Cara Newcastle Redam MU Hingga Menit ke-89

Liga Inggris: Newcastle United 0-1 Manchester United

Cara Newcastle Redam MU Hingga Menit ke-89

- Sepakbola
Kamis, 05 Mar 2015 15:44 WIB
Cara Newcastle Redam MU Hingga Menit ke-89
Serena Taylor/Newcastle United via Getty Images
Jakarta -

Manchester United (MU) mencatatkan kemenangan keduanya secara beruntun setelah mengalahkan Newcastle United 1-0. Dalam pertandingan yang digelar di St. James Park pada Rabu (4/3/2015) dinihari WIB, MU mencetak gol di menit-menit akhir lewat kaki Ashley Young yang memanfaatkan kesalahan Tim Krul.

Seusai pertandingan, Louis van Gaal berkata bahwa kemenangan ini adalah permainan terbaik mereka sepanjang musim 2014/2015. Namun, data mengatakan bahwa permainan MU ini tak jauh berbeda ketika mereka menghadapi Sunderland pada laga sebelumnya.

Bahkan, 'Setan Merah' menciptakan lebih banyak peluang ketika menghadapi The Black Cats ketimbang malam tadi. Ya, pada laga ini United lagi-lagi terhambat masalah kreativitas dan menciptakan peluang. Tanpa kesalahan Krul, belum tentu para penggawa MU bisa membawa tiga peluang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, bagi Newcastle, hasil ini semakin menegaskan performa angin-anginan mereka setelah ditinggal bekas manajer, Alan Pardew. Dalam pertandingan semalam, Newcastle tidak diperkuat Massidio Haidara, Cheick Tiote, dan Remy Cabella yang cedera. Sementara Jack Colback yang masih menjalani hukuman kartu merah.

Ketidakhadiran Cabella mengurangi kekuatan lini serang mereka, khususnya dalam menciptakan peluang dan kecepatan. Manajer Newcastle, John Carver, mengakali hal ini dengan mengubah formasi 4-2-3-1 menjadi 4-4-2 dengan menduetkan Papiss Demba Cisse dengan Emmanuel Riviere. Pos fullback kiri yang biasa dihuni Dummet/Haidara digantikan oleh Ryan Taylor yang bermain taktis dengan menutup pergerakan Angel Di Maria dan Antonio Valencia.



MU Minim Kreativitas

Van Gaal kembali menurunkan komposisi yang berbeda. Ia menempatkan Wayne Rooney sebagai ujung tombak dalam formasi 4-3-2-1. Di lini tengah, Marouane Fellaini turun sejak menit pertama diapit oleh Ander Herrera dan Daley Blind. Sisanya, merupakan nama-nama yang juga diturunkan kala menjamu Sunderland pekan lalu.

Kehadiran Fellaini membantu mengalirkan bola ke lini serang. Ia menjadi perantara saat MU melakukan serangan cepat. Ruang kosong antara lini serang dan lini tengah ditutup dengan kehadiran Fellaini. Ia juga yang menjadi penyambung kedua sisi permainan MU. Selain masuknya Fellaini, tidak ada yang berubah, terutama dari cara bermain MU dalam laga-laga sebelumnya.

Angel Di Maria yang beroperasi di sisi kiri lebih sering menusuk ke tengah dan memberi umpan lambung ke dalam kotak penalti; sementara itu, Ashley Young dan Antonio Valencia lebih dominan menusuk lewat sisi untuk memberikan umpan silang.

Masalah MU dalam beberapa pertandingan ke belakang adalah mentoknya kreativitas kala membangun serangan. MU kesulitan untuk tidak menyerang lewat kedua sisi, lewat umpan-umpan silang. Padahal, dua hal tersebut sudah diantisipasi oleh lini pertahanan Newcastle.


[umpan sepertiga akhir MU]

Dua pemain sayap Newcastle, Sammy Amoebi dan Gabriel Obertan menjaga di kedua sisi. Mereka bermain disiplin dengan menjadi benteng pertama yang harus dihadapi Young, Di Maria, dan Valencia sebelum berhadapan dengan fullback Newcastle.

Umpan silang maupun umpan lambung ke kotak penalti Newcastle terbilang aneh. Pasalnya, selain Fellaini, tidak ada penyerang maupun gelandang serang yang lebih tinggi dari dua bek Newcastle, Fabio Collocini dan Michael Williamson. Sulit bagi MU untuk mengandalkan sundulan dalam membuat peluang.

Dari grafis di atas, terlihat MU beberapa kali berhasil mengirimkan umpan ke depan kotak penalti. Namun, bukan itu yang menjadi sorotan. Terlihat grafis dan alur umpan MU yang tertahan di tengah, lalu dialirkan ke kedua sayap. Sisi kanan serangan MU terlihat lebih padat dibandingkan dengan sisi kiri.


[take-ons Di Maria, Young, dan Valencia]

Di sayap tersebut, Valencia aktif membantu serangan. Hal ini juga terbantu oleh permainan Di Maria yang lebih agresif. Saat bola sudah menuju area sayap, tiga pemain tersebut mencoba untuk melewati lawan. Young berhasil sekali dari tiga percobaan; Valencia dua kali sukses dari empat percobaan; dan Di Maria tiga kali sukses dari delapan percobaan. Jumlah take ons ketiga pemain tersebut (15 kali) hampir setengahnya dari total 36 kali take ons yang dilakukan oleh pemain MU.

Namun, hampir tidak ada yang benar-benar membahayakan gawang Newcastle yang dikawal Tim Krul dengan mayoritas peluang emas MU didapat dari umpan terobosan dari lini tengah.

Penurunan Agresifitas

Secara statistik, agresifitas serangan MU menurun ketimbang saat melawan Sunderland, Sabtu (28/2/2015) lalu. Menghadapi The Magpies, julukan Newcastle, MU hanya melepaskan 11 attemps, sementara kala menghadapi Sunderland, MU mencatatkan 30 attemps.

Ini terjadi karena Newcastle tidak terus-terusan bertahan. Sesekali mereka melakukan serangan balik yang membuat MU tidak bisa total menyerang. Strategi Carver yang menempatkan dua penyerang yang menunggu di lini depan, Papiss Demba Cisse - Emmanuel Riviere, sudah cukup untuk mengacaukan rencana Chris Smalling dan Jonny Evans untuk lebih agresif melakukan serangan.

Peran Perez dan Gouffran

Dari grafis di bawah terlihat bahwa sebanyak 25 dari 94 umpan Newcastle ke area sepertiga akhir, dilakukan dari area pertahanan sendiri. The Magpies mencoba memaksimalkan serangan balik, baik lewat Gabriel Obertan maupun dikirimkan langsung pada Riviere atau Cisse. Sayangnya, sejumlah peluang emas baru muncul pada babak kedua setelah Ayoze Perez dan Yoan Gouffran masuk.


[umpan sepertiga akhir Newcastle]

Contohnya adalah pada menit ke-68 saat Ayoze Perez berhasil merebut bola yang dikuasai Herrera. Saat melakukan serangan balik, Perez punya dua pilihan. Ia bisa menuntaskannya sendiri, atau memberi umpan pada Cisse.

Semalam, Perez lebih memilih untuk mengumpan pada Cisse, karena hanya ada Evans di lini pertahanan MU. Saat Evans mengejar Perez, ia pun mengirim umpan pada Cisse yang tak terkawal. MU beruntung karena sepakan Cisse masih melebar.


[36 sapuan (clearence) MU]

Serangan balik cepat Newcastle pun membuat pertahanan MU goyah. Ini terlihat dari 36 sapuan (clearence) yang dilakukan MU berbanding 23 sapuan Newcastle. Angka ini terbilang tinggi, karena MU sebenarnya jauh lebih banyak menguasai bola dengan 553 umpan, 742 sentuhan, dan 62% penguasaan bola.

MU Bermain Lambat

Sama halnya saat menjamu Sunderland, pertandingan MU menghadapi Newcastle juga terkesan kering. Hampir tidak ada sesuatu yang berbeda baik secara taktik maupun dari gaya bermain.

Dalam enam pertandingan terakhir, Van Gaal mematangkan formasi dengan empat bek. Ketika menyerang, serangan MU lebih dominan dari kedua sisi. Namun, setelah mencapai area kotak penalti lawan, bola dikembalikan ke tengah, dan dipindahkan ke sisi yang lain.


[grafis tekel: kiri: Newcastle; kanan: Manchester United]

Cara seperti ini membuat lawan bisa menata ulang kembali pertahanan. MU juga seperti kesulitan melakukan skema serangan balik. Minimnya dukungan serta pemain yang membuka ruang, membuat bola kembali ditahan di tengah, dan dikembalikan ke belakang.

Hal ini sebenarnya senada dengan kecenderungan musim ini. Dari seluruh tim di EPL musim ini, Man United menjadi tim yang paling sering melakukan backpass yaitu sebanyak 442 kali.

Salah satu contohnya saat tendangan Young bisa ditahan Krul pada menit ke-54. Awalnya, tendangan Fellaini memaksa Krul menjatuhkan diri untuk menepis bola di area tengah gawang. Bola yang ditepis mengarah ke Young yang bebas tak terkawal. Anehnya, Young tidak langsung menyosor bola tersebut, melainkan menunggu bola datang ke arahnya, dan mengontrolnya untuk beberapa saat. Ini memberikan Krul cukup waktu untuk menutup ruang tembak Young.

Kesimpulan

MU kembali tidak menyuguhkan permainan yang mengesankan. Mereka bermain seperti tanpa kreativitas karena pola permainan yang itu-itu saja. Pemanfaatan serangan lewat sayap, akan mudah dipatahkan saat lawan sengaja menempatkan pemain yang khusus menjaga daerah tersebut.

Ini bisa menjawab mengapa serangan Newcastle diarahkan ke kanan. Pasalnya, sayap kiri The Magpies yang dihuni Shoela Amoebi diinstruksikan untuk tetap berada di tempat untuk mengantisipasi ancaman yang ditebar Di Maria, Valencia, dan Adnan Januzaj.

Kedua fullback Newcastle yang dihuni Taylor dan Daryl Janmaat pun terlihat pasif saat membantu serangan. Mereka tak ingin kecolongan jika MU melakukan serangan balik memaksimalkan area sayap.

Menempatkan dua pemain di lini serang, merupakan upaya yang bagus dari Newcastle. Keduanya bisa mengganggu konsentrasi bek MU yang ingin naik membantu serangan.

Serangan MU jauh lebih efektif saat mengandalkan umpan terobosan. Sayangnya, Rooney dan kolega enam kali terjebak offside karena penempatan posisi dan waktu dilepaskannya umpan yang tidak tepat.

Gol yang dicetak MU juga tak lain karena kesalahan fatal Tim Krul. MU hanya berkontribusi memberikan pressing pada bek Newcastle yang terlalu lama membawa bola. Krul yang punya opsi untuk membuang bola ke depan, nyatanya malah mengirimkan β€œumpan” datar yang dengan sempurna dikonversi Young menjadi gol.

Van Gaal punya tugas yang berat untuk meningkatkan penampilan anak asuhnya. Bukannya apa-apa, MU akan menghadapi lawan tangguh dalam sisa pertandingan di musim ini. Tottenham Hotspur, Liverpool, Manchester City, Chelsea, dan Arsenal, sudah siap menjegal MU. Jika MU masih mempertontonkan permainan yang sama, sulit rasanya bagi MU untuk terus bertahan di zona Liga Champions, mengingat permainan stabil yang ditunjukkan Tottenham, Arsenal, dan Liverpool.








(din/mrp)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads