Strategi Chelsea pada awalnya berhasil. Pressing ketat sejak menit pertama, memaksa Everton melepaskan umpan dengan terburu-buru. Setidaknya dua kali, Chelsea, pada 20 menit pertama, memotong umpan pemain Everton dan berhasil dikonversi menjadi serangan balik cepat meski tak ada yang menjadi gol.
Pada babak kedua, Chelsea lebih dominan menguasai bola, sementara Everton memilih menumpuk pemain di area kotak penalti. Ini menjadi anti taktik yang digunakan Chelsea pada babak pertama. Nemanja Matic dan kolega seolah kehilangan kreativitas untuk membongkar rapatnya pertahanan Everton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βIni bukan karena kami bermain buruk, tapi karena Everton menampilkan penampilan terbaiknya,β kata Mou dalam wawancara usai pertandingan, βMereka mengubah DNA cara bermain, dengan lini pertahanan yang kuat dan tangguh.β

Menekan Sejak Awal
Sama-sama mengusung 4-2-3-1, Chelsea sedini mungkin menahan suplai bola bagi kedua pemain sayap Everton yang dihuni Steven Naismith dan Aaron Lennon.
Loic Remy dan Willian ditugaskan mengejar kemanapun bola bergerak di area pertahanan Everton. Akibatnya, Everton kesulitan mengembangkan permainan. Bola lebih banyak bergulir di kaki Seamus Coleman, John Stones, Phil Jagielka, dan Bryan Oviedo, yang menjadi tembok di lini pertahanan.
Suplai bola untuk lini serang menjadi terhambat. Naismith dan Lennon lebih banyak turun ke belakang untuk menjemput bola. Aliran bola dialihkan pada Muhamed Besic dan Gareth Barry sebagai poros ganda.
Celah pertahanan Everton mulai terbuka. Jarak bek dengan gelandang Everton terlalu jauh. Saat bola berhasil dipotong di tengah, Remy dan Willian berada di ruang yang tercipta antara bek dan gelandang tersebut. Ini yang membuat Chelsea, walaupun pada 10 menit pertama kalah penguasaan bola (42% : 58%), lebih agresif dalam melakukan serangan. Dalam rentang waktu tersebut, Chelsea melepaskan empat attemps, sementara Everton dua kali.

[Grafis umpan Everton hingga menit ke-10]
Pressing ketat ini bisa menjawab mengapa umpan sukses Everton pada 10 menit pertama hanya 76%. Dari grafis di atas terlihat empat umpan panjang yang diarahkan dari lini pertahanan ke lini depan gagal mencapai tujuan.
Tekanan Chelsea pula yang membuat Everton, sepanjang pertandingan, melakukan 47 sapuan (clearence), berbanding 15 sapuan dari Chelsea.
Mengecoh Pertahanan Everton
Peran Ramires yang duet dengan Nemanja Matic di lini tengah tidak begitu vital. Lain dengan pertandingan sebelumnya, Matic melakukan peran yang biasa diemban Cesc Fabregas. Ia lebih aktif menyerang serta beroperasi di area depan kotak penalti. Peran Ramires menjadi terlupakan.
Dengan intensitas serangan yang minim, Ramires hanya dua kali melakukan sapuan, dan empat kali tekel. Kemampuan bertahannya tidak teruji karena Everton mengandalkan dua sayap mereka saat membangun serangan.
Serangan Chelsea pada babak pertama sebenarnya membingungkan lini pertahanan Everton. Cuadrado yang diplot bermain di sisi kanan, lebih sering terlihat berada di area tengah depan kotak penalti. Tugas menyisir sayap diberikan kepada Brainslav Ivanovic.
Namun, bukan berarti Cuadrado tidak mengirimkan umpan silang. Sepanjang 70 menit ia bermain, Cuadrado mengirimkan 10 umpan silang atau yang terbanyak bersama Willian.
Pun dengan Eden Hazard yang lebih sering memotong ke dalam, dan memberikan bola pada Cesar Azpilicueta untuk disilangkan. Total, Ivanovic mengirim enam umpan silang, dan Azpilicueta lima umpan silang.

[Grafis tendangan Chelsea pada babak pertama]
Ini yang membuat poros ganda Everton kewalahan pada babak pertama. Besic dan Barry mengejar pemain sayap Chelsea, sehingga area di depan kotak penalti menjadi rawan tanpa pengawalan. Ini pula yang membuat Chelsea mendapatkan kesempatan menendang lima kali dari depan kotak penalti.
Faktor Willian
Willian biasanya bermain di sayap kanan. Pos di belakang penyerang biasanya diberi pada Oscar. Menghadapi Everton, Mou menempatkan Cuadrado di sayap kanan, dan mengganti peran Oscar untuk Willian.
Willian tampil begitu agresif dan efektif. Dari lapangan tengah, ia mengirimkan sembilan umpan panjang dan semuanya mencapai sasaran. Ia juga mengirim dua umpan kunci (key passes) yang menjadi peluang bagi Chelsea.

[Grafis umpan Willian]
Umpan-umpannya pun nyaris sempurna. Dari 66 umpan yang ia lepaskan, hanya tiga (berdasarkan Squawka, dan empat menurut Statszone) yang gagal. Rasio keberhasilan umpannya mencapai 95%!
Gelandang asal Brasil ini berperan penting atas kesuksesan pressing Chelsea. Ia bergerak tanpa henti mengganggu dan menutup ruang umpan Everton. Pergerakannya tidak statis. Ia selalu aktif mendekati bola. Ia juga yang pada akhirnya menjadi penentu keberhasilan Chelsea meraup tiga poin.

[Heat map Willian. Terlihat bagaimana agresifnya Willian dalam mencari ruang dan sebagai motor serangan Chelsea]
Cara Everton Beradaptasi
Usai pertandingan, Martinez mengutarakan kekecewaannya atas kekalahan The Toffes. Namun, ia puas atas permainan yang ditampilkan anak asuhnya.
βMereka (Chelsea) memang berkelas. Namun, kami menampilkan pertahanan yang kuat, yang bisa membuat Chelsea frustasi. Kami bisa beradaptasi dengan situasi apapun, dan saya tidak sabar menantikan pertandingan selanjutnya,β tutur Martinez usai pertandingan.

[Grafis umpan silang Chelsea. Dari 45 umpan silang, hanya delapan yang mencapai sasaran]
Adaptasi yang dimaksud Martinez adalah bagaimana mereka menyadari adanya kesalahan dalam pola yang mereka mainkan sepanjang 45 menit babak pertama. Di babak kedua, Everton berubah total. Mereka melepaskan penguasaan bola, dan menempatkan delapan pemain di area kotak penalti.
Di depan, hanya Romero Lukaku dan Naismith atau Lennon menanti serangan balik. Nyatanya, skema seperti ini jauh lebih efektif. Chelsea dibiarkan mencari cara untuk bisa masuk ke dalam kotak penalti. Saat pemain Chelsea menggiring bola, ia selalu dibayangi oleh dua pemain. The Blues benar-benar kesulitan memasuki kotak penalti Everton.

[Umpan sepertiga lapangan akhir Chelsea pada babak kedua]
Dari grafis ke atas terlihat hanya empat umpan saja yang berhasil diterima secara sukses di dalam kotak penalti. Sisanya berhasil digagalkan.
Everton juga berhasil memaksa Chelsea untuk memberi umpan silang, yang bisa dipatahkan bek Everton. Rapatnya area kotak penalti membuat Chelsea mengirim umpan ke kedua sisi.
Pada babak pertama, poros ganda Everton dibuat kesulitan dalam menahan serangan Chelsea. Mereka mau tak mau bergerak ke sayap menutup pergerakan Hazard dan Cuadrado. Namun, pada babak kedua, Barry dan Besic lebih fokus di area tengah kotak penalti, menunggu Hazard dan Cuadrado mengirim umpan, atau memotong ke dalam.
Kesimpulan
Menempatkan Remy sendirian di lini depan agaknya bukan strategi yang tepat dengan skema bermain Chelsea sekarang. Secara teknis, Remy bukan penyerang yang bisa berlama-lama dengan bola di hadapan bek lawan, seperti halnya Diego Costa. Sepanjang pertandingan, Remy melepaskan tiga attemps dan hanya satu yang mencapai sasaran.
Pertandingan menghadapi Everton menjadi bukti kalau Chelsea menghadapi masalah serius dalam membongkar pertahanan lawan yang bermain bertahan. Chelsea pada akhirnya masuk jebakan Everton dengan mengirimkan bola ke sayap untuk memberikan umpan silang.
Masuknya Fabregas tidak serta merta mengubah permainan Chelsea, malah digesernya Willian ke sayap kanan, membuat perannya menjadi berkurang. Gol yang dicetak Chelsea pun dibuat di luar kotak penalti. Itu juga karena arah bola membentur bek Everton sehingga bola berbelok arah.
Banyak pekerjaan rumah yang mesti dibenahi Mou, utamanya ketergantungan terhadap Costa sebagai penggedor di lini serang. Bagi Everton, kekalahan ini dapat menjadi pelajaran bagaimana mereka memaksimalkan serangan balik. Menghadapi kesebelasan yang secara kemampuan berada di atas mereka, cukup berbahaya andai The Toffes bermain terbuka.
Everton sebenarnya berpeluang lebih dulu mencetak gol. Pada menit ke-68, Lukaku yang berdiri tanpa pengawalan, menendang bola di kotak kecil. Ajaibnya, tendangan lukaku berhasil ditahan oleh kaki panjang Cech. Ini merupakan kali kedua, Lukaku melakukan attemps dan ditahan dengan cara yang sama.
Untuk pertandingan selanjutnya, Chelsea bisa memaksimalkan agresifitas Willian, terutama menghadapi kesebelasan yang mudah terpancing saat ditekan. Kemungkinan kesalahan umpan akan meningkat, dan serangan balik cepat akan menjadi opsi serangan Chelsea lainnya. Kehadiran Costa akan melengkapi skema serangan tersebut.
(din/raw)











































