Derby Roma edisi pertama musim 2014/2015 berakhir imbang 2-2. Gol dari Stefano Mauri dan Felipe Anderson di babak pertama, mampu disamakan oleh Sang Pangeran Roma, Francesco Totti, pada babak kedua.
Ya, Lazio sempat unggul 2-0 pada 45 menit babak pertama. Namun kejelian allenatore Roma, Rudi Garcia, dalam membaca permainan membuat Roma mampu mencetak dua gol pada babak kedua. Sebuah hasil yang rasanya kembali disesali oleh pelatih Lazio, Stefano Pioli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pendukung Roma, yang pada pertandingan semalam (11/1) menjadi tuan rumah, cukup geram dengan dua gol yang diciptakan Lazio pada babak pertama. Bagaimana tidak, proses dua gol yang diciptakan Biancoceleste ini bisa dibilang relatif lebih mudah.
Gol pertama, terjadi karena blunder Daniele De Rossi yang gagal mengontrol bola dengan baik sehingga direbut Felipe Anderson, dan kesalahan Jose Holebas yang tak mengantisipasi pergerakan Mauri. Sedangkan gol kedua, lini tengah membiarkan Anderson dengan leluasa melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.
Namun terlepas dari itu, Lazio memang cukup cerdik membongkar pertahanan Roma yang menerapkan garis pertahanan tinggi. Sejak tengah lapangan, trio gelandang Lazio, Mauri-Lucas Biglia-Marco Parolo, langsung mendistribusikan bola ke sisi sayap.

[Grafik umpan Lazio pada babak pertama]
Pilihan ini diambil karena bek kanan dan kiri Roma, Jose Holebas dan Douglas Maicon, sangat aktif membantu serangan dan meninggalkan posisinya. Celah itulah yang ingin dimanfaatkan Stefano Pioli sehingga menginstruksikan anak asuhnya untuk memanfaatkan lebar lapangan.
Terlebih Maicon kurang baik dalam melakukan transisi dari menyerang ke bertahan pada laga ini. Terlihat dari banyak peluang Lazio yang dihasilkan ketika menyerang lewat sisi kiri, area Maicon (lihat garis biru dan kuning pada grafis di atas). Berbeda dengan Holebas yang meski rajin naik tapi lebih sering berada di area pertahanan ketimbang di lini serang. Gol pertama Lazio pun tercipta dari sisi Maicon.

[Grafik heatmap Holebas dan Maicon pada babak pertama]
Keberhasilan serangan Lazio di sisi kiri pun karena Roma mengarahkan serangan lewat kanan secara diagonal, Miralem Pjanic pengatur serangan Roma pun berada di sisi ini. Namun karena Alessandro Florenzi tak mampu berduel dengan lini pertahanan Roma di sisi kiri, serangan Roma sering sia-sia. Serangan Lazio pun sering berasal dari di sisi ini.

[Grafik umpan Roma yang sering buntu di kaki Florenzi]
Karena itulah ketika di babak kedua Roma berhasil memperbaiki penampilannya, di mana Florenzi ditarik keluar digantikan oleh Adem Ljajic, serangan Lazio dari sisi kiri pun mulai tidak terlalu berbahaya. Akhirnya, Felipe Anderson yang terlibat dalam dua gol pertama Lazio pun sulit mendapatkan bola dan Lazio kesulitan menembus pertahanan Roma.
Kevin Strootman Pengubah Alur Serangan
Rudi Garcia sekali lagi membuktikan kecerdikannya dengan mampu menyamakan kedudukan meski sempat tertinggal dua gol. Tak mau berlama-lama, ia langsung menggantikan Florenzi yang bermain buruk (55% akurasi umpan dan hanya melepaskan satu tembakan) dan memasukkan Kevin Strootman menggantikan Radja Nanggolan saat turun minum.
Alasan penggantian Nainggolan pun untuk memaksimalkan serangan lewat kiri. Hal ini dikarenakan pada babak pertama serangan melalui kanan tak berhasil menembus lini pertahanan Lazio. Karena itu, Strootman dimasukkan sebagai solusi.
Dan tak perlu waktu lama, Strootman langsung berkontribusi bagi Il Lupi. Tiga menit berada di lapangan, gelandang asal Belanda ini menjadi kreator atas terciptanya gol pertama Roma. Umpan silangnya ke kotak penalti mampu di selesaikan oleh Totti dengan sempurna.
Pun begitu pada gol kedua. Adalah Strootman yang mengalirkan serangan ke sisi kiri, umpannya pada De Rossi kemudian diteruskan pada Holebas yang lantas memberikan assist untuk gol kedua Totti. Padahal sebelumnya, bola berada di sisi kanan.

[Proses gol kedua Roma]
Penampilan Strootman memang mampu mengubah jalannya pertandingan. Menjadi pengatur serangan Roma pada babak kedua (babak pertama Pjanic), dari 22 umpan, hanya dua yang gagal menemui sasaran. 22 umpan tersebut dilepaskan dalam waktu 20 menit. Sedangkan Nainggolan, dari 45 menit bermain hanya melahirkan 21 umpan, hanya 81% yang mengenai sasaran.
Strootman pun benar-benar ditempatkan di sisi kiri. Ya, daerah operasi Strootman hanya berada di area sisi kiri. Tak seperti Nainggolan yang ditugaskan untuk menjadi perebut bola bersama De Rossi sehingga harus mengejar bola ke berbagai sudut.

[Perbandingan heatmap Nainggolan dan Strootman]
Alasan digantinya Nainggolan pun bukan hanya demi kepentingan penyerangan. Pemain berdarah Batak ini pun kerap terpancing mengejar bola. Pada gol kedua yang dicipakan Lazio pun hanya ada De Rossi yang berada di depan area kotak penalti.
Pjanic untuk Mengecoh Lini Pertahanan Lazio
Satu persamaan yang terjadi pada dua gol yang diciptakan Roma adalah berhasilnya Totti mendapatkan ruang kosong untuk menyambut umpan silang. Para pemain Lazio seolah tak menyadari bahwa penyerang yang tahun ini berusia 39 tahun tersebut berada di mana ketika Roma melakukan serangan.
Ini dikarenakan Totti memang diperankan sebagai false nine pada laga ini. Area operasinya justru lebih banyak di lini tengah ketimbang di kotak penalti. Di tengah ia menjadi pemantul atau memancing pemain belakang Lazio, Stefan De Vrij dan Lorik Cana, untuk keluar dari zona pertahanan.
Namun keberhasilan Totti mendapatkan ruang bebas pun tak terlepas dari perubahan instruksi Garcia untuk Pjanic. Pada babak kedua, gelandang asal Bosnia ini bermain lebih mobile ketimbang pada babak pertama.
Pada babak pertama, Pjanic benar-benar difungsikan untuk membantu Florenzi, menyerang lewat kanan. Sementara pada babak kedua, Pjanic kerap terlihat baik di kiri atau pun di kanan. Ia tampaknya diinstruksikan untuk mendekati bola di mana pun adanya.

Ini dilakukan untuk membingungkan penjagaan pemain bertahan Lazio. Dan dua gol yang diciptakan Roma, Pjanic selalu berada di area kotak penalti. Posisinya pun selalu mendekati bola. Sedangkan pemain yang menguasai bola, mengirimkan umpan jauh untuk Totti.

Kehadiran Pjanic yang-lah yang membuat bek Lazio bisa teralihkan dari Totti. Seperti pada gol pertama, empat bek Lazio harus mendekati bola karena terdapat pemain Roma, sementara Totti mencari ruang kosong di sisi sebaliknya.
Lazio sendiri menyadari lini pertahanan mereka mulai kelabakan sejak babak kedua. Langkah yang dipilih Stefano Pioli sendiri adalah dengan mengurangi pemain di lini serang. Felipe Anderson pun digantikan Luis Cavanda. Dengan lima bek, Lazio pun bisa menahan gempuran Roma pada babak kedua.
Kesimpulan
Hasil imbang ini tentunya sangat disayangkan oleh kedua tim. Lazio tak mampu mempertahankan keunggulannya, sementara Roma kembali ditinggalkan Juventus karena kini bermargin tiga poin, karena Juve berhasil mengalahkan Napoli.
Namun Roma beruntung memiliki pelatih jenius seperti Rudi Garcia. Garcia melihat kelemahan timnya pada babak pertama dan langsung memperbaikinya pada babak kedua. Ya, pergantian Nainggolan-Strootman serta mengubah peran Pjanic sangat krusial bagi Roma sehingga berhasil menyamakan kedudukan.
Sedangkan Lazio, tak mampu keluar dari tekanan semenjak hadirnya Strootman. Stefano Pioli kehabisan akal sehingga memilih untuk ‘melupakan’ tiga poin dan memperketat lini pertahanan pada babak kedua. Dan akhirnya, hasil seperti laga melawan Inter Milan, sempat unggul 2-0 namun berakhir 2-2, harus kembali terjadi ketika menghadapi tim sekotanya AS Roma.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini
(roz/a2s)










































