Mourinho berhasil mengangkat piala pertama di Chelsea semenjak kepulangannya ke Stamford Bridge. Piala itu datang setelah setelah mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0 di final Piala Liga atau Capital One Cup.
Pada laga yang digelar di Stadion Wembley tersebut Chelsea menunjukan keperkasaanya. Mereka seolah sudah melupakan kekalahan menyakitkan 5-3 pada Januari lalu. Tidak dapat diperkuat pemain andalan di lini tengah, Nemanja Matic, juga tidak menjadi halangan karena gawang Petr Cech masih selalu aman sepanjang 90 menit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Manajer Tottenham, Mauricio Pochettino, sepertinya sengaja mengincar gol pembuka dengan menyerang sejak awal laga. Melalui para gelandangnya Spurs terus menekan lini pertahanan Chelsea. Dengan bertumpu kepada Christian Eriksen sebagai pusat permainan, mereka terus berusaha melakukan penguasaan bola sembari dengan cepat mengalirkan bola ke depan.
Taktik ini awalnya terlihat berhasil karena para gelandang Chelsea gagal membendung serangan Spurs. Kurt Zouma yang tampil sebagai gelandang bertahan menggantikan Matic karena hukuman kartu seolah bekerja sendirian.

[Kane beberapa kali turun menjemput bola]
Tekanan bertambah dengan Harry Kane yang beberapa kali ikut turun menjemput bola. Kane melakukan itu karena, walaupun mendominasi lini tengah, Spurs tetap kesusahan masuk ke area sepertiga akhir.
Hal tersebut terjadi karena Chelsea bermain sangat cair dalam pertukaran posisi di babak pertama. Sebenarnya hal itu biasa dilakukan Mourinho, terutama di trisula penyerang. Tetapi pada laga kali ini hal itu juga terjadi di sektor tengah. Akibatnya, hanya Zouma yang punya posisi tetap di tengah sebagai gelandang bertahan, sedangkan Ramires dan Fabregas ikut bergerak mencari ruang.
Tugas tambahan juga harus diemban Ramires untuk menjaga sisi kanan Chelsea yang terus mendapat serangan. Permainan agresif dari Danny Rose, bek kiri Spurs, yang menjadi penyebabnya. Sehingga ia terpaksa untuk banyak bersiaga di sisi kanan ketimbang tengah.

[Ramires berjuang melindungi sisi kanan pertahanan Chelsea]
Beruntung bagi Chelsea karena empat bek bekerja dengan sangat baik, bahkan sepanjang 90 menit. Hal inilah yang menyebabkan gawang Cech tetap tidak bisa dibobol. Padahal kesempatan Spurs untuk memenangkan laga sebetulnya hanya ada di babak pertama.
Pergantian Taktik Mourinho Babak Kedua
Ada perubahan taktik yang dilakukan oleh Mourinho selepas turun minum. Ia mampu memperbaiki kelemahan Chelsea pada babak pertama seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Keunggulan yang didapat pada babak pertama, melalui sepakan John Terry, menjadi modal berharga Mourinho di babak kedua, sehingga ia kini bisa sedikit lebih fokus membangun kinerja pertahanan.
Di lini tengah pembagian peran menjadi lebih rapi, dengan menduetkan Zouma bersama Ramires sebagai poros ganda. Sedangkan Fabregas berdiri di belakang Costa sebagai pengatur serangan. Sementara tiga penyerang di depan melakukan pressing terhadap para bek Spurs.
Cara ini tidak hanya membuat pertahanan Chelsea lebih kuat, tetapi juga membantu saat mereka sedang menyerang. Sebelumnya The Blues hanya mengandalkan serangan balik melalui bola cepat dan panjang langsung ke depan. Setelah penempatan Fabregas tadi, mereka mampu membangun serangan lebih rapi melalui bola-bola pendek dan mendominasi permainan.
Lini tengah mutlak menjadi milik Chelsea, itulah sebabnya mereka mampu menggandakan kedudukan. Selain itu, barisan pertahanan mereka sanggup menjaga gawangnya bukan hanya kebobolan tetapi juga tanpa tersentuh tembakan tepat sasaran pada babak kedua.
Bertumpu Pada Harry Kane
Gaya main kedua kesebelasan sebenarnya hampir sama saat pertemuan pertama keduanya di liga pada bulan Desember lalu. Saat itu Chelsea berhasil menang 3-0. Cara yang dipakai terutama oleh Spurs adalah dengan banyak mengandalkan serangan melalui Harry Kane.
Hal ini wajar karena penyerang muda Inggris ini memang menjadi mesin gol andalan Tottenham musim ini. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketergantungan ini menyebabkan Spurs kerap kesulitan jika Kane tidak dalam performa terbaik. Pada laga kali ini, ia gagal keluar dari kawalan John Terry dan Gary Cahill.
Padahal di kubu Spurs masih ada beberapa nama yang sebenarnya dapat diandalkan sebagai lini serang seperti Dany Rose atau Walker di sisi sayap. Sehingga Kane dapat lebih konsentrasi sebagai ujung tombak ketimbang terus turun menjemput bola.
Alasan ini juga sepertinya yang membuat Mourinho memilih memasang Zouma sebagai gelandang bertahan, dan bukan Cahill. Memercayakan beknya diisi pemain inti dan sedikit merelakan lini tengahnya kalah di awal laga.
Agak mengherankan kemudian ketika sistem penyerang tunggal Spurs ini justru memberikan bola pertama kepada Kane yang berposisi ujung tombak. Sedangkan pada gelandang yang dipasang di awal tidak memiliki kemampuan untuk mencetak gol. Sehingga kotak penalti Chelsea kerap kali terbebas dari pemain Spurs tiap kali mereka diserang melalui serangan balik.
Sebagai pembanding, saat pertemuan kedua di awal tahun ini, Spurs bermain berbeda. Kane terutama memang banyak bergerak, tetapi arahnya cenderung ke sayap dan bukan turun jauh ke tengah. Sehingga kondisinya tetap menekan pertahanan Chelsea dan para gelandang dapat bersiap untuk masuk ke kotak penalti.
Pochettino sempat memberi respons pada situasi tersebut. Ia memasukan Moussa Dembele dan Erik Lamela, gelandang yang diharapkan mampu meningkatkan agresivitas menyerang. Tetapi situasinya sudah terlambat karena Chelsea memimpin dua gol. Selain itu kemampuan Lamela terutama penyelesaian akhir sedang menurun akhir-akhir ini. Alasan itu juga yang menjadi penyebab ia sekarang kerap tampil sebagai pengganti.
Kesimpulan
Mourinho mampu menuntaskan dendamnya saat dipermalukan Spurs dengan skor 5-3 di pertemuan sebelumnya. Taktiknya terbukti berhasil membuat Pochettino gigit jari.
Kualitas sistem pertahanan akhirnya yang menjadi pembeda pada laga kali ini. Terry dkk mampu bermain dengan kordinasi yang apik sehingga membuat Harry Kanetak berkutik. Kondisi berbeda dialami oleh Spurs, dua gol yang bersarang berawal dari kesalahan para penjaga pertahanan.
Terry tidak terkawal di kotak penalti menerima bola muntah hasil intersepsi gagal Eric Dier saat situasi bola mati. Tendanganya membentur Kane sehingga gagal dijangkau oleh Hugo Lloris. Sementara gol kedua terjadi setelah tendangan Diego Costa dibelokkan oleh Kyle Walker di sudut sempit.
Spurs juga gagal memanfaatkan momentum yang baik di babak pertama. Saat mereka sanggup membuat beberapa peluang dan pertahanan Chelsea sedang terbuka di lini tengah.
Apresiasi tersendiri patut diberikan kepada barisan pertahanan Chelsea yang pada laga final kali ini berhasil tidak kebobolan, yang membuat pendukung Chelsea tidur nyenyak semalam. Sebab, selain menjuarai Piala Capital One pesaing mereka, Manchester City, kalah dari Liverpool.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(cas/a2s)











































