Setelah memimpin terlebih dahulu melalui go Miroslav klose pada menit ke-33, Lazio gagal mempertahankan keunggulan di babak kedua.Di babak kedua Napoli sanggup mencetak gol balasan melalui Manolo Gabbiadini pada menit ke-57.
Kedua kesebelasan sendiri turun dengan susunan pemain utama yang mengalami beberapa rotasi. Terutama di masing-masing penjaga gawangnya. Etrit Berisha dipercaya menjaga gawang Lazio menggantikan Federico Marchetti, sedangkan Mariano Andujar menggeser Rafael Cabral di posisi kiper Napoli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di kubu Napoli, Marek Hamsik dan Jose Callejon disimpan di bangku cadangan. Rafael Benitez lebih memilih Jonathan de Guzman dan Gabbiadini untuk menemani Gonzolo Higuain dan Dres Mertens di lini penyerangan. Sementara di posisi bek kanan, Benitez lebih memilih Mesto ketimbang Henrique, pemain yang biasanya justru dipercaya mengisi pos sisi kanan pertahanan.

Lazio Kuasai Lini Tengah
Peran para pemain tengah Lazio berhasil memaksa Napoli terus menyerang melalui sisi kiri. Situasi itu terjadi sebagai akibat dari klopnya kerja sama Luca Biglia dan Danilo Cataldi di lini tengah. Kedua pemain tersebut sering membantu bek Elang Super mengantisipasi serangan lawan.
Biglia, sesekali Cataldi, juga yang menjadi awal serangan Lazio ketika hendak melalukukan tekanan. Bahkan Biglia menjadi pemain Lazio yang paling banyak menyentuh dan mengoper bola. Gelandang Argentina itu 103 kali menyentuh bola dan 90 kali mengoper si kulit bundar. Akurasi operan suksesnya pun mencapai rataan 88,9%.
Efektifitas Biglia di lini tengah inilah yang mempermudah tugas Parolo sebagai jembatan antar lini Lazio. Kerjasama antara Biglia dan Parolo inilah yang membuat suplai bola kepada Felipe Anderson maupun Candreva cukup berlimpah.
Sedangkan Napoli sendiri kurang berkembang saat menyerang. Upaya mereka yang banyak menyerang dari kiri kurang mampu diemban dengan baik oleh Mertens. Penyerang sayap asal Belgia tersebut yang ditempatkan di sisi kiri ini sering mengalami kebuntuan ketika masuk pertahanan Lazio. Bola yang sampai di kakinya jarang bisa dihantarkannya masuk ke dalam kotak penalti Lazio. Mertens lebih cenderung membolak-balikan bola ke belakang.
Mertens selalu mendapat kawalan Dusan Basta, bek kanan Lazio. Basta ini berperan penting dalam mengunci serangan dari sisi kiri. Bukan dengan cara terus diam di pertahanan, justru dengan kerap naik membantu serangan. Agresivitas Basta naik menyerang ini yang memaksa Faouzi Ghoulam, fullback kiri Napoli yang berada di belakang Martens, sering terlambat membantu Mertens ketika menyerang.
Penguasaan lini tengah oleh Elang Super pun berdampak kepada bergesernya posisi de Guzman dan Gabbiadini yang bertugas mengawal lini tengah Napoli. Kedua gelandang tengah Napoli tersebut jarang melakukan tusukan-tusukan di sisi kanan tapi malah lebih sering bermain ke tengah.
Akan tetapi, bedanya dengan Mertens, mereka berdua lebih berani masuk ke dalam sepertiga akhir lawan. Itu yang tidak bisa dilakukan oleh Mertens di sisi kiri penyerangan Napoli.
Keberhasilan Lazio Memanfaatkan Kelengahan Napoli
Mengantisipasi tekanan yang terus dilancarkan tuan rumah, Napoli sendiri hanya bermain bertahan. Dari posisi bertahan itulah kemudian mereka mencoba melakukan serangan balik begitu mendapatkan bola.
Serangan-serangan Lazio seringkali dimudahkan oleh dua poros ganda Napoli, Gohkan Inler dan Diego Lopez, bisa dibilang kurang efektif melindungi pertahanan. Lazio mudah menembus lini tengah Napoli sehingga mereka bisa langsung berhadapan dengan para pemain bertahan. Baik Inler maupun Lopez kerap terpancing naik jauh ke depan ketika Napoli melancarkan serangan balik. Termasuk Giandomenico Mesto sebagai fullback kanan yang sering terlambat turun usai melakukan serangan balik.
Karena poros ganda sering naik, maka barisan pertahanan pun harus ikut naik, supaya tidak terlalu luas jurang antara barisan pertahanan dengan gelandang. Menjadi sangat bermasalah ketika serangan balik dibalas oleh serangan balik, apalagi saat pemain-pemain gelandang Napoli sering terlambat turun.
Akibatnya Lazio pun bisa mencetak gol di menit ke-33. Gol yang dicetak oleh Klose itu terjadi karena Napoli termakan strategi serangan baliknya sendiri.
Gol itu dimulai oleh keberhasilan Parolo memotong aliran bola Napoli yang diarahkan kepada Felipe Anderson. Dengan cepat, pria Brazil itu masuk ke dalam pertahanan Napoli dan tak bisa dikejar Inler yang terlambat turun. Ditunjang oleh Mesto di sisi kanan yang juga terlambat turun. Dengan mudah Anderson mengirim umpan kepada Klose di dalam kotak penalti. Gol. 1-0.

Gambar serangan balik Napoli mudah dipatahkan dan terpancing permainan Lazio. Kecepatan serangan Lazio tidak mampu diimbangi pertahan Napoli yang bermain dengan garis pertahanan tinggi.
Keberanian Napoli Bangun Serangan
Setelah kebobolan, intensitas serangan yang dibangun Napoli mulai meningkat. Inler dkk., membangun serangan dengan lebih cepat dan efektif. Bola tidak terlalu lama-lama ditahan di sektor belakang tapi langsung dengan cepat dialirkan ke depan, terutama melalui kedua sayap mereka, de Guzman dan Mertens yang kadang ikut turun ke bawah.
Para pemain Napoli juga menyadari soliditas para pemain tengah Lazio. Untuk mengatasi soliditas lini tengah Lazio, para pemain Napoli tidak memaksakan diri untuk terus mencoba membongkar pertahanan lawan. Di momen-momen tertentu, jika memang sangat sulit menembus dengan umpan pendek, mereka lebih berani membuat keputusan melepaskan tendangan-tendangan jarak jauh dan umpan-umpan panjang ke depan.
Selain meningkatkan intensitas serangan, tekanan yang dilakukan Napoli kepada pemain lawan juga semakin rapat. Partenopei sudah melakukan percobaan merebut bola sejak dario wilayah Elang Super sendiri. Inilah yang membuat para pemain Lazio tertekan di wilayahnya sendiri. Kesebelasan besutan Pioli ini menjadi sulit mengembangkan permainannya. Keadaan pun menjadi berubah, malah si Elang Super yang kini mengandalkan serangan balik.
Lini depan yang terlalu mengandalkan Anderson pun sudah mulai terbaca Napoli. Pemain bernomor tujuh itu sangat sulit lepas dari pengawalan Diego Lopez. Untuk melepaskan dari kawalan lawan, Anderson dan Candreva kemudian saling dan sering bertukar posisi.
Serangan Napoli Andalkan Gabbiadini
Pembelian Gabbiadini di bursa transfer Januari memang hal yang tepat bagi Partenopei. Serangan Napoli amat bergantung kepada mantan pilar Sampdoria ini. Ia mampu menghidupkan sisi lain serangan Napoli ketika sektor lain terkunci, terutama ketika sektor kanan dan tengah dimatikan Stefan Radu dkk.
Gabbiadini mencoba membongkar kebuntuan itu dengan melakukan tusukan-tutukan ke dalam pertahanan Lazio. Penetrasi yang dilakukannya bertujuan untuk memberikan suplai bola kepada Gonzolo Higuain. Sayangnya penyelesaian akhir penyerang Argentina itu tidak terlalu bagus.
Kendati sering mentok dalam penyelesaian akhir, inisiatif, Gabbiadini ini setidaknya lebih berhasil membuka ruang. Pergerakan-pergerakan Gabbiadini kadang sulit diantisipasi oleh para bek lawan.
Gol penyama kedudukan dari Napoli juga lahir dari situasi ini, dari keberhasilan membuka ruang di pertahanan Lazio. Gabbiadini berhasil memanfaatkan ruang di pertahanan Lazio yang muncul karena para pemain Lazio terlalu fokus menjaga Higuain.

Gambar para pemain Lazio yang terlalu fokus kepada penjagaan Higuain, sedangkan Gabbiadini berhasil membuka ruang.
Kesimpulan
Kedua kesebelasan saling meladeni pola permainan lawannya secara seimbang. Sehingga pertandingan bisa berjalan dengan cepat, agresif dan atraktif.
Soliditas lini tengah Lazio berhasil membuat mereka menguasai 30 menit awal pertandingan. Dari situlah mereka bisa lebih dulu mencetak gol melalui Klose.
Setelah kebobolan, permainan Napoli berubah menjadi lebih agresif. Mereka berani menekan hingga pertahanan lawan, sehingga menyulitkan Lazio mengembangkan permainan. Para pemain asuhan Pioli tidak bisa lagi leluasa membangun serangan dari belakang. Dampak paling kentara adalah Anderson dan Candreva terpaksa lebih turun ke bawah untuk mendapatkan bola.
Sayangnya penyelesaian akhir Napoli belum maksimal. Banyak peluang yang terbuang sia-sia. Sebanyak 15 kali percobaan tendangan ke gawang mereka lakukan selama 90 menit. Hanya satu yang berbuah gol.
Hasil seri di kandang sendiri ini tentu memberatkan Lazio di pertemuan kedua. Apalagi mereka juga kebobolan di kandang sendiri yang membuat Napoli unggul sedikit karena sudah berhasil mencetak gol di kandang lawan.
(din/raw)











































