Lewat permainan agresif, Bayer Leverkusen berhasil menumbangkan Atletico Madrid 1-0 pada babak 16 besar Liga Champions Eropa yang dihelat di Stadion Bay Arena, Kamis (26/2/2015) dinihari WIB.
Sepanjang pertandingan, Los Rojiblancos, julukan Atletico, kesulitan mengembangkan permainan. Pressing ketat yang dilakukan Leverkusen membuat Atletico kerap kehilangan bola.
Pelatih Leverkusen, Roger Schmidt, menerapkan skema yang biasa dilakukan Atletico. Saat dalam kondisi tidak memegang bola, hampir tiga pemain menekan lawan yang memegang bola. Tujuannya bukan hanya memaksimalkan kesalahan pemain lawan, tapi juga menutup ruang umpan pemain lawan. Satu gol yang dicetak Hakan Calhanoglu, sudah cukup menjadi bekal Leverkusen untuk menghadapi leg kedua yang akan dihelat di Stadion Vicente Calderon pada 17 Maret mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Leverkusen Bermain Agresif
Sejak peluit dibunyikan, barisan gelandang Leverkusen yang dihuni Gonzalo Castro, Lars Bender, Son Heung-min, Hakan Calhanoglu, dan Karim Bellarabi langsung menekan pertahanan Atleti. Mereka memaksimalkan serangan dari kedua sisi.
Atleti sendiri membalasnya lewat skema yang menjadi ciri khas mereka: pressing ketat lalu menyiapkan skema serangan balik cepat. Atleti lebih banyak menunggu di area pertahanan sendiri, dan hanya menyisakan dua pemain yang mengejar bola di wilayah lawan.
Ini membuat Leverkusen bisa tampil lebih dominan. Mereka bisa dengan bebas mengalirkan bola ke lini tengah, karena hanya dua pemain yang melakukan pressing di lini pertahanan Leverkusen.

[Bagaimana Leverkusen melakukan pressing sehingga para pemain Atleti kesulitan bahkan untuk sekadar mengirimkan umpan, karena ruang yang tertutup]
Bisa dibilang, Leverkusen mencontek apa yang biasa dilakukan Atleti. Saat lawan memegang bola di lini tengah, ada sekitar empat sampai lima pemain yang melakukan pressing. Ini yang membuat Atletico hanya mengirimkan 280 umpan berbanding 547 umpan yang dilakukan Leverkusen sepanjang pertandingan. Itu pun dengan jumlah sukses yang hanya 57%.
Gambar di atas bisa memperlihatkan betapa agresifnya Leverkusen dalam melakukan pressing. Saat menekan, mereka tidak melakukannya dengan satu pemain, melainkan empat pemain sekaligus! Ketidakleluasaan inilah yang membuat Atleti sulit mengembangkan permainannya.
Menit ke-35 menjadi saksi bagaimana agresifnya Leverkusen terutama dalam melakukan pressing. Beragam cara dilakukan seperti melakukan sapuan, tekel, hingga body charge yang membuat Mandzukic terlihat tidak senang karena didorong dengan keras dari belakang. Perlakuan seperti ini membuat Atleti tidak terlalu nyaman untuk berlama-lama dengan bola.
Kokohnya Pertahanan Atletico
Sepanjang pertandingan, lini pertahanan Atleti harus jatuh bangun menghadapi serangan demi serangan Leverkusen. Atleti memasang garis pertahanan rendah dengan Gabi dan Tiago yang ikut turun lebih dalam.
Leverkusen sendiri sulit mengeksploitasi pertahanan Atleti, apalagi saat bukan berada dalam kondisi serangan balik. Arda Turan menutup sisi kiri, dan Saul Niguez menutup sisi kanan serangan Atleti. Saat bertahan, umumnya empat bek Atleti menunggu di area kotak penalti. Gelandang bertugas menutup ruang gerak pemain Leverkusen, dan dua penyerang ditugaskan menekan langsung.

[Biru: tekel Leverkusen; Merah: tekel Atletico]
Walaupun mendominasi penguasaan bola hingga 66 persen, Leverkusen hanya melakukan 13 attemps dan hanya empat yang mengarah ke gawang Atleti yang dikawal Moya. Walau tertekan, jumlah attemps Atleti nyatanya mencapai 12 atau selisih satu attemp dengan Leverkusen. Sepanjang pertandingan, Atleti melakukan 23 tekel berbanding 13 tekel.

Dari 547 umpan yang dilepaskan Leverkusen, hanya sepertiganya atau sekitar 173 umpan yang beredar di area sepertiga akhir. Bahkan, jumlah umpan suksesnya hanya 118. Kegagalan mengirimkan umpan tidak lepas dari disiplinnya Gabi dan Tiago yang menjadi penyaring pertama pertahanan Atleti.
Leverkusen pun lebih aktif mengirimkan umpan ke kedua sisi, utamanya ke kanan yang dihuni Bellarabi. Peran Heung-min sendiri pada pertandingan semalam tidak terlalu menonjol. Selain minimnya suplai bola, ia juga harus mengikuti arahan pelatih untuk melakukan serangan seefektif mungkin seperti yang biasa Atleti lakukan.

Serangan balik Leverkusen semestinya bisa menghadirkan lebih banyak peluang. Sayangnya, mereka seperti kehilangan kreativitas dan ketenangan setelah mencapai area pertahanan Atleti. Aliran bola seringkali tidak sesuai harapan sehingga peluang pun urung terjadi.
Grafis di atas merupakan salah satu serangan balik Leverkusen pada menit ke-81. Bellarabi sebenarnya punya kesempatan untuk mengalihkan serangan dengan menggiring bola ke sebelah kanan (gambar 1), tapi hal itu urung ia lakukan. Ia punya kesempatan mengirim bola ke Heung-min (gambar 2) tapi urung juga dilakukan. Bellarbi malah memperlambat laju larinya, begitu juga dengan Heung-min.
Saat Gabi sudah dalam posisi yang tepat untuk bertahan, Bellarbi malah mengirimkan umpan dengan kecepatan bola yang tanggung, sehingga bola berhasil dibuang oleh Gabi.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Leverkusen, karena sejurus kemudian, para pemain mereka sudah beredar di area pertahanan Atleti. Lagi-lagi, meski dalam posisi bebas, bola malah dilambungkan ke sisi kanan, yang bisa dengan mudah diantisipasi bek Atleti.
Atleti Kebingungan

[Umpan sepertiga akhir Atletico]
Bagi yang tidak terbiasa menyaksikan permainan Atleti, barangkali akan segera menuduh kalau Atleti seperti bermain tanpa pola. Kenyataannya, hampir di setiap pertandingan, mereka seperti bermain tanpa pola. Padahal, ada instruksi rinci terutama bagaiamana Pelatih Atletico, Diego Simeone, mengkondisikan para pemainnya untuk bergerak tanpa bola.
Saat menyerang, apapun bisa terjadi. Bisa saja Tiago yang menjadi ujung tombak, dan Griezman yang bermain di sayap. Yang jelas, mereka harus bisa memaksimalkan peluang sekecil apapun. Kalau tidak bisa mencetak gol lewat open play, setidaknya peluang tersebut berbuah tendangan sudut, karena dari pos inilah Atleti kerap mendulang gol.
Dari grafis umpan di atas, terlihat kalau Atletico lebih banyak mengirimkan umpan panjang ke lini serang. Mayoritas diarahkan ke sisi kanan. Umpan-umpan panjang ini biasanya diartikan sebagai umpan terobosan dalam kondisi serangan balik. Namun, pada pertandingan menghadapi Leverkusen semalam, tidak sedikit umpan-umpan panjang yang didasari kebingungan akan ke mana bola dialirkan.

[Arah serangan Leverkusen (Biru) dan Atletico]
Pun kala bertahan. Meski Leverkusen sulit menembus rapatnya pertahanan Atleti, tapi tidak sedikit pemain Atleti yang tergesa-gesa menjauhkan bola dari area pertahanan. Maka, jangan heran kalau mereka melakukan 40 sapuan (clearance) dalam pertandingan tersebut. Mayoritas sapuan dilakukan di dalam kotak penalti, dan sebagian lagi di area depan kotak penalti.
Transisi Bertahan-Menyerang Leverkusen
Gol yang dicetak Leverkusen berasal dari skema yang mereka lakukan sejak babak pertama. Ketika bertahan, mayoritas pemain Leverkusen berusaha dekat dengan bola.

[Proses gol Leverkusen]
Saat umpan Wendell berhasil dipotong Gabi, bola jatuh berada dekat dengan tiga pemain Leverkusen sekaligus: Heung-min, Calhanoglu, dan Castro (gambar 1). Bola pun dikirim Castro ke arah Drmic di lini serang, yang diteruskan kepada Bellarabi (gambar 2).
Calhanoglu yang tertinggal di belakang, segera membuka ruang. Ia tidak berhenti di depan kotak penalti, melainkan ke arah belakang Bellarabi (gambar 3). Hal ini dilakukan agar peluang menjadi lebih terbuka. Jika ia berdiri di depan kotak penalti, kemungkinan ia melakukan tendangan, dan bisa diblok oleh bek Atleti.
Pergerakan Calhanoglu pun direspon dengan umpan lewat tumit yang dilakukan Bellarabi. Calhanoglu bergerak dari sisi. Di sini, bisa terlihat bagaimana tiga gelandang Leverkusen sudah berada di area depan kotak penalti Atleti. Dari gambar terlihat ada enam pemain Leverkusen berbanding tujuh pemain Atleti di dalam kotak penalti.

[beragam opsi yang bisa dilakukan Leverkusen]
Lewat skema ini, Calhanoglu bisa saja mengirimkan bola ke Heung-min yang berdiri bebas lewat umpan silang. Ia juga bisa menahan bola, lalu mengirim umpan tarik pada Castro ataupun Bender yang berdiri tanpa kawalan di depan kotak penalti (gambar 2).
Calhanoglu juga bisa saja menunggu di depan kotak penalti (gambar 1), tapi seperti dijelaskan di atas, opsi serangan akan lebih terbatas jika ia memilih hal tersebut.
Kesimpulan
Keberhasilan Leverkusen tidak lepas dari cara mereka yang menduplikasi cara bermain Atleti. Mereka melakukan pressing ketat sejak dari area pertahanan Atleti. Saat diserang, para pemain Leverkusen menjadi tembok kokoh dengan menahan serangan Mandzukic dan kolega. Saat kesempatan hadir, mereka langsung melakukan serangan balik cepat dengan empat hingga tujuh pemain yang ikut membantu serangan.
Ini diperparah dengan lambatnya transisi Atleti saat bertahan dan menyerang. Beberapa kali, Tiago dan Gabi terlihat kewalahan saat harus menahan serangan Leverkusen. Sebagai pengatur di lini tengah, mereka kesulitan membagi perhatian apakah akan fokus untuk menyerang atau bertahan. Simeone sendiri mengaku puas dengan apa yang ditampilkan para pemainnya. Ia pun mengakui kalau Leverkusen memainkan skema yang sama dengan apa yang biasa dilakukan Atleti. "Mereka bermain sangat mirip dengan gaya kami," kata Simeone usai pertandingan.
Los Rojiblancos tampil tidak seperti biasanya. Yang jelas, mereka tidak seperti kesebelasan yang mampu membantai Real Madrid dengan skor telah 4-0. Entah karena tidak sedang berada dalam kondisi yang prima, atau Schmidt baru saja menemukan formula untuk menahan dan mengalahkan Atleti.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/krs)











































