memberikan umpan silang membuat para pemain Newcastle terpancing. Mereka fokus bergerak ke sisi kanan pertahanan.
Kombinasi antara fokus ke sisi kanan dengan cara bertahan yang langsung menekan para pemain United yang menguasai bola, akhirnya, membuat Newcastle harus menderita. Mereka kerap kecolongan dengan beberapa pergerakan tanpa bola dari lini kedua United. Salah satunya adalah peran Juan Mata. Banyak ruang yang akhirnya terbuka bagi Mata. Terlebih Mata dengan ciamik saling buka tutup ruang gerak dengan Wayne Rooney yang juga dimainkan lebih ke tengah.
Ketika bola berada di kaki Mata, dirinya menggiring bola seolah lebih ke dalam wilayahnya sendiri, atau melebar ke samping. Begitu juga peran dua striker MU yakni Radamel Falcao dan Robin Van Persie yang bermain melebar. Ini lagi-lagi memancing para pilar pertahanan Newcastle.
Dari situlah cerita keefektifan pertahanan Colocini dkk., kemudian berakhir.
Saat pertahanan Newcastle terfokus pada bola, pergerakan Rooney dari lini kedua tidak disadari oleh The Magpies. Ketika Mata menyadari lawannya sudah terpancing, dirinya melepaskan umpan terobosan ke kotak pinalti. Kemudian Falcao menyambutnya tanpa sikap egois. Mantan penyerang Atletico Madrid dan Monaco itu langsung melanjutkan umpan Mata ke depan gawang. Dari situlah Rooney muncul tak terkawal. Gol. 1-0.
Gol kedua Rooney juga terjadi dengan proses yang hampir sama. Muncul dari tengah, tiba-tiba ia berada di kotak penalti tanpa pengawalan.
Pergerakannya lagi-lagi tanpa disadari oleh Colocini dkk., yang terlalu fokus kepada bola. Lagi-lagi, kegagapan pemain Newcastle terhadap Rooney ini juga berbarengan dengan kagagalan mereka mengantisipasi pergerakan Mata yang muncul ke depan kotak penalti dan leluasa mengirimkan umpan pada Rooney.

Newcastle Tak Sanggup Menyerang
Raihan tiga poin MU atas Newcastle sejatinya bukan karena mereka memenangkan duel di lini tengah. Akan tetapi Rooney dkk mampu mengalahkan The Magpies di sektor depan. Setelah terjadi gol pertama, para anak asuh Pardew tersebut kebingungan mengawal pemain-pemain lawan. Sehingga gempuran demi gempuran terlihat begitu sulit mereka antisipasi.
Tidak hanya pressing Newcastle yang berantakan, namun para pemain tengah The Magpies juga sibuk ikut-ikutan bertahan. Padahal, Colback dan Anita seharusnya menjadi jembatan antara pertahanan dan serangan Newcastle. Begitu juga dengan Dummet dan Dayrl Janmaat, gerakan kedua bek sayap itu menjadi terbatas. Biasanya Dummet sering maju ke depan membantu serangan. Akan tetapi, kali ini jarak larinya hanya sampai setengah lapangan saja.

Akibatnya lini serang skuad besutan Pardew itu kurang mendapatkan suplai bola. Akibat terlalu banyak bertahan, Gouffran terpaksa turun lebih ke bawah untuk menjemput bola. Begitu pula dengan Moussa Sissoko. Sehingga pergerakan Amstrong tidak terlihat sama sekali. Dirinya hanya muncul ketika tertangkap kamera melakukan provokasi kepada Patrick McNair saja.
Berikut grafis passing Newcastle yang jarang sampai tepat di kotak penalti MU.

Bek MU Termakan Suasana yang Menyebabkan Kelengahan
Pada awalnya benteng pertahanan The Red Devils sangat kokoh. Para anak asuh Van Gaal itu sangat disiplin ketika bertahan. Ketiga bek MU yakni Phil Jones, Jonny Evans dan McNair disiplin berada di daerahnya. Dibantu juga oleh kerja keras Michael Carrick yang rajin membantu pertahanan.
Namun setelah unggul tiga gol, anak asuh Van Gaal menjadi lebih leluasa di lapangan. Tidak terkecuali trio pemain belakangnya. Phil Jones dan Jonny Evans pelan-pelan semakin sering naik ke tengah lapangan, ikut-ikutan membangun serangan. Berikut grafis Evans dan Jones ketika 40 menit terakhir babak kedua.

Pardew pun nampak membaca situasi itu dan mencoba mengambil keuntungan. Maka Cisse dimasukan mengganti Amstrong untuk menambah serangan. Masuknya striker asal Senegal tersebut, membuat permainan Newcastle berubah. Timnya tidak terus berkutat di belakang, mulai berani maju membangun serangan.
Agresivitas The Magpies dilancarkan setelah banyaknya celah yang ditinggalkan Jones dan Evans. Bahkan untuk nama pertama, Jones, ia sempat menggiring bola sampai hampir mendekati kotak pinalti lawan.
Skema serangan balik pun mulai dirancang Newcastle. Dan itu sangat terbantu oleh seringnya Jones dan Evans meninggalkan posnya. Beberapa celah yang terlambat ditutupi oleh Jones dan Evans berhasil dieksploitasi. Hingga pada akhirnya Jones kecolongan di sisi kanan.
Kesalahannya harus dibayar dengan kegagalan mengakhiri pertandingan tanpa kebobolan. Diawali ketika Colback memberikan tekanan ke wilayah yang dijaga Jones. Kemampuan menggiring bola Colback membuat dirinya dijatuhkan di kotak penalti oleh Jones. Wasit pun menunjuk titik putih.
Cisse ditunjuk Pardew sebagai eksekutor bola mati. Tenang tapi pasti, seolah terbaca oleh David De Gea, namun bola meluncur ke sebelah kiri jala gawangnya. Gol tersebut, merupakan gol terakhir pada pertandingan yang selesai dengan skor 3-1 ini.
Kesimpulan
Rooney memang pantas menjadi pemain terbaik pada laga Boxing Day ini. Memang ia tidak ditempatkan di posisi yang sebenarnya sebagai striker. Pemain bernomor punggung 10 itu diplot menjadi gelandang oleh Van Gaal. Akan tetapi Rooney nampak menikmati tugas barunya tersebut.
Setelah gol pertama terjadi, kapten tim nasional Inggris itu memegang kendali. Beberapa serangan dimulai dari kakinya, sehingga Michael Carrick lebih tenang untuk membantu pertahanan.
Tidak hanya mencetak dua gol, Rooney menyumbangkan satu assist pada laga ini. Pemain tahun ini memiliki chemistry yang baik dengan Van Persie. Sehingga umpan terobosan Rooney mampu dikonversi dengan baik oleh rekannya pada gol ketiga. Sebenarnya, Rooney bisa saja mencatatkan dua asist andai umpan terobosan yang ia berikan pada Persie di babak pertama gagal berakhir menjadi gol.
Newcastle sendiri harus menerima kekalahan ini. Mereka harus membayar mahal kegagalan mengimbangi strategi menekan lawan yang menguasai bola dengan konsentrasi menjaga ruang-ruang kosong di pertahanan. Pardew harus mengakui bahwa siasatnya, kali ini, dengan mudah dihancurleburkan oleh cara bermain yang dirancang oleh van Gaal.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/krs)











































