Besiktas Meredam Liverpool dengan Formasi Asimetris

Liga Europa: Liverpool 1-0 Besiktas

Besiktas Meredam Liverpool dengan Formasi Asimetris

- Sepakbola
Jumat, 20 Feb 2015 14:16 WIB
Besiktas Meredam Liverpool dengan Formasi Asimetris
Getty Images/Julian Finney
Jakarta - Memulai pertandingan pertama di Liga Europa, Liverpool berhadapan dengan wakil Turki, Besiktas, pada babak 32 besar. Pada leg pertama yang dilangsungkan di Stadion Anfield, Jumat (20/2) dinihari WIB, Liverpool meraih kemenangan 1-0 lewat gol striker asal Italia, Mario Balotelli, dari titik putih di menit ke-85.

Brendan Rodgers sedikit mengutak-atik skuatnya pada laga ini. Pasalnya, beberapa pemain andalannya harus absen karena cedera dan hukuman kartu. Kapten Steven Gerrard serta gelandang bertahan andalan Liverpool, Lucas Leiva, tidak bisa bermain karena cedera. Sedangkan pemain sayap yang belakangan ini dimainkan sebagai fullback, Lazar Markovic, harus menjalani hukuman akibat kartu merahnya saat berlaga di Liga Champions melawan Basel.

Tidak hanya itu, Rodgers masih harus mencadangkan pemain muda andalannya, Raheem Sterling, yang tidak dalam kondisi prima.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rodgers sendiri tetap memainkan formasi andalannya saat ini, 3-4-3. Cederanya Gerrard dan Leiva membuat Rodgers menunjuk Joe Allen untuk mendampingi Jordan Henderson di tengah. Sedangkan di depan, Rodgers mempercayakan trio Phillipe Coutinho, Ada Lallana, dan Deniel Sturridge.
Di pihak tim tamu, Slaven Bilic, menggunakan formasi 4-2-3-1.

Mantan striker Chelsea, Demba Ba, menjadi pemain tunggal yang ditempatkan Bilic di depan. Penyerang asal Senegal ini, dibantu oleh Olcay Sahan, Jose Sosa, dan Gokhan Tore yang bermain sebagai gelandang serang.



Susunan pemain kedua kesebelasan

Pola Pertahanan Asimetris Besiktas

Bermain di kandang sendiri, Liverpool terlihat sangat kesulitan untuk menembus pertahanan Besiktas dan kesulitan untuk menciptakan peluang. Mereka bahkan beberapa kali harus tertekan oleh serangan Besiktas yang cukup membahayakan.

Pada babak pertama, Liverpool hanya berhasil melepaskan dua peluang yang hampir berbuah gol. Namun itu pun hasil permainan individu Sturridge dan Moreno, bukan hasil permainan kolektif tim yang menjadi ciri khas Liverpool.

Di sepanjang babak pertama, seperti ada yang salah dengan permainan The Reds. Jangankan untuk mencetak gol, mereka bahkan kesulitan untuk sekedar menguasai dan mengalirkan bola.

Henderson sering terlihat kebingungan ketika menerima bola di tengah. Begitu pula dengan Emre Can yang seharusnya menjadi penyuplai bola Liverpool dari belakang. Can seolah-olah tidak bisa menemukan pilihan kawan untuk diberikan bola di depan.

Pemain yang paling terlihat kebingungan adalah Coutinho. Pemain asal Brasil ini terlihat sangat kesulitan setiap kali menguasai bola. Umpan akurat serta dribbling yang biasanya bisa mengelabui lawan jarang terlihat pada pertandingan ini.

Hal ini adalah karena taktik yang telah disiapkan Slaven Bilic. Dengan cemerlang mantan pelatih Kroasia itu merancang satu strategi yang membuat para pemain Liverpool kebingungan untuk masuk ke pertahanan Besiktas.

Besiktas memainkan formasi dasar 4-2-3-1. Satu hal yang istimewa dari formasi ini adalah saat bertahan mereka tidak akan memainkan formasi simetris sebagaimana 4-2-3-1 pada umumnya.

Pemain Besiktas akan cenderung bergeser ke sebelah kiri untuk memberikan tekanan pada pemain Liverpool di sisi tersebut, sedangkan sisi kanan pertahanan mereka cenderung dilonggarkan dengan jumlah pemain yang lebih sedikit.

Gambar di bawah menunjukan kecenderungan posisi pemain Besiktas saat bertahan. Besiktas terlihat seperti menumpuk pemain di sisi kiri pertahanan.



Sepintas, hal ini terlihat akan memberikan Alberto Moreno ruang untuk menyerang dari sisi kiri untuk berhadapan satu lawan satu dengan Serdar Kurtulus. Namun selama 90 menit pertandingan, Kurtulus berhasil dengan baik meredam serangan dari bek kiri asal Spanyol tersebut.

Strategi ini pun berhasil karena Bilic bisa memperkirakan bahwa Mahmadou Sakho tidak akan membantu Moreno, meski ia terlihat bebas tanpat tekanan dan bisa keluar dari posnya untuk membuat Kurtulus berhadapan 2 lawan 1 dengan Moreno dan Sakho.

Bilic tampaknya paham bahwa dari ketiga bek Liverpool, hanya Emre Can yang diberikan lisensi untuk maju menyerang oleh Brendan Rodgers (Baca: Peran baru Emre Can dalam skema baru Liverpool).

Sakho dan Martin Skrtel bertugas untuk menjaga area pertahanan saat Liverpool menyerang, sehingga Sakho tidak akan pernah meninggalkan posnya. Dan Bilic pun memilih untuk tidak memberikan pressing sama sekali kepada Sakho. Toh ujung-ujungnya ia pasti akan memberikan bola ke Henderson atau ke Emre Can sebagai yang bertugas menyuplai bola.

Hal inilah yang membuat permainan Liverpool terlihat aneh. Henderson dan Can selalu kesulitan untuk mengalirkan bola. Lallana tidak pernah bisa menemukan ruang untuk meminta bola. Jordon Ibe pun selalu langsung dikepung dua atau tiga pemain setelah menerima bola. Hal ini terjadi karena, setiap Liverpool menguasai bola di area lapangan Besiktas, mereka pasti dalam keadaan kalah jumlah dengan pemain Besiktas.

Dalam kondisi ini, Liverpool sebenarnya memiliki satu amunisi lagi. Mereka memiliki Coutinho yang juga mampu mengatur serangan. Jika Coutinho bergerak melebar ke sisi kiri, Besiktas akan terancam karena mereka hanya menempatkan Kurtulus seorang di sana.

Namun, Bilic menyiapkan Hutchinson untuk meredam aksi Coutinho dengan melakukan man marking. Hal inilah yang menyebabkan Coutinho terlihat bermain buruk pada pertandingan ini.

Masuknya Dejan Lovren dan Balotelli

Kondisi tersebut terus berlangsung hingga awal babak kedua. Rodgers baru melakukan perubahan pada menit ke-63 dengan memasukkan Dejan Lovren menggantikan Allen, dan Mario Balotelli menggantikan Coutinho.

Masuknya Lovren membuat Can digeser sebagai gelandang dan Lovren mengisi posisi Can di belakang. Balotelli ditempatkan sebagai penyerang di depan, sedangkan Lallana mengisi posisi yang ditinggalkan Coutinho.

Dari sinilah permainan berubah. Dua pemain yang menjadi penyuplai bola Liverpool kini berada di tengah. Tentu saja Besiktas tidak lagi bisa memainkan formasi asimetris karena kini serangan Liverpool tidak hanya dari kiri saja. Besiktas kembali ke formasi 4-2-3-1 yang berbentuk simetris sebagaimana formasi itu biasa dimainkan.

Besiktas hanya mengantisipasi serangan Liverpool dengan menumpuk pemain di depan area pertahanan. Dua poros ganda mereka berdiri rapat di depan barisan pertahan untuk menghindari area ini dieksploitasi Sturridge atau Lallana. Di kedua sisi sayap, kini mereka hanya bisa berharap pada kedua fullback yang sesekali dibantu dua penyerang sayap.

Dengan kondisi ini, Ibe mulai mendapatkan ruang. Dia tidak lagi perlu menghadapi 2-3 pemain sekaligus saat menguasai bola. Dan Ibe tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Pemain berusia 19 tahun ini berhasil melewati penjagaan Ramon di sisi kiri pertahanan Besiktas. Ibe pun mendapatkan ruang terbuka dan masuk ke kotak penalti Besiktas. Ramon yang telah dikelabui Ibe mencoba mengejar Ibe dan menghentikan laju Ibe.

Namun aksi Ramon ini justru berbuah fatal dengan pelanggaran di kotak penalti. Balotelli yang mengeksekusi tendangan penalti membuat Liverpool unggul 1-0.

Kesimpulan

Bilic memang berhasil merancang taktik yang cukup jitu untuk meredam cara permainan Liverpool. Formasi 4-2-3-1 asimetrisnya cukup ampuh untuk membuat Liverpool kebingungan selama 60 menit. Namun ternyata dia tidak menyiapkan strategi khusus ketika Liverpool mengubah pola permainan. Kualitas individu yang berbeda antara Liverpool dan Besiktas akhirnya harus menghapus taktik cemerlang Bilic.

Di leg kedua tentu saja Bilic harus memikirkan cara menyerang yang jitu. Di pertandingan ini Bilic hanya bergantung pada aksi Demba Ba yang hampir selalu sendirian di depan. Pada leg kedua mau tidak mau bilic harus merancang satu pola serangan yang baik sehingga Besiktas bisa mencuri gol dari Liverpool. Jika tidak, Bilic harus rela tersingkir dari ajang Liga Europa ini.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.



(roz/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads