Cara Bertahan Shakhtar Membuat Bayern Gagal Menang

Liga Champions: Shakhtar 0-0 Bayern

Cara Bertahan Shakhtar Membuat Bayern Gagal Menang

- Sepakbola
Rabu, 18 Feb 2015 14:38 WIB
Cara Bertahan Shakhtar Membuat Bayern Gagal Menang
AFP/Sergei Supinsky
Jakarta -

Meski diunggulkan, Bayern Munich gagal memenangi laga kontra tuan rumah Shakhtar Donetsk dalam leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Pertandingan yang digelar di kota Lviv Ukraina tersebut berakhir imbang tanpa gol.

Dominasi penguasaan bola yang diperagakan kesebelasan tamu tak berarti banyak dalam pertandingan kali ini. Sempat menggebrak di 15 menit awal, Bayern justru kemudian keteteran di akhir laga. Kartu kuning kedua yang menimpa Xabi Alonso pada menit 65 membuat taktik Pep Guardiola seketika bubar.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Susunan pemain kedua kesebelasan [whoscored]

Formasi Menyerang Tak Simetris Bayern Munich

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Bayern menggebrak di awal laga. Bahkan jika mereka dapat memaksimalkan peluang, bukan tidak mungkin sebelum turun minum Schweinsteiger dkk. sudah unggul tiga angka. Untuk melancarkan aksi ini Pep Guardiola kemudian bermain menyerang secara total dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang ada.

Pada 15 menit pertama Die Roten seolah bermain hanya menggunakan tiga pemain belakang. Bernat yang berada di sisi kiri lebih banyak menyerang ketimbang membantu pertahanan. Untungnya hal ini tak terlalu berdampak banyak kepada solidnya lini belakang Bayern. Padahal sisi ini sebenarnya salah satu yang paling rentan karena ada sayap berbahaya Douglas Costa di kubu lawan.

Keberadaan David Alaba di bek tengah sisi kiri menjadi sosok sentral kemudian. Berkat jasanya, Costa tidak dapat berbuat banyak bahkan untuk hanya sekadar melakukan umpan silang. Keberadaan Bernat yang terus siaga di depan juga membuat Ribery dapat bergerak bebas dan tak hanya fokus menyisir sayap.

Tetapi pilihan taktik ini ternyata berdampak kurang baik di lini serang. Sisi kiri menjadi penuh dengan pemain Bayern, karena selain duet Bernat-Ribery juga ada Schweinsteiger di sana. Serangan justru mudah dimentahkan karena ruang menjadi sempit untuk memainkan bola, bahkan sisi ini menjadi terlihat mati pada babak pertama. Sisi kanan yang dihuni oleh Robben malah kurang mendapat bantuan, ia masih harus berjuang sendirian membawa bola yang akibatnya dengan mudah dimentahkan.

Padahal kemampuan gelandang asal Belanda ini seharusnya mampu dimaksimalkan, apalagi statusnya kini adalah topskor sementara Bundesliga. Bahkan jika melihat grafis di bawah ini, aliran bola justru lebih banyak berada di kanan ketimbang kiri.


Umpan sepertiga akhir Bayern pada babak pertama [statszone]

Tempo Cepat vs Pertahanan Berlapis

Tanpa bermaksud meremehkan, Shakhtar Donetsk harus diakui memiliki kualitas pemahaman taktik maupun kualitas pemain di bawah Bayern. Untuk itu sang manajer Mircea Lucescu sepertinya lebih fokus membangun pertahanan. Statistik membuktikan hal tersebut, Bayern unggul penguasaan bola 65% dan percobaan ke gawang 8-1. Bahkan tuan rumah tidak mendapat sama sekali kesempatan melakukan sepak pojok.

Tetapi kenapa anak asuh Pep Guardiola ini gagal mencetak gol dan sedikit mendapat peluang?

Terkadang menyerang secara cepat dan terbuka, serta terus menguasai jalannya pertandingan memang tak selalu menghasilkan gol. Bayern dan terutama Pep Guardiola seharusnya sudah akrab dengan hal tersebut apalagi di fase knockout Liga Champions.

Pada saat sebelum pertandingan, Pep Guardiola bahkan sempat berbicara mengenai kembalinya bentuk permainan Bayern. Menurut Pep gol-golnya saat mengalahkan Hamburg 8-0 di laga sebelumnya terjadi melalui skema sederhana di kotak penalti. Hal itulah yang ternyata tidak terlihat pada pertandingan kali ini.

Bola dengan cepat dialirkan menuju ke sayap dan pemain lainnya kemudian menunggu di dalam kotak penalti. Skema umpan-umpan pendek di sepertiga akhir seperti yang dikatakan Pep tadi tidak berjalan. Taktik model ini dengan mudah dipatahkan oleh Shakhtar Donetsk yang membangun pertahanan berlapis. Bahkan saat dalam kondisi diserang, mereka memasang 5 bek sekaligus dengan menginstruksikan salah satu gelandangnya, Fernando, untuk sejajar dengan bek tengah.

Tim pelatih Bayern sepertinya memang ingin memakai pola yang sama saat mengalahkan Hamburg akhir pekan lalu. Hal ini terlihat dari pilihan pemain yang diturunkan sejak menit pertama. Sang ujung tombak, Robert Lewandowski ditepikan sementara dan lebih memilih duet Goetze dan Mueller di lini serang. Seharusnya komposisi ini tepat jika Pep menginginkan para pemain depannya aktif bergerak dan tidak hanya diam menunggu di kotak penalti.

Mircea Lucescu sepertinya juga sudah melakukan antisipasi terkait hal ini. Pertahanan berlapis tadi dibangun dengan kuat, bahkan saat diserang Shakhtar hanya menyisakan Luis Adriano seorang diri di depan.

Titik Balik Permainan dan Petaka Alonso Pada Babak Kedua

Kedua kesebelasan memainkan taktik yang amat berbeda pada babak kedua. Tuan rumah tidak lagi bertahan total selepas turun minum. Meski dominasi penguasaan bola tetap millik Bayern, mereka kini mencoba melakukan tekanan dengan memilih tidak langsung turun jauh saat diserang. Minimal selalu ada tiga pemain yang berada di area lawan guna memberikan tekanan pada tim tamu.

Begitu juga dengan taktik yang dipilih oleh Pep Guardiola. Anak asuhnya bermain lebih sabar dan tidak dalam tempo cepat. Bola digulirkan perlahan antar lini dengan sesekali memindahkan dari sisi satu ke lainnya. Xabi Alonso berperan banyak dalam skema kali ini, ia menjadi pengatur serangan yang menghubungkan antar lini tadi. Gelandang asal Spanyol ini memang fasih untuk berperan demikian. Sebagai catatan, ia adalah pemain yang memimpin daftar pengirim umpan di semua ajang yang dilakoni Bayern musim ini.

Kondisi ini justru menjadi titik balik bagi Shakhtar Donetsk. Kesebelasan yang terpaksa pindah markas karena konflik ini menjadi punya beberapa kesempatan melakukan serangan. Kedua sayap tetap menjadi andalan dengan memaksimalkan kecepatan yang dimilikinya.

Berkat kecepatan itu juga Xabi Alonso terpaksa mandi lebih cepat di ruang ganti. Gelandang asal Spanyol ini menarik Alex Teixeira yang sedang berlari kencang saat proses serangan balik. Kartu kuning kedua keluar dari saku wasit Alberto dan membuat permainan Bayern menjadi berantakan.
Bagi kesebelasan yang mengandalkan penguasaan bola seperti Bayern, kehilangan satu orang pemain memang akan berpengaruh banyak. Untuk itu Pep Guardiola sampai mengganti dua pemain sekaligus untuk melakukan taktik baru lagi.



Grafis umpan Xabi Alonso [statszone]

Pertama adalah menarik Mueller dan memasukan bek tengah Badstuber, David Alaba kemudian didorong ke depan menggantikan peran Alonso. Goetze menjadi sendirian di depan, bukan tipe pemain yang tepat untuk itu. Ia butuh sokongan tetapi pemain yang dibawa oleh Pep terbatas, membuat salah satu jalan terbaik adalah juga menarik Goetze dan menggantinya ke penyerang yang bisa bermain tunggal: Lewandowski.

Bayern masih bermain dominan memang meski telah kehilangan Xabi Alonso. Tetapi bermain 10 orang tentu berbeda dengan 11 orang. Akibat keluarnya Mueller dan Goetze tadi membuat tidak ada lagi pemain yang beroperasi di depan kotak penalti Shakhtar. Skema yang sudah berjalan lancar di 15 menit babak kedua tak bisa lagi dipakai.

Kesimpulan

Sudah diprediksi sebelumnya bahwa Bayern akan mampu mendominasi jalannya pertandingan melawan Shakhtar Donetsk. Kondisi yang membuat sang tuan rumah akhirnya lebih memilih bermain aman dan fokus pada pertahanan. Persoalan utama adalah meski dominan namun taktik yang dijalankan Pep belum mampu menghasilkan gol.

Masalah utama terletak pada buruknya skema di area sepertiga akhir yang gagal menembus pertahanan Shakhtar. Sebenarnya Pep Guardiola mampu menemukan solusi selepas turun minum, namun sayangnya kartu merah Alonso membuat skema ini menjadi bubar. Selain itu cederanya Benatia di saat pemanasan juga punya sedikit andil terkait strategi pergantian pemain. Walaupun sebenarnya David Alaba mampu menggantikan perannya dengan baik. Keadaan yang membuat Pep Guardiola sampai menyertakan dua kiper di bangku cadangan.

Bagi Shakhtar, hasil ini seharusnya tidak terlalu memuaskan. Biar bagaimana pun, di laga berikutnya, mereka harus mencetak gol ke gawang Bayern jika ingin lolos. Itu pekerjaan yang akan jauh lebih sulit karena laga akan berlangsung di kandang Bayern. Shakhtar layak mendapatkan kredit karena kinerja mereka dalam pertahanan. Tapi tak mencetak gol, terlebih saat unggul jumlah pemain, membuat mereka punya pekerjaan lebih berat di laga berikutnya.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.



(roz/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads